Seni Kepemimpinan Cyrus Yang Agung (Berdasarkan “Cyropaedia”, Karya Xenophon)

File:Painting of Cyrus the Great in battle.png
Cyrus Berburu Babi Hutan oleh Claude Audran the Younger, Istana Versailles

Lebih dari 2,5 milenia yang lampau, Cyaxares, Raja Media (bagian dari Persia) sedang gundah-gulana. Di hadapan Cyrus, panglima perang dan keponakannya, ia mengemukakan kekhawatirannya. Dalam situasi menghadapi perang dengan Kerajaan Assyria, mereka malah menghadapi ancaman yang datang dari kerajaan-kerajaan sekitarnya. Sementara Kerajaan Armenia, yang merupakan wilayah taklukkannya, menyadari situasi ini, mulai bersikap mbalelo enggan memberikan upeti maupun sumbangan pasukan untuk menghadapi perang.

Di saat yang demikian, Cyrus meminta restu pamannya untuk mengirimkan pasukan ke Armenia, namun dengan tujuan yang aneh: “Menjadikan mereka teman yang lebih loyal dibandingkan saat ini.” Masalahnya, keberangkatan Cyrus harus direncanakan dengan baik tanpa membuat musuh-musuh mereka, khususnya Assyria menyadari, bahwa Cyrus sedang mempersiapkan serangan ke Armenia. Jika hal itu terungkap, pasukan Assyria akan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang Media dan rencana menyergap Armenia pun bisa gagal.

Untuk itu, Cyrus hanya mempersiapkan pasukan dalam jumlah yang lebih kecil dan dengan sengaja memberikan kesan bahwa mereka sedang berburu ke arah pegunungan – yang sebetulnya juga merupakan tempat peristirahatan Raja Armenia saat itu.

Dengan pasukan kecilnya, Cyrus harus memutar otak bagaimana cara menjebak Raja Armenia. Pertama-tama, ia mengirimkan orang kepercayaannya Chrysantas untuk terlebih dahulu menyamar sebagai perampok agar bisa menerobos ke tempat peristirahatan Raja Armenia, lalu menyampaikan pesan ancaman Cyrus terhadapnya. Pasukannya yang lain disiagakan di sekitar situ terutama untuk menutup jalur informasi kepada Raja Armenia. Lewat Chrysantas, Cyrus sengaja memberi kesan bahwa pasukan Media dalam jumlah besar telah bersiap untuk menyerang Armenia. 

Cyrus tak menginginkan ada nyawa yang hilang dari operasinya itu. Jadi, jika anak buahnya harus menyuap orang-orang tertentu untuk mendapatkan atau menutup informasi, ia mempersilakan. Dengan pasukan yang terbatas, ia sengaja melakukan perang persepsi dan melancarkan disinformasi. Ia juga memilih untuk menunggu bersama pasukannya di lembah yang agak tinggi untuk memberi kesan pada para informan Raja Armenia bahwa Cyrus telah membawa pasukan dalam jumlah besar untuk memerangi Armenia.

Rencana itu berjalan mulus. Pasukan Cyrus tanpa kesulitan berarti bisa menghadang Raja Armenia bersama pasukannya. Istri dan anak-anak Raja yang coba melarikan diri pun berhasil ditangkap bersama dengan harta yang mereka coba selamatkan. Cyrus lalu memberi pilihan, ia berseru pada Sang Raja, “Hai Putra Armenia, engkau mau bertempur di sini dalam keadaan lapar dan haus, atau engkau memilih bertempur dataran yang lebih luas?”

Dalam kondisi psikologis yang lemah, Cyrus sebetulnya tahu bahwa Raja Armenia sudah tak mau bertempur. Pada saat itu ia pun memberi kesan akan segera mengadili dan mengeksekusi Sang Raja dalam suasana pengadilan perang. Cyrus mulai dengan mengingatkan perjanjian masa lalu yang pernah disepakati antara Kerajaan Armenia dan Kerajaan Media, yang saat itu tak lagi dipatuhi oleh Raja Armenia – dan yang juga tak bisa disangkal oleh Sang Raja. “Kalau begitu, hukuman apa yang harus aku berikan padamu,” tanya Cyrus.

