Seneca tentang Singkatnya Kehidupan dan Bagaimana Menjalani Hidup Tanpa Bergantung pada Nasib

Seneca, Plato dan Aristoteles dalam ilustrasi manuskrip abad pertengahan

Seneca, salah satu legenda Stoikisme, menulis ratusan karya semasa hidupnya. Namun, salah satu yang menurut saya paling “kuat” adalah De Brevitate Vitae  (On The Shortness of Life, “tentang singkatnya kehidupan”). Esai yang ditulis sekitar tahun 49 Masehi ini – kemungkinan sebelum ia diminta oleh Agrippina, ibunda Nero Muda untuk menjadi tutor Sang Calon Kaisar di tahun yang sama – ditujukan kepada Pompeius Paulinus pejabat penting di kota Roma, yang kemungkinan adalah mertuanya sendiri, yang ketika itu akan memasuki masa pensiun.

Tema sentral dari esai ini adalah tentang bagaimana seharusnya kita menghargai atau mengoptimalkan waktu yang telah disediakan alam bagi kita. Dalam pandangan Seneca, cara paling baik untuk mengoptimalkan waktu adalah dengan “hidup pada saat ini” dan mengisinya dengan berbagai hal yang bermakna. Esai ini, rencananya hendak saya masukkan dalam tulisan sebelumnya (Seneca, Nero dan Sulitnya Melahirkan “Pemimpin-Negarawan”). Namun, karena ruang yang terbatas dan karena substansinya yang tak melulu terkait dengan kepemimpinan dan organisasi yang seringkali menjadi topik berbagai tulisan saya sebelumnya, saya putuskan untuk menjadikannya tulisan tersendiri.

Saya sendiri berpandangan bahwa De Brevitate Vitae adalah karya yang wajib dibaca bagi siapapun yang hendak mengenal Seneca. Anda boleh tidak membaca ratusan surat dan esainya yang lain, tapi yang satu ini harus dibaca. Bukan saja karena terdapat banyak sekali substansi dalam bentuk kalimat-kalimat yang “layak kutip”, tapi juga karena topik yang dibahas – sekali lagi, dalam perspektif saya – relevan untuk semua orang dengan berbagai latar belakang. Buat pemimpin, tapi juga buat awam. Sebab, sekali atau mungkin beberapa kali, dalam hidup kita, kita pasti akan dihadapkan pada pertanyaan ini: “apakah kita telah menjalani hidup sebaik-baiknya?”

Kita boleh tidak setuju terhadap anjuran-anjuran Seneca, tapi setidaknya kita bersepakat bahwa waktu, sumber daya kita yang terbatas ini, memang perlu diisi atau dikelola dengan bijaksana. Jika itu saja sudah mengendap dalam benak kita, maka sangat mungkin ia akan menjadi “penggerak”, pada saat yang tepat, untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.

Tulisan ini tidak akan menerjemahkan keseluruhan teks De Brevitate Vitae tapi menampilkan sejumlah kutipan sesuai dengan sub-topik yang diangkat oleh Seneca. Di bagian pertama, Seneca mencoba menjawab pandangan yang menganggap bahwa waktu yang tersedia bagi manusia demikian singkat. Selanjutnya ia memberi contoh tentang bagaimana waktu disia-siakan oleh banyak orang dengan berbagai macam hasrat dan ambisi. Di bagian-bagian akhir ia menyampaikan pandangannya tentang bagaimana sebaiknya mengisi waktu.

Berikut sejumlah kutipan pentingnya:

Banyak orang menganggap alam demikian kejam…

“Sebagian besar manusia, mengeluh tentang kejamnya alam, karena kita dilahirkan untuk rentang waktu yang singkat, dan karena waktu yang diberikan kepada kita ini melaju dengan begitu cepat dan tergesa-gesa dan hanya dengan sedikit pengecualian, kehidupan lalu berhenti pada saat kita semua justru baru mulai bersiap-siap.”

…dan tak pandang bulu

“Bukan hanya orang-orang di jalan dan mereka yang tidak suka berpikir yang mengeluhkan hal ini – dan melihatnya – sebagai kejahatan universal: perasaan yang sama juga berada di balik keluhan orang-orang terhormat.”

Padahal, kitalah yang menyia-nyiakannya…

“Bukannya kita memiliki waktu yang singkat untuk hidup, tetapi kitalah yang menghabiskan banyak waktu. Hidup ini cukup panjang, dan jumlah yang sangat cukup telah diberikan kepada kita untuk menghasilkan pencapaian tertinggi seandainya semuanya diinvestasikan dengan baik.”

