Kisah Kebangkitan, Kejayaan dan Kehancuran Dinosaurus

Sekitar 66 juta tahun lalu, bumi kita dihuni oleh mahluk-mahluk buas berukuran raksasa. Ada sauropod sebesar Boeing 737, juga ada T-rex, “Sang Raja”, yang meskipun bukan yang paling besar, tapi adalah yang paling ganas.

Mereka berkuasa selama 135 hingga 150 juta tahun, sebelum kejayaannya dihempaskan alam. Luluh lantak diterjang asteroid selebar 12,5 kilometer yang meluncur lebih dari 40 kali kecepatan suara.

Berbagai penemuan saintifik, yang masih terus terjadi, memungkinkan kita mengkonstruksi kisah ini, dan menyisakan pertanyaan: Bisakah kita, homo sapiens, spesies yang baru muncul 300 ribu tahun lalu, menjadi lebih baik dibandingkan dinosaurus?

Seneca, Nero dan Sulitnya Melahirkan “Pemimpin-Negarawan”

Ia mendidik Nero, hendak menjadikannya negarawan. Namun hidupnya justru harus ia akhiri atas perintah Nero.

Seneca, Sang Filsuf, memang gagal mengubah Nero, tapi ia berhasil membuktikan bahwa kebajikan dapat ditegakkan meskipun harus kehilangan nyawa.

Lewat “On Clemency” dan “On Tranquility of Mind” yang disarikan di sini, ia memprovokasi para calon pemimpin menjadi lebih kuat – menjadi robust.

Kecil Itu Indah 2.0

Melalui “Small Is Beautiful: Economics as If People Mattered (1973)”, E.F. Schumacher menyampaikan gagasan yang romantiknya tentang ekonomi berskala kecil. Ia menyebutnya “Buddhist Economy”. Ekonomi yang memanusiakan manusia dan menolak keserakahan.

Buku yang dikelompokkan di antara 100 buku paling berpengaruh yang diterbitkan sejak Perang Dunia II ini, adalah antitesis terhadap “gigantisme”, dan globalisasi yang ditandai dengan kejayaan perusahaan-perusahaan lintas negara yang “super efisien”.

Hingga awal abad ke-21, gagasan Schumacher sepertinya akan tersingkir untuk selama-lamanya, sampai akhirnya sejumlah krisis – termasuk Pandemi Covid-19 – mulai menunjukkan kerapuhan berbagai perusahaan-perusahaan besar itu.

Sains, sebetulnya, telah menunjukkan pada kita bahwa sebuah sistem yang berkelanjutan tidak mungkin melulu mengandalkan pada efisiensi. Justru di saat krisis, usaha-usaha kecil yang “super resilien”, merupakan penyelamat dari keruntuhan sistem secara keseluruhan.

Inikah saatnya kebangkitan kembali gagasan Schumacher?

Alat Tukar Komplementer Sebagai Solusi Krisis (III): Mengapa Mata Uang Konvensional “Gagal” Menciptakan Kesejahteraan?

Tak banyak yang menyadari bahwa mata uang konvensional yang kita kenal saat ini, memiliki kelemahan intrinsik yang disebabkan karena penggunaan bunga (interest).

Pertama, ia menciptakan kompetisi dan memunculkan pihak yang kalah.

Kedua, mendorong pertumbuhan tiada akhir dan mengancam kelangsungan planet bumi.

Ketiga, menyebabkan akumulasi dan ketimpangan sosial.

Bagaimana bisa? Simak penjelasannya di sini.

Alat Tukar Komplementer Sebagai Solusi Krisis: Mempertimbangkan Kembali Gagasan “Di Luar Kotak” Mendiang Bernard Lietaer

Pada setiap krisis, sirkulasi mata uang menjadi tersendat dan menyebabkan berbagai persoalan sosial.

Solusi konvensional adalah dengan memompa anggaran terbatas melalui jaring pengaman sosial dan berbagai program afirmatif lainnya.

Bernard Lietaer, punya solusi yang tidak konvensional melalui alat tukar komplementer. Cara ini sudah terbukti sukses di berbagai negara dan sudah ada sekitar 4000-an jenis yang beroperasi.

Menurut mantan Trader Top Dunia versi Business Week ini, alat tukar komplementer tertua justru lahir di Bali.

Alat Tukar Komplementer Sebagai Solusi Krisis (II): Eksperimen Singkat Mata Uang Berbunga Negatif dari Sebuah Kota Kecil di Austria

Tahun 1932, ketika depresi besar sudah melanda dunia, Michael Unterguggenberger, Walikota Wörgl bereksperimen dengan mata uang komplementer.

Diberi nama “Stamp Scrip” mata uang itu berbunga negatif. Siapapun yang memegangnya terlalu lama justru akan merugi.

Tapi, dampaknya luar biasa. Stamp Scrip bersirkulasi dengan cepat, meningkatkan perdagangan dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

Sayang, eksperimennya tak bertahan lama. Diberangus Bank Sentral Austria. Kekacauan sosial pun melanda.

Pelajaran dari Marcus Aurelius dan Kaum Stoa Ketika Badai Krisis Tiba

Marcus Aurelius adalah Kaisar Roma legendaris yang dikenal karena kebijaksanaannya.

Di masa hidupnya, ia menghadapi berbagai krisis besar. Salah satunya Wabah Antoninus yang merenggut 5 juta jiwa bangsa Romawi.

Menghadapi krisis yang demikian ia menawarkan sebuah metode berpikir dan cara pandang yang menarik dan relevan untuk kita.

Cara pandangnya berakar dari Stoikisme, yang menempatkan kebajikan sebagai hal tertinggi yang harus dipraktekkan dalam segala situasi.

Bagaimana Keluarga Medici Menciptakan Lingkungan yang Progresif?

Salah satu pencipta lingkungan inkubator terkeren dalam sejarah adalah Keluarga Medici, yang sangat berpengaruh dalam era kebangkitan Eropa atau The Renaissance sejak abad ke-14.

Leonardo da Vinci, Michaelangelo dan Galileo Galilei adalah nama-nama yang muncul karena tradisi dan lingkungan yang diciptakan oleh Keluarga Medici.

Siapa sangka diskusi santai para pemikir yang didanai Medici, kemudian bisa mempengaruhi berbagai perubahan besar. Mulai dari reformasi gereja hingga pendirian berbagai universitas terkenal di dunia Barat.

Mengapa Inkubasi Penting untuk Menciptakan SDM Unggul?

Duapuluhlima tahun dari sekarang, Indonesia akan mencapai 100 tahun kemerdekaannya di tahun 2045.

Apakah Indonesia akan menjadi Negara Maju atau tidak sangat ditentukan oleh apa yang dibangun dan dilakukan saat ini.

Bagi pemuda-pemudi yang saat ini berusia 20-an tahun, mereka kelak akan berada di usia matang dan memegang posisi-posisi kunci.

Namun, semua itu akan tergantung dari proses inkubasi semacam apa yang dilalui.