Belajar Kepemimpinan dari Epictetus III: Membaca Enchiridion (22-33)

Picture of The Project Gutenberg EBook of The Enchiridion

Versi yang Anda baca ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia dari versi Bahasa Inggris dengan judul “Epictetus. Discourses, Fragments, Handbook” (Oxford World’s Classics), yang dialihbahasakan dari Bahasa Yunani oleh Robin Hard (2014). 

Arrian tidak secara spesifik, memberi petunjuk bagaimana sebaiknya membaca manual ini. Namun, Simplicius, pemikir dari abad keenam Masehi, dalam Commentary, mengelompokkan buku ini ke dalam 4 bagian.

Bagian I: Bab 1–21. “Apa yang terserah pada kita dan tidak, dan bagaimana menghadapi hal-hal eksternal.”

Bab 1–2. “Apa yang terserah pada kita dan tidak, dan konsekuensi dari pilihan itu.”

Bab 3-14. “Bagaimana menangani hal-hal eksternal (mengendalikan pembaca dari hal-hal tersebut).”

Bab 15–21. “Cara menggunakan hal-hal eksternal dengan benar dan tanpa gangguan.”

Bagian II: Bab 22–28. “Nasihat untuk siswa menengah.”

Bab 22-25. “Masalah yang dihadapi oleh siswa menengah.”

Bab 26–28. “Hal lain-lain: konsepsi umum, kejahatan, dan rasa malu.”

Bagian III: Bab 30–47. “Saran teknis untuk menemukan tindakan yang sesuai (kathēkonta).”

Bab 30–33. “Tindakan yang tepat terhadap (a) orang lain, (b) Tuhan, (c) ramalan, (d) diri sendiri.”

Bab 34–47. “Berbagai macam aturan tentang keadilan (tindakan benar).”

Bagian IV: Bab 48–53. “Kesimpulan tentang praktik aturan.”

Bab 48. “Nasihat terakhir dan pembagian jenis orang.”

Bab 49-52. “Praktek aturan.”

Bab 53. “Kutipan untuk diingat.”

Bab 29, yang mungkin absen dari teks yang digunakan oleh Simplicius, adalah satu halaman dari “Discourses” yang membandingkan pelatihan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Stoic dengan pendekatan disiplin yang diperlukan untuk menjadi pemenang Olimpiade.

Buku Pegangan

22. Jika Anda berketetapan untuk meraih kebijaksanaan, bersiaplah sejak saat itu untuk ditertawakan dan diolok-olok seperti ini, “Lihat, tiba-tiba saja orang ini menjadi filsuf!” dan ‘Bagaimana bisa dia menjadi begitu sok pintar?’ Anda tak perlu menganggap diri sebagai orang penting, tetapi berpegang teguhlah pada hal-hal terbaik bagimu, sebagaimana orang yang telah ditunjuk oleh Tuhan untuk peran ini; dan jika Anda memegang teguh prinsip yang sama, mereka yang sekarang menertawakan nantinya akan mengagumi Anda; tetapi jika Anda membiarkan orang-orang ini menjadi lebih baik dari Anda, Anda malah akan ditertawakan dua kali.

23. Jika Anda harus berpaling ke hal-hal eksternal karena Anda ingin memuaskan orang lain, sadarilah bahwa Anda telah kehilangan rencana dalam hidup. Maka, jadilah puas untuk tetap melakukan kebajikan dalam semua hal yang Anda lakukan, dan jika Anda juga ingin dipandang sebagai seorang filsuf yang bijaksana, buktikan pada diri Anda sendiri, dan Anda akan dapat mencapainya.

