Leonardo Da Vinci: Apa yang Menjadikannya Jenius?

“Seorang talenta mampu menyasar target yang tak bisa disasar oleh orang lain,” kata filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer. Namun, “seorang jenius menyasar target yang tak terlihat oleh orang lain.”

Leonardo Da Vinci adalah representasi kejeniusan era Renaissance Italia yang hingga kini pun masih sulit dicarikan tandingannya.

Ia menjadi jenius karena tak pernah “berhenti” belajar sekaligus berkarya – hal ini juga tercermin dalam masterpiece yang tak pernah benar-benar ia selesaikan, “Mona Lisa”.

Ketika Manusia Akhirnya Bisa Mendesain Manusia

Selama lebih dari tiga milyar tahun, mahluk hidup berevolusi sesuai dengan kode genetik yang secara natural “digariskan” di dalam dirinya. Namun, sejak akhir tahun 2018, manusia telah terbukti mampu meretas kode genetik tersebut dan “menciptakan” bayi sesuai keinginannya.

Inilah disrupsi terbesar di dalam masa kehidupan kita. Sebagaimana terjadi dalam banyak revolusi atau perubahan besar, peristiwa ini memunculkan kekhawatiran sekaligus harapan.

Akankah umat manusia menjadi lebih baik dengan kekuasaan baru yang dimilikinya itu?

Yuval Noah Harari, Homo Sapiens dan Ajakan Membangun Solidaritas Global di Tengah Pandemi

Ketiga karyanya, “Sapiens”, “Homo Deus” dan “21 Lessons for 21st Century” terjual lebih dari 25 juta eksemplar, Yuval Noah Harari adalah seorang pemikir selebriti. Pemikirannya bukan yang paling baru, juga bukan yang paling dalam. Tapi ibarat alarm, mencoba mengingatkan kita akan sebuah identitas yang sebelumnya sangat jarang dibincangkan.

Eksistensi dan identitas kita sebagai homo sapiens perlu kita sadari, karena dengan menggunakan sudut pandang ini kita bisa lebih memahami tantangan-tantangan dunia yang kita hadapi – seperti kebangkitan artificial intelligence, monopoli data digital hingga pemanasan global – yang membutuhkan respon kolektif.

Di tengah persoalan global yang secara nyata telah menghampiri kita saat ini, yaitu Pandemi COVID-19, sudah saatnya menyambut ajakan Harari untuk membangun solidaritas global.

Pendekatan “Yin-Yang” dalam Menyusun Visi yang Efektif

Tak dapat disangkal bahwa keberhasilan sebuah organisasi – perusahaan hingga negara – sangat ditentukan oleh kerja keras dan kerja cerdas seluruh komponen pendukungnya. Namun, visi yang jelas, ternyata tak kalah pentingnya.

Sebuah studi yang dilakukan atas perusahaan-perusahaan paling sukses di lantai bursa sejak 1925, menunjukkan betapa vital peran visi yang efektif dalam keberlanjutan organisasi perusahaan.

Tulisan ini menjelaskan dua aspek penting dalam penyusunan visi yang efektif: “Core ideology” atau ideologi inti dan “envisioned future” atau masa depan yang dikehendaki. Pelajari bagaimana perusahaan elektronika asal Jepang, Sony, menyusun visinya.

Plato, Negara yang Adil & “The Philosopher King”

Ditulis sekitar tahun 375 SM, “The Republic” karya Plato adalah salah satu hasil pemikiran filsafat dan teori politik yang paling besar pengaruhnya di dunia. Para tokoh dan pemikir terkemuka dari zaman Romawi kuno seperti Cicero hingga filsuf Inggris abad ke-20 Bertrand Russel dan Leo Strauss turut mengkaji buku ini secara mendalam.

Dalam dunia Islam, Ibnu Rushid (Averroes), pemikir asal Andalusia abad ke-12 yang menguasai berbagai bidang ilmu pun turut menuliskan komentarnya terhadap “The Republic”. Di tahun 2001, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Philosopher’s Magazine buku ini dinobatkan sebagai karya terbesar filsafat.

Ide mendasar buku ini adalah tentang keadilan dan bagaimana mewujudkannya. Bagi Plato, negara yang adil harus memiliki jiwa-jiwa yang adil pula. Bentuk negara bisa berubah, dan selalu berubah, jika berkaca pada sejarah. Apapun bentuk negaranya, Plato menganjurkan untuk selalu membangun pendidikan bagi para calon pemimpin agar ada yang dapat menjadi “The Philosopher King”.

Cicero tentang Kepemimpinan dan Kenegarawanan II (Selesai)

Upaya terakhir Cicero mempertahankan Republik Roma ia sampaikan dalam rangkaian 14 pidatonya di depan Senat antara tahun 44 hingga 43 SM, yang dikenal sebagai “Philippics” (ia menganalogikan pidatonya seperti yang disampaikan Demosthenes, negarawan Yunani kuno kepada Raja Philip II dari Macedonia).