Pada saat itulah, Tigranes, putra Sang Raja, yang juga pernah menjadi teman berburu Cyrus menawarkan diri untuk menjadi penasihat sekaligus juru bicara ayahnya. Dengan tangkas Tigranes membela ayahnya dari berbagi pertanyaan “ujian” tanpa belas kasihan, yang dilancarkan oleh Cyrus. Di akhir pembelaannya, Tigranes berkata, “jika engkau menyingkirkan kami saat ini, engkau sebetulnya melakukan hal yang lebih merugikan karena ayahku tak lagi bisa membantumu pada saat engkau membutuhkannya kelak.”

Dengan pembelaannya itu, Cyrus merasa puas di dalam hatinya. Ia menganggap bahwa tujuan awal yang ia sampaikan pada pamannya Cyaxares, untuk menjadikan Kerajaan Armenia sebagai “teman yang lebih loyal” tampaknya sudah akan tercapai. Tanpa berlama-lama lagi, ia langsung mengungkapkan permintaannya pada Sang Raja, “Putra Armenia, jika memang aku harus mengampunimu kali ini, katakan berapa banyak pasukan yang akan engkau sumbangkan dan berapa banyak uang yang akan engkau berikan untuk perang kami (terhadap Assyria)?”

Lalu, Sang Raja, mengusulkan bahwa ia akan menyebut pasukan yang mereka miliki dan harta yang ia punyai, lalu Cyrus bisa memutuskan sendiri berapa banyak yang ia butuhkan. “Kami memiliki pasukan kavaleri sebanyak 8.000 dan pasukan infantri 40.000. Kekayaan kami, jika dihitung dengan warisan yang ditinggalkan ayahku, jumlahnya dalam bentuk perak sebesar lebih dari 3000 talenta.”

Tanpa basa-basi, Cyrus berkata, “Dari seluruh persenjataanmu, engkau harus memberikan aku setengahnya, tidak lebih, karena tetanggamu orang-orang Kasdim juga sedang memerangimu: tetapi untuk upeti, bukan lagi lima puluh talenta seperti yang biasa engkau bayarkan sebelumnya, engkau harus menyerahkan dua kali lebih banyak kepada Cyaxares karena sebelumnya gagal bayar.”

“Lalu, engkau akan meminjamkan seratus talenta lagi untukku, dan dengan ini aku berjanji, jika Tuhan memberkati, aku akan membayarmu dengan hal-hal yang lebih tinggi dan layak, atau aku akan membayar uangmu kembali sepenuhnya, jika aku bisa; dan jika aku tidak bisa, engkau mungkin akan menyalahkanku karena kekurangan kemampuanku, tetapi bukan karena kekurangan kemauan.”

Tetapi Putra Armenia itu menyela, “Demi semua dewa, Cyrus, janganlah bicara begitu, engkau bisa membuatku gila. Aku mohon untuk melihat semua yang aku miliki sebagai milikmu, apa yang akan engkau tinggalkan dan juga apa yang engkau akan bawa pulang.”

“Baiklah,” jawab Cyrus, “dan untuk menebus istrimu, berapa banyak uang yang akan engkau berikan?” “Semua yang aku miliki,” katanya.

“Dan untuk anak-anakmu?” “Untuk mereka juga, semua yang aku miliki.” “Baiklah,” jawab Cyrus, “tapi bukankah itu sudah dua kali lipat dari yang engkau miliki?”

“Lalu dengan engkau, Tigranes,” lanjutnya lagi, “dengan harga berapa engkau akan menebus istrimu?” Tigranes yang baru saja menikah itu berkata, “aku akan memberikan hidupku, untuk menyelamatkannya dari perbudakan.”

“Ambil saja dia kalau begitu,” kata Cyrus, “dia milikmu. Karena menurutku dia belum pernah dijadikan tawanan, apalagi suaminya juga tak pernah meninggalkan kami.”

