Kecil Itu Indah 2.0

Melalui “Small Is Beautiful: Economics as If People Mattered (1973)”, E.F. Schumacher menyampaikan gagasan yang romantiknya tentang ekonomi berskala kecil. Ia menyebutnya “Buddhist Economy”. Ekonomi yang memanusiakan manusia dan menolak keserakahan.

Buku yang dikelompokkan di antara 100 buku paling berpengaruh yang diterbitkan sejak Perang Dunia II ini, adalah antitesis terhadap “gigantisme”, dan globalisasi yang ditandai dengan kejayaan perusahaan-perusahaan lintas negara yang “super efisien”.

Hingga awal abad ke-21, gagasan Schumacher sepertinya akan tersingkir untuk selama-lamanya, sampai akhirnya sejumlah krisis – termasuk Pandemi Covid-19 – mulai menunjukkan kerapuhan berbagai perusahaan-perusahaan besar itu.

Sains, sebetulnya, telah menunjukkan pada kita bahwa sebuah sistem yang berkelanjutan tidak mungkin melulu mengandalkan pada efisiensi. Justru di saat krisis, usaha-usaha kecil yang “super resilien”, merupakan penyelamat dari keruntuhan sistem secara keseluruhan.

Inikah saatnya kebangkitan kembali gagasan Schumacher?

Belajar Kepemimpinan dari Epictetus: “Budak” Paling Berpengaruh di Dunia

Kebijaksanaan yang dibutuhkan oleh para pemimpin sejati, tidak bisa diperoleh secara instan. Mempelajarinya butuh proses panjang.

Salah satu pelajaran tersebut berasal dari Epictetus, seorang “budak” yang pandangannya telah mempengaruhi banyak tokoh dunia – mulai dari Kaisar Roma Marcus Aurelius, Descartes hingga para pemimpin politik seperti Thomas Jefferson dan Theodore Roosevelt.

Pelajaran Epictetus juga menjadi inspirasi bagi James B. Stockdale, pilot angkatan laut AS ketika ditahan dan disiksa selama 7 setengah tahun sebagai tahanan perang Vietnam (1965-1973).

Alat Tukar Komplementer Sebagai Solusi Krisis (III): Mengapa Mata Uang Konvensional “Gagal” Menciptakan Kesejahteraan?

Tak banyak yang menyadari bahwa mata uang konvensional yang kita kenal saat ini, memiliki kelemahan intrinsik yang disebabkan karena penggunaan bunga (interest).

Pertama, ia menciptakan kompetisi dan memunculkan pihak yang kalah.

Kedua, mendorong pertumbuhan tiada akhir dan mengancam kelangsungan planet bumi.

Ketiga, menyebabkan akumulasi dan ketimpangan sosial.

Bagaimana bisa? Simak penjelasannya di sini.

Alat Tukar Komplementer Sebagai Solusi Krisis: Mempertimbangkan Kembali Gagasan “Di Luar Kotak” Mendiang Bernard Lietaer

Pada setiap krisis, sirkulasi mata uang menjadi tersendat dan menyebabkan berbagai persoalan sosial.

Solusi konvensional adalah dengan memompa anggaran terbatas melalui jaring pengaman sosial dan berbagai program afirmatif lainnya.

Bernard Lietaer, punya solusi yang tidak konvensional melalui alat tukar komplementer. Cara ini sudah terbukti sukses di berbagai negara dan sudah ada sekitar 4000-an jenis yang beroperasi.

Menurut mantan Trader Top Dunia versi Business Week ini, alat tukar komplementer tertua justru lahir di Bali.

Alat Tukar Komplementer Sebagai Solusi Krisis (II): Eksperimen Singkat Mata Uang Berbunga Negatif dari Sebuah Kota Kecil di Austria

Tahun 1932, ketika depresi besar sudah melanda dunia, Michael Unterguggenberger, Walikota Wörgl bereksperimen dengan mata uang komplementer.

Diberi nama “Stamp Scrip” mata uang itu berbunga negatif. Siapapun yang memegangnya terlalu lama justru akan merugi.

Tapi, dampaknya luar biasa. Stamp Scrip bersirkulasi dengan cepat, meningkatkan perdagangan dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

Sayang, eksperimennya tak bertahan lama. Diberangus Bank Sentral Austria. Kekacauan sosial pun melanda.

Kuasa dan Puasa

Dari Tolstoy Farm yang didirikannya di Afrika Selatan, di tahun 1920, Mahatma Gandhi bereksperimen dengan puasa.

Sebagai sarana pengendalian diri dan juga sebuah metode gerakan politik anti-kekerasan yang sangat ‘powerful’.

Dengan itu ia kemudian berperan penting dalam kemerdekaan bangsanya, dan dikenal sebagai Bapak Bangsa di India.