24.1. Jangan biarkan pikiran-pikiran negatif ini mengganggumu: ‘Aku akan hidup tak terhormat, dan tak akan menjadi siapa pun di mana pun.’ Sebab hidup tak terhormat adalah buruk, kamu tidak bisa menjadi buruk sebagai akibat dari tindakan orang lain, melebihi dari yang bisa kamu lakukan pada dirimu sendiri. Bukanlah urusanmu, tentu saja, untuk mendapatkan jabatan publik atau diundang ke pesta makan malam. Tentu tidak. Jadi bagaimana itu masih bisa menjadi sumber penghinaan? Dan bagaimana Anda bisa menjadi ‘orang tak berharga di manapun’ jika yang Anda perlukan hanya menjadi seseorang yang berada dalam kekuasaan Anda sendiri, yang dengan begitu akan memungkinkan Anda menjadi seseorang dengan nilai tertinggi?

2. Anda khawatir teman anda dibiarkan tanpa bantuan? Apa yang Anda maksud dengan ‘dibiarkan tanpa bantuan’? Mereka tak akan menerima pembayaran sedikit pun darimu, Anda juga tak akan bisa memberi mereka kewarganegaraan Romawi. Lalu, siapa yang memberi tahu Anda bahwa ini adalah hal-hal yang berada dalam kendalimu, dan bukannya mencampuri urusan orang lain? Dan siapa yang bisa memberikan sesuatu kepada orang lain jika dia sendiri juga tak punya apa-apa? ‘Kalau begitu beri kami sejumlah uang’, begitu permintaannya, ‘sehingga kami juga memilikinya.’

3. Jika saya bisa mendapatkan hal itu sambil mempertahankan harga diri, kepercayaan, dan kemurahan hati, tunjukkan pada saya jalannya dan saya akan mencobanya; tetapi jika Anda mengharapkan saya kehilangan hal-hal baik untuk membantumu memperoleh hal-hal yang tidak baik, pertimbangkanlah betapa tidak adilnya Anda, atau betapa bodohnya. Lagi pula, apa yang ingin Anda miliki? Uang, atau teman yang setia dan memiliki harga diri? Jadi bantulah saya untuk menjadi orang seperti itu, dan jangan meminta saya untuk melakukan hal-hal yang akan menyebabkan saya kehilangan sifat-sifat baik.

4. ‘Tetapi negaraku’, katanya, ‘tak akan menerima bakti yang bisa saya berikan.’ Ini lagi, bantuan apa yang Anda maksud? Negara tidak akan memperoleh tambahan apapun dari kantor anda. Lalu untuk apa? Negara tidak membutuhkan sepatu dari tukang besi atau senjata dari tukang sepatu; Cukuplah setiap orang memenuhi fungsinya sendiri. Dan jika Anda menyumbangkan seorang warga negara yang dapat dipercaya dan terhormat pada negara, bukankah itu lebih bermanfaat? “Memang, aku mau seperti itu.” Kalau begitu, saat ini kau belum akan ada gunanya. “Jadi, posisi apa yang harus kupegang untuk negara?”, tanyanya. Tempat apa pun yang bisa menjaga kepercayaan dan harga diri Anda.

5. Tetapi jika, karena keinginan untuk membantu negara, Anda mengorbankan kualitas-kualitas seperti itu, apa gunanya Anda, ketika Anda ternyata malah menjadi tidak tahu malu dan tak dapat dipercaya?

25.1. Pernahkah seseorang dimuliakan melebihi Anda di sebuah jamuan makan, atau dihormati, atau dipanggil untuk memberikan nasihat? Jika hal-hal ini terbukti baik, Anda harus bersukacita jika ada orang yang memperolehnya; tetapi jika ternyata buruk, jangan merasa kecewa karena bukan Anda yang mendapatkannya. Dan ingat pula, bahwa jika Anda tidak menggunakan cara-cara yang sama seperti orang lain untuk memperoleh berbagai hal, yang memang berada di luar kekuasaan atau kendalimu, janganlah mengharapkan bagian yang sama dengan yang mereka dapatkan.