“Dan engkau, Putra Armenia,” katanya sambil berpaling kepada Sang Raja, “engkau harus membawa pulang istri dan anak-anakmu, dan tak usah membayar tebusan untuk mereka, sehingga mereka tak harus merasa bahwa mereka telah kembali kepadamu dari perbudakan. Tapi sekarang,” lanjutnya, “engkau akan tinggal dan makan malam bersama kami, dan setelah itu boleh pergi kemanapun yang engkau inginkan. “

Siapa Cyrus?

Untuk memudahkan, saya akan meminjam penjelasan Larry Hedrick – ahli sejarah militer dan mantan tentara Angkatan Udara AS, yang menulis pengantar dalam “Xenophon’s Cyrus the Great”, versi lebih populer dari “Cyropaedia” – tentang sosok Cyrus:

Cyrus yang Agung (atau Koresh 580-529 SM), mendirikan Kekaisaran Persia pada abad keenam SM. Ialah yang menyatukan Media dan Persia, dua suku asli di wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Iran. Di masa jayanya, Kerajaan Persia pada masa Cyrus dan penerusnya meluas dari India hingga ke Laut Mediterania dan merupakan negara paling kuat di dunia, sampai penaklukannya dua abad kemudian oleh Alexander yang Agung.

Plato, saudara “seperguruan” Xenophon – yang menulis “Cyropaedia”, yang berarti “pendidikan Cyrus” – dan sama-sama berguru pada Socrates, memuji Cyrus sebagai model dari seorang raja yang tercerahkan. Sebagaimana Musa bagi orang Israel, begitu pula posisi Cyrus bagi orang Persia.

Ketika Cyrus menaklukkan Babilonia, ia dipuja oleh orang-orang Yahudi karena membebaskan mereka dari status sebagai tawanan dan mengizinkan mereka yang berjumlah empat puluh ribu orang meninggalkan Babilonia dan kembali ke tanah mereka. Karena kebajikan dan visinya untuk menciptakan perdamaian, Cyrus “diabadikan” dalam Kitab Yesaya 45. Mereka yang ia taklukkan pun menganggapnya sebagai orang yang sungguh-sungguh adil dan jujur.

Dalam catatan Shapour Suren-Pahlav dari Universitas London, Cyrus memang memiliki kedekatan dengan berbagai suku-bangsa pada masa itu. Orang-orang Persia memanggilnya “Bapa,” orang Babilonia menyebutnya “Pembebas,” orang Yunani sebagai “Penyedia Hukum,” dan orang Yahudi sebagai “Yang Diurapi Tuhan. ”

The Cyrus Cylinder di British Museum oleh Mike Peel

Dalam sebuah dokumen berbentuk silinder (Cyrus Cylinder) yang ditemukan pada tahun 1878 selama penggalian situs Babilonia, tergambarkan perlakuan Cyrus yang sangat manusiawi terhadap orang-orang Babilonia setelah penaklukannya atas kota itu. Dokumen itu pun dianggap sebagai piagam hak asasi manusia yang pertama bagi umat manusia.

Sebagai pengakuan, Perserikatan Bangsa-Bangsa pun menerbitkan terjemahan Piagam Hak Asasi Manusia Cyrus dalam setiap bahasa resmi PBB. Sejarawan Will Durant menunjukkan bahwa Cyrus Yang Agung adalah “penakluk yang paling ramah, yang mendirikan kerajaannya atas dasar kemurahan hati. Musuh-musuhnya tahu bahwa dia sangat toleran, dan mereka tidak melawannya dengan keberanian yang didasari keputusasaan sebagaimana yang ditunjukkan oleh orang-orang ketika satu-satunya pilihan mereka yang tersedia, adalah membunuh atau mati.”