Entah kapan dan di mana persisnya bermula. Puasa, ternyata telah dikenal sejak dahulu kala di dalam setiap tradisi budaya dan agama.

Mereka umumnya percaya bahwa puasa dapat memberikan kekuatan bagi yang menjalankannya.

Semua Orang adalah VIP

Mendapatkan dukungan dari orang lain, adalah seni amat penting dan relevan di hampir semua bidang kehidupan. Tapi, tak semua orang mampu menguasainya.

Bakat? Tidak juga.

Tokoh sekaliber Abraham Lincoln sekalipun, harus mengalami pengalaman memalukan di awal karir politiknya – sebelum menyadari kekeliruannya, lalu mengubah pendekatannya.

Rahasianya sederhana: Perlakukan semua orang sebagai VIP!

Bagaimana caranya? Itulah intisari dari sebuah buku jadul terbitan tahun 1936, yang oleh investor legendaris Warren Buffet, diakui telah berhasil mengubah hidupnya.

Mengubah Krisis Menjadi Peluang

“Ketika dituliskan dalam karakter China, kata ‘krisis’ terdiri dari dua bagian – yang satu mewakili bahaya, dan yang satu lagi mewakili kesempatan,” demikian ungkap Presiden AS John F. Kennedy dalam pidatonya di tahun 1959 yang sangat terkenal.

Ada banyak kisah bagaimana para tokoh dunia mengubah krisis menjadi peluang untuk berkembang dan berhasil.

Nelson Mandela melakukannya. Soekarno merenungkan Pancasila saat dibuang ke Ende. Pramoedya Ananta Toer menghasilkan karya monumental “Bumi Manusia” ketika berada dalam status tahanan di Pulau Buru.

Bagaimana mereka melakukannya? Kuncinya ada dalam pilihan, yang sebenarnya sudah tersedia dalam diri kita sendiri.

Harvard Business School tentang Manajemen Krisis Covid-19: “Tak Ada Jawaban Terbaik, Yang Ada Proses Terbaik”

“Krisis Covid-19 ini berada di luar kapasitas, sumber daya dan pengetahuan kita,” ungkap Profesor Dutch Leonard dan Profesor Bob Kaplan dalam kursus singkat tentang “Manajemen Krisis bagi Para Pemimpin” yang diselenggarakan Harvard Business School baru-baru ini.

Kita berada dalam situasi yang berubah dengan cepat, di bawah tekanan serta diliputi dengan ketakutan. “Inilah yang dinamakan krisis kepimpinan. Inilah yang disebut dengan the new normal (keadaan “normal” yang baru).”

Dalam situasi krisis yang belum pernah ada presedennya, tak ada jawaban pasti yang siap pakai dan dapat digunakan dalam berbagai situasi. “Yang dapat kami tawarkan adalah proses terbaik,” ungkap Profesor Leonard.

Proses dan langkah-langkah yang mereka tawarkan dapat dibaca dalam tulisan ini.

Bersyukur dan Melihat Kebaikan di Balik Setiap Situasi

Hidup sederhana dan menjalankan kebajikan itu bukan teori belaka. Saya beruntung menyaksikan contoh nyata di lingkungan keluarga terdekat saya.

Jauh sebelum saya belajar tentang psikologi, filsafat serta agama, ayah saya Johanes Albert Tuturoong (22 Februari 1942 – 3 November 2010) telah menjalani kehidupan yang sederhana. Sampai akhir hayatnya.

Sepengetahuan saya, ia tidak pernah belajar filsafat secara formal. Tapi, tiga prinsip dalam hidupnya adalah: menjunjung tinggi etika, selalu bersyukur dengan melihat kebaikan di balik setiap situasi, dan mengoptimalkan peluang apapun yang tersedia di hadapannya.

Pelajaran dari Marcus Aurelius dan Kaum Stoa Ketika Badai Krisis Tiba

Marcus Aurelius adalah Kaisar Roma legendaris yang dikenal karena kebijaksanaannya.

Di masa hidupnya, ia menghadapi berbagai krisis besar. Salah satunya Wabah Antoninus yang merenggut 5 juta jiwa bangsa Romawi.

Menghadapi krisis yang demikian ia menawarkan sebuah metode berpikir dan cara pandang yang menarik dan relevan untuk kita.

Cara pandangnya berakar dari Stoikisme, yang menempatkan kebajikan sebagai hal tertinggi yang harus dipraktekkan dalam segala situasi.

Membangun Ketahanan Mental-Emosional Di Saat Krisis

“Logika membuatmu berpikir, emosi membuatmu bertindak,” kata Alan Weiss, konsultan senior ternama.

Dalam keadaan krisis, rasionalitas cenderung tidak bekerja dengan baik. Yang lebih banyak berperan adalah emosi, khususnya yang negatif: Takut atau panik.