2. Sebab bagaimana bisa seseorang yang tidak berkontribusi apa-apa mengklaim bagian yang sama dengan orang lain yang melakukannya? Yang sebelumnya tidak bergabung dengan rombongan orang yang mendapatkan bagian itu, atau tidak pernah memberikan pujian pada orang itu? Anda akan menjadi tidak adil, dan karenanya serakah, jika menolak untuk membayar harga yang seharusnya dibayarkan, dan ingin mendapatkannya secara gratis.

3. Sekarang, berapa harga yang pantas untuk selada? Satu Obol mungkin. Jika seseorang membayar dengan Obol, lalu mendapatkan selada, sementara Anda tidak membayar apa pun dan tidak mendapatkan apa pun, janganlah berpikir bahwa Anda lebih buruk daripada pria yang mendapatkan selada; karena selagi ia mendapatkan selada, Anda masih memiliki Obol Anda, yang belum Anda berikan.

4. Hal-hal yang sama juga berlaku untuk semua kasus. Anda tidak diundang ke pesta makan malam seseorang? Tentu saja tidak, karena Anda belum membayar tuan rumah harga bagi jamuan makan malamnya; dia mungkin menjualnya untuk mendapatkan pujian, dia menjualnya untuk mendapatkan perhatian. Baiklah, kalau begitu, bayarlah dia harga yang dimintanya, jika itu sesuai dengan minat Anda. Tetapi jika Anda tidak melakukan pembayaran dan masih ingin menerima barang, Anda serakah dan bodoh. Jadi, apakah Anda tidak mendapatkan apa-apa di tempat makan malam? Mengapa, tentu saja Anda punya: karena Anda merasa tidak wajib memuji seorang pria yang tidak ingin Anda puji, Anda juga tidak harus menderita ditolak penjaga di depan pintu.

26. Kehendak alam dapat dipelajari dari peristiwa-peristiwa dalam kehidupan yang sering tidak kita bedakan satu dengan yang lain. Misalnya, ketika seorang pembantu memecahkan gelas orang lain, kita mungkin mengatakan, “Itu biasa terjadi.” Jadi, kita pun harus sadar, jika cangkir kita sendiri yang pecah, kita harus bereaksi dengan cara yang persis seperti itu. Berlakukan juga prinsip tersebut untuk hal-hal yang lebih besar. Jika anak atau istri orang lain meninggal dunia; orang-orang akan menyimpulkan, ‘Begitulah takdir manusia.’ Namun ketika anak atau istri sendiri yang meninggal dunia, kita akan berseru, ‘Oh, malang sekali aku.’ Tapi kita harus ingat bagaimana yang kita rasakan ketika mendengar hal yang sama terjadi pada orang lain.

27. Sama seperti target tidak diatur untuk dilewatkan, tidak ada hal buruk yang secara alami mewujud di alam semesta.

28. Jika seseorang menyerahkan tubuh Anda kepada seseorang yang Anda temui, Anda akan marah; tetapi Anda menyerahkan pikiran Anda kepada siapa pun yang datang, sehingga, ketika dia melecehkan, Anda terganggu dan bingung, apakah Anda tidak merasa malu karenanya?

29. [Lihat “Discourses” 3.15.1–13.]

30. Tindakan yang tepat diukur secara keseluruhan oleh hubungan sosial kita. Terhadap ayahmu: kamu wajib merawatnya, memberi jalan kepadanya dalam segala hal, bertahan jika dia memarahimu atau memukulmu. “Tapi dia ayah yang buruk.” Apakah ikatan alam mengikatmu hanya dengan ayah yang baik? Tidak, tapi pada seorang ayah. ‘Saudaraku berbuat salah padaku. Baiklah, pertahankan hubungan yang Anda miliki dengannya; jangan melihat apa yang dia lakukan, tetapi lihatlah apa yang harus Anda lakukan jika ingin menjaga pilihan Anda selaras dengan alam. Karena tidak seorang pun akan membahayakan Anda jika Anda tidak menginginkannya; Anda akan dirugikan hanya ketika Anda mengira bahwa Anda telah dirugikan. Dengan cara ini, maka, Anda akan menemukan tindakan yang tepat yang diharapkan dari seorang warga, dari sesama warga negara, dari seorang jenderal, jika Anda terbiasa memperhatikan hubungan sosial Anda.