Kita yang membuatnya pendek…

“Demikianlah: kita tidak diberi umur pendek tetapi kita yang membuatnya pendek, dan kita bukannya kekurangan perbekalan tetapi bersikap boros terhadapnya.”

Ada yang mengejar ambisi politik dan mengejar keuntungan dagang…

“Ada yang menghabiskan daya hidupnya untuk mengejar ambisi politik, selalu menggantungkan keberhasilan diri pada penilaian orang lain. Sementara yang lain, menghabiskan hidupnya mengejar keuntungan meskipun harus menjelajahi semua daratan dan lautan karena terdorong oleh nafsu untuk berdagang.”

Kita dibuat kewalahan dan sulit melihat kebenaran…

“Kejahatan mengepung dan menyerang kita dari segala sisi, dan tak membiarkan kita bangkit dan membuka mata mereka untuk melihat kebenaran, tetapi malah membuat kita kewalahan dan membuatnya mengakar dalam hasrat diri.”

Mereka yang bernasib mujur pun bukan pengecualian…

“Apakah Anda pikir saya hanya berbicara tentang orang-orang yang kejahatannya sudah jelas? Lihatlah juga mereka yang karena nasibnya yang beruntung membuatnya dikelilingi banyak orang: mereka pun tercekik oleh berkat yang mereka dapatkan.”

Mereka mendambakan waktu luang yang tidak mereka miliki…

“Engkau bisa melihat sendiri bahwa orang yang paling berpengaruh dan yang berkedudukan tinggi membuat pernyataan yang menunjukkan bahwa mereka pun mendambakan waktu luang, mengagungkan hal itu, dan menilainya lebih tinggi daripada semua berkat mereka.”

Seorang Kaisar pun demikian…

“Augustus yang didewakan, yang menerima berkat terbanyak dari para dewa dibandingkan siapapun, juga tak pernah berhenti berdoa agar bisa beristirahat dan mendapatkan kelonggaran dari berbagai urusan publik. Apapun yang dia katakan selalu dikaitkan dengan soal ini – harapannya agar bisa bersantai.”

Jadilah seperti Cicero yang hidupnya tak bergantung pada nasib baik…

“Cicero menyebut dirinya seorang semi-tahanan, tetapi orang yang benar-benar bijaksana sepertinya tak akan mungkin menjadi serendah itu. Ia tak akan pernah menjadi semi-tahanan, tetapi akan selalu menikmati kebebasan yang penuh dan utuh, bebas menjadi tuan untuk dirinya sendiri dan lebih tinggi dari yang lainnya. Sebab apa yang kedudukannya bisa lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang hidupnya tidak menggantungkan diri pada nasib baik?”

Untuk bisa seperti itu kita harus belajar sepanjang hayat…

“Tetapi belajar bagaimana hidup membutuhkan waktu seumur hidup, dan, yang mungkin lebih mengejutkanmu, perlu seumur hidup pula untuk belajar bagaimana mati.”

…agar bisa memanfaatkan berapapun waktu yang tersedia bagi kita

“Percayalah, merupakan tanda dari seseorang yang agung, yang berada di atas kesalahan manusia, adalah yang tak membiarkan waktu yang dimilikinya disia-siakan: ia memiliki kehidupan terpanjang yang mungkin dia raih, karena berapa pun waktu yang tersedia baginya, ia mengabdikan sepenuhnya bagi dirinya.”

Tanpa takut pada apa yang akan terjadi esok hari…

“Tetapi (mereka adalah) orang yang menghabiskan seluruh waktunya untuk kebutuhannya sendiri, yang mengatur setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhirnya, yang tidak merindukan atau takut pada apa yang akan terjadi di hari berikutnya.”

…mereka tak lagi bergantung pada nasib

“Selebihnya, nasib baik silakan memilih apapun keinginannya: hidupnya sudah ‘tercukupi’. Tidak ada yang bisa diambil dari kehidupannya, dan ketika Engkau hendak menambahkan sesuatu padanya itu seperti memberi makan kepada seseorang yang sudah kenyang dan puas yang akan menerima pemberianmu meskipun tak lagi mengharapkannya.”

Mereka hidup dengan penuh dan tak menjadi tua dengan sia-sia…

“Jadi, Engkau jangan berpikir seorang pria berumur panjang karena ia memiliki rambut putih dan keriput: ia belumlah ‘hidup’ cukup lama, tapi hanya eksis dengan lama.”