Tulisan ini mengajak kita memahami pendekatan untuk mengatasinya, secara taktis maupun strategis.

Salah satunya, melalui perencanaan atau simulasi mental.

The Art of War: Membedah dan Mengadopsi 15 Elemen Strategi Sun Tzu

Banyak pihak menyebut The Art of War sebagai salah satu buku terpenting dalam hal strategi. Meskipun, sesungguhnya, tidaklah mudah menyarikan dan menyimpulkan karya klasik ini.

Sebabnya, buku yang terdiri dari 13 bab ini memang tidak ditulis dalam struktur dan sistematika yang mudah dipahami masyarakat modern.

Tulisan ini, adalah upaya membedah elemen-elemen strategi dalam The Art of War. Sehingga memudahkan pembaca untuk menerapkannya dalam konteks yang berbeda-beda. Berstrategi dalam kehidupan sehari-hari.

Covid-19 dan Bagaimana Seharusnya Menghadapi Ketakutan

Akibat Covid-19 pasar saham global mengalami minggu terburuk sejak krisis keuangan tahun 2008. Ini mencerminkan ketakutan yang meningkat terhadap bencana ekonomi.

Meskipun laporan Tim WHO yang diturunkan ke Cina menunjukkan bahwa angka pasien yang terkena penyakit ini terus menurun, namun fenomena ketakutan masih dominan mewarnai berbagai pembicaraan di ruang publik.

Apa yang perlu kita ketahui tentang ketakutan secara saintifik dan bagaimana sebaiknya menghadapinya, secara sosial maupun individual?

Bagaimana Keluarga Medici Menciptakan Lingkungan yang Progresif?

Salah satu pencipta lingkungan inkubator terkeren dalam sejarah adalah Keluarga Medici, yang sangat berpengaruh dalam era kebangkitan Eropa atau The Renaissance sejak abad ke-14.

Leonardo da Vinci, Michaelangelo dan Galileo Galilei adalah nama-nama yang muncul karena tradisi dan lingkungan yang diciptakan oleh Keluarga Medici.

Siapa sangka diskusi santai para pemikir yang didanai Medici, kemudian bisa mempengaruhi berbagai perubahan besar. Mulai dari reformasi gereja hingga pendirian berbagai universitas terkenal di dunia Barat.

Kaitan Antara Pengendalian Emosi dan Kesuksesan Material

Dari sekian banyak kecakapan penting di tempat kerja, kecerdasan emosional adalah yang paling bisa digunakan untuk memperkirakan kinerja seseorang.

Kecerdasan emosional berperan hingga 58% dari kinerja setiap orang, dan bahwa 90% orang-orang berkinerja terbaik memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.

Yang paling menarik, mereka yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi rata-rata memiliki penghasilan tahunan 29 ribu dolar AS lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang kecerdasan emosionalnya rendah.

Menyingkap Kepentingan di Balik “Framing” atas Informasi

Pengetahuan tentang “framing” penting untuk memahami bahwa ada berbagai kepentingan di balik setiap informasi. Tidak ada yang bebas kepentingan.

Seseorang yang mengaku bebas kepentingan pun tak lepas dari kepentingan – setidaknya kepentingan supaya “diakui” bahwa dia tak punya kepentingan, dan juga kepentingan “nilai” (bisa agama, moral atau lainnya) di balik sikapnya itu.

Lalu, bagaimana sebaiknya bersikap menghadapi berbagai framing?

Syarat Terpenting Menjadi “Problem-Solver” yang Efektif

Disrupsi sedang terjadi di berbagai sektor. Perubahan yang terjadi dengan cepat dan “disruptif” secara natural akan mendatangkan berbagai tantangan atau masalah – yang dengan sendirinya membutuhkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Future Jobs Report 2018 yang dirilis World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa sejumlah keterampilan baru (emerging skills) yang dibutuhkan di masa depan terkait erat dengan kemampuan menghadapi berbagai tantangan atau masalah baru.

Mengapa Inkubasi Penting untuk Menciptakan SDM Unggul?

Duapuluhlima tahun dari sekarang, Indonesia akan mencapai 100 tahun kemerdekaannya di tahun 2045.

Apakah Indonesia akan menjadi Negara Maju atau tidak sangat ditentukan oleh apa yang dibangun dan dilakukan saat ini.

Bagi pemuda-pemudi yang saat ini berusia 20-an tahun, mereka kelak akan berada di usia matang dan memegang posisi-posisi kunci.

Namun, semua itu akan tergantung dari proses inkubasi semacam apa yang dilalui.

Bagaimana “Intelektualisasi Bisnis” Berperan dalam Kebangkitan dan Keterpurukan Korporasi Modern?