31.1.Mengenai kesalehan terhadap Tuhan, Anda harus memahami bahwa hal yang terpenting adalah memiliki pandangan yang baik tentang Dia, menganggap Ia sebagai yang hadir dan mengatur alam semesta dengan baik dan adil, dan telah menyadarkanmu untuk patuh dan tunduk pada segala sesuatu yang terjadi, dan mempercayai dengan kehendak bebasmu, sebagai sesuatu yang telah dihadirkan oleh kecerdasan tertinggi. Sebab jika Anda mengikuti jalan ini, Anda tidak akan pernah menemukan kesalahan atau menuduh-Nya telah mengabaikan Anda.

2. Namun, tidak mungkin bagi Anda untuk mencapai hal ini tanpa menarik konsepsi Anda tentang yang baik dan yang buruk dari hal-hal yang tidak berada dalam kekuasaan kita, dan menempatkan hal-hal tersebut dalam kekuasaan kita. Sebab jika Anda menganggap salah satu dari yang pertama sebagai baik atau buruk, maka yang akan selalu terjadi adalah, setiap kali Anda gagal mendapatkan apa yang Anda inginkan atau jatuh ke dalam hal-hal yang ingin Anda hindari, Anda akan menyalahkan dan membenci mereka yang bertanggung jawab.

3. Sebab sudah menjadi sifat setiap makhluk hidup untuk melarikan diri dan berusaha untuk menghindari hal-hal yang tampak berbahaya baginya, dan mengejar dan mengagumi hal-hal yang dapat membantu dan mengangkat mereka. Sejalan dengan itu, tidak mungkin bagi seseorang yang berpikir bahwa dia menderita kerugian untuk menyukai apa yang menurutnya bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi, sama seperti tidak mungkin baginya untuk menikmati kerusakan itu sendiri.

4. Itu sebabnya bahkan seorang ayah bisa dilecehkan oleh anaknya jika gagal memberinya bagian dari hal-hal yang dia anggap baik; dan inilah pula yang menyebabkan Eteocles dan Polynices bermusuhan: karena gagasan bahwa tahta adalah hal yang baik. Itu juga yang menyebabkan seorang petani mencaci-maki Tuhan, begitu juga seorang pelaut atau pedagang, dan mereka yang kehilangan istri dan anak-anak mereka. Sebab di mana kepentingan seseorang diletakkan, di sana juga terletak kesalehannya. Demikian pula halnya, siapa pun yang bisa memenuhi keinginan dan ketidaksukaannya seperti yang ia mau akan diikuti dengan kepatuhan.

5. Tetapi baik juga untuk menawarkan persembahan dan pengorbanan pada tiap kesempatan, sesuai dengan kebiasaan leluhur kita, dan melakukannya dengan kemurnian, dan tidak dengan cara sembarangan, dan tidak pelit atau melampaui apa yang kita mampu.

32.1. Ketika Anda pergi pada peramal untuk mengetahui nasibmu, ingatlah bahwa Anda tidak tahu bagaimana masalah yang ditanyakan itu akan terjadi, tetapi bahwa Anda sendiri sudah datang untuk menemukannya darinya; tetapi jika Anda seorang filsuf sejati, Anda sudah tahu ketika Anda tiba seperti apa itu sesungguhnya. Sebab jika itu adalah salah satu dari hal-hal yang tidak berada dalam kekuasaan kita, itu sudah jelas bukan merupakan sesuatu yang bisa disebut baik ataupun buruk.