Tidak ada pemimpin lain sepanjang zaman kuno yang dapat menandingi cakupan pencapaian Cyrus. Meskipun Alexander Agung (356–323 SM) kadang-kadang dianggap sebagai ahli taktik militer yang lebih hebat, dia melakukan hal-hal berlebihan yang mungkin akan membuat Cyrus Yang Agung bergidik.

Berbeda dengan Cyrus yang memperlakukan orang-orang yang ia taklukkan dengan rasa hormat yang dalam, Alexander terkadang mendesak tentaranya untuk membunuh penduduk sipil. Menurut Hedrick, “ketika wilayah taklukannya semakin luas, Alexander semakin membiarkan dirinya menjadi tiran dengan egoisme yang mengerikan. Jika ada jenderal Cyrus yang bertindak dengan kekejaman yang setara dengan Alexander, dia akan segera dibebaskan dari tugasnya.”

Cerita bagaimana Cyrus menaklukkan Raja Armenia, pada masa-masa awal penaklukannya, sebetulnya menunjukkan bagaimana karakter Cyrus. Ia seorang ahli strategi perang, tegas dalam mengambil keputusan, bijaksana menghadapi musuh yang ditaklukkannya dan pada saat yang sama memiliki visi besar untuk dicapai.

Ada yang menganggap bahwa kemungkinan besar Cyrus Yang Agung adalah orang yang sama dengan Zulkarnain – tokoh yang namanya juga disebut dalam Kitab Suci Al-Qur’an (18:83). Namun, saya bukan ahli sejarah dan belum sempat meneliti referensi-referensi yang tersedia, jadi tidak dapat memberikan pendapat yang dapat dipertimbangkan secara ilmiah.

Tentang Sang Penulis, Xenophon

Siapapun Cyrus, sebagai tokoh sejarah, ia memang memiliki tempat istimewa dalam benak berbagai bangsa. Sampai-sampai Xenophon, salah satu murid Socrates yang sangat menonjol merasa perlu membuat biografinya.

Xenophon sendiri adalah seorang tokoh luar biasa – sehingga wajar jika tulisannya tentang Cyrus menjadi menarik untuk dipelajari. Ia adalah seorang panglima perang, yang keberaniannya terekam dalam buku lain yang ia tulis, yaitu “Anabasis” (judul lainnya adalah “The March of the Ten Thousands”), dan karena kebiasaannya menulis, ia pun dikenal sebagai sejarawan Yunani kuno.

Dunia mengenal Socrates yang tidak pernah menulis buku dan teori, utamanya dari catatan-catatan yang dibuat Plato (“Dialogues”) dan Xenophon (“Memorabilia”, baca juga tulisan sebelumnya “Socrates: Hidup Yang Tak Teruji Tak Layak Dijalani” dalam blog ini). Penggambaran Xenophon terhadap Socrates – sebagai sosok “bijaksana”, yang memiliki nuansa berbeda dengan penggambaran Plato, yang cenderung melihat gurunya sebagai sosok “intelektual” – membuat saya merasa penasaran: Apa yang ia lihat dari Cyrus yang hidup sekitar satu abad sebelumnya? Pesan apa yang hendak ia sampaikan?

Tentu ada juga kritik terhadap tulisan-tulisan Xenophon – mulai dari sikap moralnya karena pernah menjadi tentara bayaran hingga penggambarannya terhadap Cyrus yang dianggap merupakan interpretasi serta imajinasinya sendiri terhadap sosok pemimpin yang ia anggap ideal secara subyektif.

Saya sendiri, tak terlalu ambil pusing dengan kritik semacam itu. Pertama, karena saya merasa tak ada gunanya mempertanyakan landasan moral dari sebuah pilihan politik dan saya menghormati setiap pilihan politik yang berbeda, hingga hari ini pun. Kedua, penulisan sejarah memang tak pernah ada yang bisa lepas dari interpretasi dan subyektivitas, bahkan bias, dari sang penulis.

Seperti saya sampaikan sebelumnya, saya menyadari dan justru ingin tahu seperti apa perspektif seorang jenderal perang dan murid “Scorates bijaksana” terhadap Cyrus. Mungkin saja ia hendak menggunakan Cyrus untuk menyampaikan visi dan strategi yang ia pahami – dan tak ada yang salah dengan itu.

