Mengapa Inkubasi Penting untuk Menciptakan SDM Unggul?

There is a moment of conception and a moment of birth, but between them there is a long period of gestation.

Jonas Edward Salk, virologist, penemu vaksin polio.

Photo by Fauxels from Pexels

Saat masih kelas I SMA di Jakarta, saya nyaris tidak naik kelas karena menduduki ranking 45 dari 47 siswa. Lima mata pelajaran mendapatkan nilai merah. Sehingga oleh pihak sekolah saya “dianjurkan” untuk pindah. Jadilah, saya bersekolah di Smada (SMA Negeri Dua) Banjarmasin, jurusan sosial.

Pindah ke Kalimantan adalah titik balik. Tanpa terduga saya berteman dengan orang-orang yang selalu mengajak berpikir kritis. Sebagian mereka adalah anak-anak dari aktivis mahasiswa tahun 1960-an. Hingga kini kami masih berteman baik.

Rivani Noor (sekarang menjadi tenaga ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan) mengajak saya  mengelola Koran Dinding, tempat pertama kali saya memaksa diri belajar menulis.

Koran dinding kami menjadi juara III dalam sebuah perlombaan antara SMA se-Kalimantan Selatan. Tapi, karena isinya terlalu banyak mengkritik, termasuk ke pihak sekolah, akhirnya “dibredel”.

Omi (Rahim Noor, sekarang bekerja di Komisi Pemilihan Umum pusat) sering meminjamkan buku-buku sastra dan politik. Salah satunya memicu saya untuk terjun jadi aktivis mahasiswa, adalah buku Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran.

Pengalaman semasa di SMA itu membangkitkan “api” . Dari situ, sense of purpose telah tertanam dalam diri dan menjadi pendorong utama berbagai aktivitas saya kemudian. Keterlibatan dalam gerakan mahasiswa, hingga akhirnya 2 kali mendekam di penjara semasa Orde Baru adalah “akibat” dari proses inkubasi sebelumnya.

Jika di SMA saya “terjebak” dalam komunitas yang menginkubasi. Sewaktu mahasiswa, saya aktif mencari tempat “inkubasi” tingkat berikutnya. Proses ini terus berulang, di berbagai fase dalam kehidupan sebagai aktivis maupun dalam karir profesional saya. Di dunia swasta maupun pemerintahan.

Di manapun bekerja saya memiliki kebiasaan untuk mengajak berkumpul berbagai kolega, terutama yang usianya lebih muda untuk saling berdiskusi tentang berbagai topik. Mulai dari politik, budaya, psikologi, sains, lingkungan hingga ke manajemen dan strategi.

Secara natural kegiatan rutin ini menciptakan kesamaan persepsi di antara kelompok dan memudahkan kerjasama secara profesional.

Berkaca dari pengalaman pribadi dan melihat praktik baik yang dijalankan oleh berbagai organisasi dengan reputasi baik, inkubasi adalah proses yang memang diperlukan untuk menciptakan kultur yang profesional dan berintegritas.

Umumnya perusahaan-perusahaan kelas dunia memberi perhatian besar pada pengelolaan sumber daya manusia dan talenta mereka secara intensif seiring dengan makin tingginya tuntutan pasar agar lebih kompetitif. Selain melakukan perencanaan, akuisisi dan retensi, mereka memberikan penekanan terhadap proses internal pengembangan SDM-nya.

Pentingnya pembelajaran intensif di perusahaan-perusahaan ternama dapat dilihat dari upaya mereka melembagakan proses pendidikan internal secara komprehensif yang mereka terjemahkan sebagai corporate university (CorpU). Intel, General Motors, General Electric, dan McDonald adalah sebagian nama yang turut mengembangkan model inkubasi semacam ini.

Tujuan mereka, untuk memperdalam ilmu dan ketrampilan yang dibutuhkan dalam proses bisnis internalnya agar lebih inovatif atau lebih baik dari pesaingnya. Mereka yang berprestasi baik , kemudian akan tercatat dengan rapi dan mudah terpantau. Sehingga, sewaktu-waktu dibutuhkan, dapat segera ditempatkan untuk memimpin sebuah divisi atau tim.

Sejumlah BUMN ternama di Indonesia pun tak mau kalah dan kemudian membentuk CorpU. Sebut saja  PT PLN, PT Pertamina, PT Telkom, PT Semen Indonesia, Bank BRI, Bank Mandiri, dan PT Wika. Sejauh mana mereka sukses menghasilkan SDM dengan kualitas yang diharapkan, merupakan pertanyaan lain. Namun, niatnya untuk menjadi organisasi pembelajar saja perlu diapresiasi.

Mengapa lulusan Akademi Militer di Indonesia banyak yang dipercaya menjadi pemimpin di berbagai bidang? Salah satunya (selain karena alasan politik) adalah karena proses “penggojlokan” yang mereka alami di masa pendidikan.