2. Jadi Anda sebaiknya tidak membawa keinginan atau ketidaksukaan kepada peramal, dan Anda tidak boleh mendekatinya dengan rasa takut, tetapi sebagai orang yang sepenuhnya menerima bahwa apapun hasilnya takkan berbeda bagi Anda, dan bahwa apa pun itu, Anda bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, dan tidak ada yang bisa mencegah Anda melakukannya. Jadi dekatilah para dewa, sebagai penasihat Anda, dan setelah itu, ketika beberapa nasihat telah diberikan kepada Anda, ingatlah dari siapa itu berasal, dan siapa yang akan Anda abaikan jika tidak mematuhi mereka.

3. Perlakukan ramalan sebagaimana Socrates menggunakannya dengan benar, yaitu ketika yang ditanyakan terkait erat dengan dengan hasilnya, dan tidak ada nalar atau pengetahuan praktis apa pun yang dibutuhkan untuk mendapatkan poin yang ditanyakan. Dengan begitu, ketika sudah menjadi kewajiban Anda untuk berbagi bahaya dengan teman atau negara anda, Anda tidak seharusnya menggunakan ramalan untuk bertanya apakah Anda harus berbagi bahaya itu. Sebab bahkan jika sang peramal memperingatkan Anda akan marabahaya, dan bahwa terdapat resiko kematian, beberapa bagian tubuh Anda akan hilang, atau mengalami pengasingan, nalar menuntut hal yang sama, yaitu meskipun dihadapkan dengan risiko ini, Anda harus mendukung teman Anda dan ikut menanggung beban bahaya yang dialami negara Anda. Ingatlah baik-baik yang dilakukan Pythian Apollo, yang mengusir keluar dari kuilnya seseorang yang tak mau membantu temannya ketika dibunuh.

33.1. Mulai saat ini bentuklah karakter dan pola perilaku tertentu untuk diri anda, yang harus Anda pertahankan baik ketika Anda sendirian maupun saat bersama orang lain.

2. Tetaplah diam untuk sebagian besar waktu, atau katakan hanya hal-hal penting, dan dalam beberapa kata. Sesekali, tentunya, ketika kesempatan menuntut, berbicaralah, tetapi bukan tentang topik yang biasa, bukan tentang gladiator, bukan tentang pacuan kuda, bukan tentang atlet, bukan tentang makanan dan minuman, tentang topik pembicaraan sehari-hari; tetapi yang terpenting, jangan membicarakan orang lain, baik untuk memuji atau mengkritik, atau untuk membandingkan-bandingkan mereka.

3. Jika Anda dapat melakukannya, maka, melalui cara percakapan Anda sendiri, ajak rekan-rekan Anda kepada hal-hal yang yang pantas dan layak. Tetapi jika Anda mendapati diri Anda sendirian di antara orang asing, tetaplah diam.

4. Jangan banyak tertawa, atau pada banyak hal, atau tanpa menahan diri.

5. Tolaklah untuk mengucapkan sumpah apa pun, jika memungkinkan, tetapi jika tidak, tolak sejauh yang Anda bisa.

6. Hindari pesta yang diselenggarakan oleh orang-orang yang Anda tidak kenal dan orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang kebijaksanaan, tetapi jika Anda memang berada dalam situasi untuk menghadirinya, berhati-hatilah agar tidak jatuh kembali ke alam pikiran orang awam. Sebab Anda harus memahami bahwa jika teman Anda sudah tercemar, siapa pun yang membersihkannya pasti tercemar juga, meskipun tadinya bersih.

7. Dalam hal-hal yang berurusan dengan tubuh, ambil hanya sebanyak yang dibutuhkan oleh tubuh telanjang anda, misalnya makanan, atau minuman, pakaian, rumah, atau asisten rumah tangga; tetapi jangan masukkan ke dalamnya segala sesuatu yang bertujuan untuk pamer atau kemewahan.

8. Mengenai hubungan seksual, jaga diri Anda tetap murni, sejauh yang Anda bisa, sampai Anda menikah; tetapi jika Anda menuruti keinginan Anda, batasi diri Anda dengan apa yang halal. Namun, jangan membuat diri Anda memanjakan diri secara berlebihan, dan jangan juga terlalu kritis, dan tak perlu terus-menerus meminta perhatian bahwa Anda tidak berperilaku seperti mereka.