Kita mengetahui bahwa rasionalitas telah membangkitkan Eropa dari era kegelapan menuju era kejayaan. Namun, belum banyak yang membahas bagaimana “rasionalitas” telah menjadikan perusahaan-perusahaan kelas dunia melesat meninggalkan para kompetitornya, baik dari segi aset, penerimaan maupun pangsa pasar.

Wajar demikian, sebab “intelektualisasi bisnis” sesungguhnya merupakan fenomena yang relatif baru. Dimulai di tahun 1960-an, yang ditandai dengan munculnya sejumlah firma atau perusahaan-perusahaan konsultan ternama, seperti Boston Consulting Group (BCG), Bain & Company dan kemudian McKinsey…

Learning Organization

Berorganisasi atau berkelompok itu penting agar apa yang kita lakukan lebih efektif, berdampak lebih besar.

Namun, jangan berhenti di situ. Pada saat yang sama, kemampuan dan kecerdasan anggota kelompok harus terus ditingkatkan…

Bagaimana Membangun Kekuatan dan Mengelola “Kekuasaan” Menurut Game Theory?

Mengapa kita perlu belajar membangun kekuatan dan mengelola kekuasaan?

Merupakan fakta bahwa hasrat manusia untuk berkuasa – dan mengalahkan yang lain – masih akan terus terjadi, maka suka atau tidak, kita semua akan dengan mudah terseret dalam pusaran atau lebih tepatnya “pertarungan” kekuatan.

Pemahaman mendasar tentang permainan kekuasaaan penting kita miliki, agar tidak menjadi obyek atau terinjak-injak para gajah yang sedang bertarung.

Era Perang Tercanggih, Yaitu Perang Persepsi, Sudah Terjadi Saat Ini!

Selama ratusan tahun hingga abad XVIII perang seringkali dilakukan dengan tujuan untuk menghabisi lawan (annihilation).

Namun “Perang Tujuh Tahun” (1756-1763) yang legendaris menjadi salah satu pembuka mata bahwa perang tidak harus dilakukan dengan cara yang demikian.

Saat ini, era perang baru sudah terjadi. Mesin-mesin perang canggih menjadi sangat menakutkan dan efektif ketika berhadapan dengan musuh yang jelas posisi titik koordinatnya.

Tapi menghadapi musuh yang bergerak cepat di antara masyarakat sipil dan menyebarkan ide melalui internet ke ruang-ruang percakapan pribadi, alat-alat perang itu tak bisa berbuat apa-apa.

Inilah perang persepsi.

Perang untuk menguasai alam pikir sekelompok manusia yang dijadikan target untuk ditaklukkan.

Pos Blog Pertama Saya

“Menulis blog, mungkin, bisa membuat orang-orang melupakan jejak digital kita yang memalukan dan tak bisa dihapus. Tapi tentu itu bukan yang utama.”

— dino s.

Belajar Kepemimpinan dari Epictetus IV: Membaca Enchiridion (34-53) – Selesai

Jarang-jarang ada buku filsafat dalam bentuk “pedoman praktis” seperti Enchiridion – yang artinya memang buku pedoman.

Beruntung Arrian, murid Epictetus menyajikannya untuk kita dan terbukti mampu menginspirasi banyak pemimpin dunia,

Seperti halnya pedoman atau manual lain yang ada – misalnya manual menyetir mobil – Anda tidak akan bisa menguasai keahlian yang diajarkan dalam sebuah manual hanya dengan membacanya. Praktek tetap harus dilakukan.

Belajar Kepemimpinan dari Epictetus III: Membaca Enchiridion (22-33)

Jarang-jarang ada buku filsafat dalam bentuk “pedoman praktis” seperti Enchiridion – yang artinya memang buku pedoman.

Beruntung Arrian, murid Epictetus menyajikannya untuk kita dan terbukti mampu menginspirasi banyak pemimpin dunia,

Seperti halnya pedoman atau manual lain yang ada – misalnya manual menyetir mobil – Anda tidak akan bisa menguasai keahlian yang diajarkan dalam sebuah manual hanya dengan membacanya. Praktek tetap harus dilakukan.

Belajar Kepemimpinan dari Epictetus II: Membaca Enchiridion (1-21)

Jarang-jarang ada buku filsafat dalam bentuk “pedoman praktis” seperti Enchiridion – yang artinya memang buku pedoman.

Beruntung Arrian, murid Epictetus menyajikannya untuk kita dan terbukti mampu menginspirasi banyak pemimpin dunia,

Seperti halnya pedoman atau manual lain yang ada – misalnya manual menyetir mobil – Anda tidak akan bisa menguasai keahlian yang diajarkan dalam sebuah manual hanya dengan membacanya. Praktek tetap harus dilakukan.