Duabelas bulan pertama adalah Pendidikan Dasar Keprajuritan Chandradimuka dan Integratif Akademi TNI yang dilakukan di bawah Mako Akademi TNI. Lalu dilanjutkan dengan penyelenggaraan pendidikan khusus Taruna Angkatan Darat tingkat II, III dan IV di bawah Akademi Militer.

Mereka yang memiliki memiliki talenta sebagai pemimpin, sudah terpantau sejak berada dalam masa pendidikan ini. Lulusan terbaik kemudian akan mendapatkan penghargaan tahunan Adhi Makayasa.

Namun, urut-urutan setelahnya, meskipun tidak memperoleh penghargaan, telah tercatat dalam database Tentara Nasional Indonesia. Sehingga, ketika sudah cukup memiliki pengalaman dan kematangan, dapat dengan lebih mudah ditugaskan untuk mengambil peran kepemimpinan.

Apa yang terjadi di dunia swasta dan militer, sayangnya belum berjalan baik dalam pengelolaan birokrasi di Indonesia. Pendidikan dan pelatihan prajabatan sebetulnya juga terjadi sebelum Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Namun demikian, hal itu belum diikuti dengan manajemen PNS dan penilaian kinerjanya – karena belum berjalannya aturan pelaksana tentang kedua hal tersebut yang merupakan turunan dari UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Sehingga, mereka yang seharusnya berprestasi baik juga belum terdata dan dikelola dengan baik pula.

Dalam sebuah pertemuan dengan para maestro seni yang kebetulan saya fasilitasi di akhir tahun 2018 di Kantor Staf Presiden, terungkap bahwa seniman tari tradisional ternama di Indonesia mengalami proses inkubasi di lingkungan Kraton yang memang masih mempertahankan warisan seni-budaya.

Ada juga seniman musik yang tumbuh berkembang karena mereka membangun dan mengembangkan sendiri lingkungan kreatifnya. Meskipun dengan keterbatasan fasilitas, mereka sanggup melahirkan karya-karya unik yang selain bermutu dari sisi teknik, juga memiliki orisinalitas – misalnya, karena sanggup memadukan antara unsur-unsur Barat dan Nusantara dalam komposisinya.

Ini antara lain, pengakuan dari penari tradisi senior Retno Maruti, pianis Ananda Sukarlan dan komposer Addie MS.

Bagaimana menerangkan munculnya ide tentang kemerdekaan dari para pendiri bangsa, meskipun selama ratusan tahun wilayah Hindia-Belanda berada dalam kekuasaan VOC dan Pemerintah Kerajaan Belanda?

Tentu ada pengaruh inspirasi dari berbagai fenomena tumbuhnya gerakan dan perubahan sosial di belahan dunia Barat di awal abad ke-20. Namun, tanpa ada diskusi-diskusi intensif di antara para tokoh bangsa, tentu ide tentang kemerdekaan takkan pernah mencapai titik kulminasinya.

Ibarat virus yang telah menyebar dan menjadi berlipat ganda pada masa inkubasi, maka tinggal menunggu waktu saja bagi gagasan kemerdekaan untuk meletupkan revolusi.

Inkubasi dapat terjadi dalam berbagai konteks dan bentuk, namun prosesnya sama. Dimulai dari sebuah benih atau gagasan awal, lalu dipertajam, diberi bentuk dan dikembangkan secara terus-menerus, hingga akhirnya meluap keluar. Menyebar. Tak jarang melahirkan inovasi dan bentuk-bentuk baru yang berbeda dari benih gagasan awal.

Duapuluhlima tahun dari sekarang, Indonesia akan mencapai 100 tahun kemerdekaannya di tahun 2045. Apakah Indonesia akan menjadi Negara Maju atau tidak sangat ditentukan oleh apa yang dibangun dan dilakukan saat ini. Bagi pemuda-pemudi yang saat ini berusia 20-an tahun, mereka kelak akan berada di usia matang dan memegang posisi-posisi kunci. Namun, semua itu akan tergantung dari proses inkubasi semacam apa yang dilalui.

Orang memiliki pandangan keagamaan yang eksklusif atau inklusif pun amat tergantung dari bagaimana lingkungan sekitar atau komunitasnya menanamkan nilai-nilai tertentu secara intensif. Sama halnya jika ingin Indonesia Maju, maka pemuda-pemudi Indonesia harus memulai atau difasilitasi agar menemukan proses inkubasinya.

Lemparkan gagasan, samakan persepsi, perkaya perspektif dan lahirkan inovasi. Inkubasi akan menciptakan energi kolektif bagi yang terlibat di dalamnya – asalkan terus saling mendukung dan tidak terjebak dalam konflik internal yang merupakan salah satu tantangan terbesar dalam memelihara keberlanjutan kelompok atau institusi.

Saat ini, gagasan bisa mudah dipicu dan dimudahkan karena perkembangan teknologi informasi. Jangan mau hanya jadi konsumen dan didikte oleh penyedia informasi. Informasi harus dikunyah, dianalisis, diperdebatkan dan dijadikan sebuah gagasan baru yang cemerlang.

We can be better than dinosaurs-lah.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s