9. Jika ada yang mengadukan kepada Anda bahwa seseorang sedang berbicara buruk tentang Anda, jangan membela diri, sebaliknya katakan, ‘Oh ya, dia jelas tidak mengetahui semua kesalahan saya yang lain, kalau tidak, bukan itu saja yang akan dia sebutkan.’

10. Tidak perlu sering-sering pergi ke pertunjukan publik, tetapi jika Anda dihadapkan pada situasi untuk melakukannya, tampilkan diri Anda tidak memihak siapa pun selain diri Anda, artinya, berharap yang terjadi harus terjadi, dan hanya orang yang pantas menang yang akan menang; sebab jika bersikap begitu, kamu tidak akan mengalami hambatan. Tapi tahan diri untuk berteriak, atau menertawakan siapa pun, atau menjadi terlalu bersemangat. Dan setelah Anda pergi, jangan banyak bicara tentang apa yang telah terjadi, kecuali sejauh itu bisa berkontribusi pada perbaikan diri Anda sendiri; sebab pembicaraan seperti itu akan menunjukkan bahwa Anda terkesan dengan tontonan itu.

11. Jangan asal pergi ke tempat orang-orang melakukan “pembacaan publik”; tetapi jika Anda harus pergi, jaga martabat dan ketenangan Anda, serta berhati-hatilah agar tidak membuat diri Anda tidak disukai.

12. Ketika Anda akan bertemu seseorang, dan khususnya orang yang sangat dihormati, ajukan pertanyaan ini kepada diri Anda sendiri: ‘Apa yang akan dilakukan Socrates atau Zeno dalam situasi ini?’ Dengan begitu Anda tidak akan mengalami kesulitan dalam memanfaatkan kesempatan dengan tepat.

13. Ketika Anda akan bertemu dengan seorang penguasa, pikirkan kemungkinan bahwa Anda tidak akan menemukannya di rumah, bahwa Anda akan dikucilkan, bahwa pintu akan tertutup di depan wajah Anda, bahwa dia tidak akan memperhatikan Anda. Dan jika, terlepas dari semua itu, Anda tetap harus pergi, pergilah, dan terima apa pun yang terjadi, dan jangan pernah mengatakan pada diri sendiri, “Itu tidak sepadan dengan kesulitannya.” Sebab sikap seperti itu adalah tanda orang kebanyakan, seseorang yang bisa dikecewakan oleh hal-hal di luar dirinya.

14. Dalam percakapan Anda, hindari berbicara panjang lebar atau terlalu banyak tentang diri Anda sendiri atau bahaya yang Anda hadapi; sebab meskipun menyenangkan mungkin bagi Anda untuk mengingat bahaya yang pernah Anda lalui, itu tidak akan sama menyenangkannya bagi orang lain yang mendengarkan.

15. Jangan terlalu berusaha untuk membangkitkan tawa, karena itu perilaku yang dapat dengan mudah memancing sesuatu yang vulgar, yang pada saat bersamaan cenderung menyebabkan lingkungan Anda memandang Anda dengan kurang hormat.

16. Berbahaya juga jika Anda terlibat dalam pembicaraan cabul. Ketika hal seperti itu terjadi, Anda harus, jika ada kesempatan, bahkan mencela orang yang telah memulai pembicaraan semacam itu; atau jika itu tidak memungkinkan, tunjukkan meskipun dalam diam, dengan wajah memerah dan cemberut, bahwa Anda tidak senang dengan apa yang dikatakan.

Tautan untuk seri tulisan yang sama:

Belajar Kepemimpinan dari Epictetus: “Budak” Paling Berpengaruh di Dunia

Belajar Kepemimpinan dari Epictetus II: Membaca Enchiridion (1-21)

Belajar Kepemimpinan dari Epictetus IV: Membaca Enchiridion (34-53) – Selesai