…mereka tak bergantung pada hari esok dan kehilangan hari ini

“Rintangan terbesar dalam hidup adalah ekspektasi, bergantung pada hari esok namun kehilangan hari ini. Engkau hendak mengatur sesuatu yang berada dalam  kendali nasib, dan mengabaikan apa yang ada dalam kendalimu.”

Sekali lagi, inilah tantangan yang kita hadapi…

“Kehidupan terbagi dalam tiga periode, masa lalu, sekarang dan masa depan. Dari semua itu, masa kini begitu singkat, masa depan meragukan, masa lalu adalah yang pasti.”

Butuh pikiran yang bebas dan tenang untuk memandang dengan leluasa…

“Hanya pikiran yang tenang dan bebas dari ketergantungan yang dapat mengarungi semua tahapan kehidupan: pikiran orang-orang yang sibuk, seolah-olah dicengkram oleh kuk, tak dapat berbalik dan menoleh ke belakang.”

Bahwa waktu yang tersedia sudah cukup untuk kita…

“Jadi, betapapun singkatnya (waktu), itu sudah cukup, dan oleh sebab itu kapan pun hari akhir itu akan tiba, seorang bijak tak akan ragu menemui kematian dengan langkah tegap.”

Jadilah seperti para filsuf, para bijak…

“Dari semuanya, hanya mereka yang dapat menyediakan waktu untuk filsafat, hanya merekalah yang benar-benar hidup. Karena mereka tidak hanya mampu mengawasi dengan baik masa hidup mereka sendiri, tetapi mereka juga mengambil yang terbaik dari setiap zaman untuk mereka. Tahun-tahun yang telah berlalu pun bisa mereka tambahkan untuk mereka.”

Mereka memberitahu kita bagaimana menjalani hidup…

“Kecuali jika kita sangat tidak mampu bersyukur, mereka semua yang memberikan kredo suci bagi kita, dilahirkan untuk kita, dan mempersiapkan bagi kita bagaimana menjalani hidup.”

…mempersembahkan kehidupannya untuk kebaikan kita

“Tak satu pun ajaran mereka akan memaksamu untuk mati, sebaliknya mengajarkan kita bagaimana cara untuk mati. Tak satu pun dari mereka akan menyia-nyiakan tahun-tahun kehidupanmu, mereka justru mempersembahkan tahun-tahun kehidupannya untuk kita. Begitu pula tak satupun dari percakapan-percakapan mereka berbahaya, atau persahabatannya merugikan, atau kehadirannya mahal.”

Mereka bebas dari belenggu waktu…

“Begitulah kehidupan filsuf sangat luas: tidak dibatasi oleh batas yang sama seperti dialami yang lain. Dia bebas dari berbagai hukum yang membatasi umat manusia, dan setiap jaman menjadikan dia seolah-olah dewa. Waktu-waktu yang telah berlalu: ia menangkapnya dalam ingatannya. Waktu hadir saat ini: dia menggunakannya. Waktu yang akan datang: dia mengantisipasinya. Kombinasi semua ini menjadi satu yang memberinya hidup yang panjang.”

…tak terjebak dalam kecemasan

“Tetapi hidup ini sangat singkat dan mencemaskan bagi mereka yang melupakan masa lalu, mengabaikan masa kini, dan takut akan masa depan.”

Sekali lagi, untuk mereka yang beruntung dalam karir dan kesejahteraan…

“Untuk mempertahankan kemakmuran, kita membutuhkan kemakmuran lain, dan untuk mendukung doa yang terbukti berhasil, kita harus terus berdoa. Apa pun yang datang kepada kita secara kebetulan tidak ada yang stabil, dan semakin tinggi kita naik, semakin besar kemungkinannya untuk jatuh.”

Berpalinglah pada kebajikan…

“Dalam hidup yang seperti ini, Engkau akan menemukan banyak hal yang layak dipelajari: mencintai dan mempraktikkan kebajikan, meredam gairah, mengetahui tentang cara hidup dan mati, dan menjalani kehidupan yang penuh ketenangan.”

…dan tak perlu iri hati

“Lalu, ketika Engkau melihat seorang pria sering mengenakan jubah kekuasaan, atau seseorang yang namanya sering diucapkan di berbagai forum, tak usah iri hati padanya: hal-hal ini diperolehnya dengan mempertaruhkan nyawa. Agar namanya dapat tertulis di sana selama satu tahun, mereka harus membayarnya dengan seluruh tahun dalam kehidupannya.”

Begitulah anjuran kebijaksanaan menjalani hidup yang bermakna – berapapun waktu yang tersedia bagi kita.

Tautan tulisan sebelumnya tentang Seneca:

Seneca, Nero dan Sulitnya Melahirkan “Pemimpin-Negarawan”