Sementara itu, dalam kacamata pendidikan kepemimpinan, penggambaran Xenophon tentang Cyrus justru diapresiasi oleh “Management Guru”, Peter F. Drucker, (“The Practice of Management”, 1954) sebagai karya perdana tentang kepemimpinan, “dan tetap merupakan yang terbaik.”

Banyak pemikir dan penguasa Zaman Kuno Klasik serta era Renaissance dan abad Pencerahan, dan juga para pendiri bangsa Amerika Serikat yang menjadikan Cyrus Yang Agung sebagai inspirasi mereka. Thomas Jefferson, dikabarkan memiliki dua salinan Cyropaedia, dalam bahasa Yunani dan Latin. Sebuah artikel yang pernah dimuat oleh BBC.com menunjukkan betapa besar pengaruh Cyropaedia terhadap Jefferson yang menjadi penyusun naskah Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat.

Tak ketinggalan, karya terkenal Machiavelli, “The Prince” pun disebut-sebut dipengaruhi oleh Cyropaedia. Seperti dikutip wikipedia, Christopher Nadon, penulis “Xenophon’s Prince: Republic and Empire in the Cyropaedia” (2001) bahkan menggambarkan Machiavelli sebagai orang yang “paling mengetahui Xenophon” dan sebagai “pembaca paling setianya”.

Sejumlah Pesan Inti

Sekarang, mari kita menggali beberapa substansi “pesan” yang saya tangkap dari Cyropaedia (versi yang saya gunakan adalah “Cyropaedia: The Education of Cyrus by Xenophon, Translated by Henry Graham Dakyns, Revised by F.M. Stawell”). Saya berpandangan bahwa, secara garis besar “Cyropaedia” terbagi dalam dua bagian: pertama, adalah bagaimana pendidikan, baik dari sistem pendidikan maupun dari orangtuanya sendiri, mempengaruhi karakter kepemimpinan Cyrus, dan; kedua, bagaimana Cyrus sendiri mempraktekkan hasil dari pendidikan yang diperolehnya itu ke dalam berbagai situasi yang kompleks dan nyata. 

Pengaruh pendidikan kolektif

Xenophon menggambarkan bahwa Persia, ketika Cyrus dibesarkan memiliki tradisi pendidikan kolektif yang berbeda dengan berbagai kerajaan di sekitarnya. Sistem pendidikannya didesain untuk menghasilkan talenta-talenta yang dapat diandalkan untuk memimpin dan mengelola kerajaan, termasuk untuk menghadapi musuh dalam peperangan. Di usia tua, mereka yang terpilih untuk memasuki sistem pendidikan ini diharapkan terus memainkan peran penting dalam masyarakat – misalnya untuk menjadi pengadil dalam berbagai sengketa yang terjadi.

Di pusat kota di media, pemerintah kerajaan membangun sebuah taman tempat berkumpul para warga terdidik yang terbagi dalam empat bagian. Yang pertama untuk anak-anak, yang kedua untuk para pemuda, yang ketiga untuk orang dewasa dan yang keempat untuk mereka yang sudah pensiun dari penugasan militer. Hukum kerajaan mewajibkan mereka untuk berkumpul di sana pada waktu-waktu tertentu – kemungkinan agar pengetahuan dan pengalaman mereka terus terasah dan bermanfaat bagi kerajaan.

Masing-masing bagian atau kelompok ini memiliki pemimpinnya sendiri-sendiri untuk memudahkan koordinasi dan mobilisasi. Kelompok anak-anak dan pemuda disekolahkan dan wajib mempelajari tentang keadilan dan kebenaran, terutama dalam bentuk simulasi tentang sistem peradilan. Berbeda dengan sistem peradilan umum, yang diajarkan untuk anak-anak lebih difokuskan untuk membentuk karakter mereka. “Sikap tidak tahu berterimakasih” misalnya, merupakan sebuah pelanggaran dalam sistem seperti ini.