Dengan segala upaya ia mencegah Mark Anthony, musuhnya sekaligus pendukung Julius Caesar yang sebelumnya terbunuh untuk berkuasa. Namun, ia sepertinya sudah menyadari akhir upayanya dan kemudian berpesan:

“Saya hanya menginginkan dua hal ini: Pertama, bahwa kematianku akan mengembalikan kebebasan rakyat Roma – para dewa tak bisa memberikan hadiah yang lebih besar daripada itu – dan; Kedua, bahwa setiap orang akan memperoleh penghargaan yang pantas baginya sebagaimana pengabdiannya untuk negeri ini.”

Kisah Kejatuhan dan Kebangkitan Kembali Cicero, Sang Penjaga Api Republik

Selama hampir 500 tahun, Republik Romawi mampu bertahan dari gejolak politik dan perang saudara yang terus menghampirinya. Namun menjelang dimulainya milenia baru ketika itu, situasinya berbeda.

Dua sahabat sejak remaja, mengambil posisi yang berseberangan: Julius Caesar, Sang Jenderal, percaya bahwa Republik yang penuh dengan check and balance yang tiada habisnya, tak mampu menciptakan pemerintahan yang efektif – ia sendiri yang memimpin perubahan itu.

Sebaliknya, Cicero, seorang filsuf dan politisi sipil, masih menaruh harapan yang besar pada Republik, dan melakukan semua yang ia bisa untuk menyelamatkannya. Keduanya, terbunuh. Namun gagasan mereka tetap “hidup” dalam waktu yang lama.

Kekaisaran Romawi yang dirintis Caesar bertahan selama satu setengah milenia. Sampai akhirnya lahir kembali negara-negara Republik modern yang kita kenal hingga hari ini. Sungguh tak ada yang baru di bawah matahari.

Socrates: Hidup Yang Tak Teruji Tak Layak Dijalani

Melalui Plato, kita mengenal sosok Socrates yang jenius dan superior dari sisi intelektual. Namun, melalui Xenophon, muridnya yang lain, Socrates tampil sebagai sosok yang bijaksana.

“Dialog-dialog Socratic” ia gunakan untuk mempersuasi, dan kadang-kadang memprovokasi, lawan bicaranya untuk memiliki pemahaman dan kesadaran baru. Lebih dari itu, Socrates mengajak kita untuk bangkit dan menjadi kuat – secara mental maupun intelektual.

Kehidupan yang layak diraih dengan bekerja keras. Hanya dengan begitu, kita sebagai individu maupun sebagai bangsa, bisa mencapai kemajuan. Socrates, seperti kata Profesor Michael Sugrue, adalah the living voice, walaupun sudah lebih dari dua milenia sejak kematiannya, seruannya masih relevan hingga hari ini.

Michael E. Porter dan Strategi Memenangkan Persaingan (bagi Perusahaan dan Negara)

Dalam dunia strategi manajemen, hanya segelintir orang yang layak disebut sebagai “Guru”. Yang pertama, adalah “Management Guru”, Peter F Drucker. Yang kedua, adalah “Strategy Guru”, Michael E. Porter.

Drucker adalah orang yang berjasa memberikan pondasi bagi “intelektualisasi bisnis” yang berkembang sejak 1960-an. Sedangkan Porter memberikan pisau analisis sekaligus instrumen yang “powerful” bagi perusahaan untuk menjadi lebih kompetitif.

Tulisan ini membahas dua karya terpenting Porter, “The Five Competitive Forces That Shape Strategy” (1979) dan “The Competitive Advantage of Nations” (1990) – yang merupakan dasar pengembangan strategi dalam konteks perusahaan dan negara.

Nikola Tesla VS Thomas Alva Edison: Siapa Pemenang Sesungguhnya?

Di akhir abad ke-19, sebagai penemu lampu pijar, Thomas Alva Edison memiliki keuntungan nama besar dan pemodal di belakangnya, untuk menjadi yang terdepan dalam upayanya menerangi Amerika yang saat itu sedang bergeliat menjadi kekuatan dunia. Ia mengembangkan Direct Current (DC) sebagai sistem penghantar energi bagi lampu pijarnya.

Ia tak menyangka bahwa mantan karyawannya, Nikola Tesla, yang saat itu telah bermitra dengan saingan bisnisnya, George Westinghouse, menjadi penghalang utama. Sesama jenius, Tesla mengembangkan sistem berbeda, Alternating Current (AC) yang ternyata lebih efisien dan lebih mudah proses instalasinya.

Dengan pertimbangan bisnis, terutama keuntungan lebih cepat, para pemodal mencampakkan Edison, bahkan mendepaknya dari kursi pengendali perusahaannya sendiri – lalu berdirilah General Electric, perusahaan yang kini dikenal sebagai raksasa perangkat elektronik. Tesla menang, Edison kalah. Tapi, cerita tak usai sampai di situ. Apa lagi yang terjadi?