“Mereka beralasan bahwa orang yang tidak tahu berterima kasih adalah yang paling mungkin melupakan kewajibannya kepada para dewa, kepada orang tuanya, kepada tanah airnya, dan teman-temannya. Mereka berpendapat bahwa tidak tahu malu, erat kaitannya dengan tidak tahu berterima kasih, dan dengan demikian adalah biang keladi dan penghasut utama setiap jenis kejahatan,” ungkap Xenophon.

Anak-anak mengikuti pelajaran mereka sampai usia enam belas atau tujuh belas tahun, dan baru kemudian mereka masuk dalam jenjang pendidikan kepemudaan. Sebagai pemuda mereka digembleng agar memiliki karakter yang teruji.

“Selama sepuluh tahun mereka harus tidur di sekitar gedung-gedung pemerintahan, yang dilakukan karena dua alasan: untuk menjaga komunitas dan sebagai latihan menahan diri; sebab bagi orang Persia, usia pemuda merupakan masa terpenting dalam kehidupan yang paling membutuhkan perhatian.”

Pada siang hari mereka harus menjalankan tugas di hadapan para gubernur yang mewakilik 13 suku Persia untuk melayani negara, dan, jika diperlukan, menjaga keamanan di sekitar gedung-gedung pemerintahan.

“Selain itu, pada saat raja pergi berburu, yang akan dilakukannya beberapa kali dalam sebulan, ia akan membawa setengah rombongan pemuda bersamanya, dan setiap orang harus membawa busur dan anak panah, belati berselubung, atau ‘sagaris’, yang disampirkan di samping tempat anak panah, sebuah perisai ringan, dan dua lembing, satu untuk dilempar dan yang lainnya untuk digunakan, jika perlu, dalam jarak dekat.”

Dalam sistem pendidikan yang demikianlah, pemuda Cyrus dibesarkan. Nilai kebajikan, pelayanan terhadap masyarakat dan negara, serta kemampuan berperang adalah bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan ini. Selepasnya dari pendidikan kepemudaan, Cyrus pun bertugas dalam kemiliteran, dan karena faktor bakat dan kemampuan serta statusnya sebagai cucu dan kemudian keponakan raja (Raja Astyages adalah kakeknya, sedangkan penerusnya, Cyaxares, adalah paman atau adik dari ibunya), ia terpilih menjadi pemimpin angkatan bersenjata Kerajaan Media.

Pendidikan Cambyses, Ayah Cyrus

Berada dalam keluarga kerajaan, Xenophon secara khusus menggambarkan tentang peran ayah Cyrus, Cambyses, bagi kematangan karakter anaknya. Cambyses adalah yang mengajarkan pada Cyrus bahwa “seseorang tidak berhak untuk berdoa memperoleh kemenangan dalam pertempuran jika ia tak pernah belajar menunggangi kuda dan memanah; tidak berhak berdoa meminta keselamatan dalam sebuah kapal jika tak pernah belajar mengemudi, dan; tidak berhak berdoa meminta panen yang berhasil jika tidak pernah belajar menanam, atau; meminta keselamatan jika tak pernah berhati-hati.”

Namun, Cambyses juga yang mengajarkan pada Cyrus hal-hal yang tak ia pelajari di sekolah. Salah satunya adalah bagaimana memikirkan kebutuhan dan kesejahteraan anak buahnya. Ia mengingatkan pada Cyrus bahwa meskipun mendapatkan jabatan sebagai panglima, kebutuhan prajuritnya tidak serta-merta dapat dipenuhi oleh Raja Cyaxares. Untuk memenangkan hati dan loyalitas pasukannya, ia tak boleh mengandalkan apa yang dijanjikan atau disediakan oleh kerajaan. Ini yang harus ia carikan jalan keluarnya sebagai seorang pemimpin – pandangan ini yang tampaknya sangat memengaruhi kebiasaan Cyrus untuk selalu membagi hadiah dan pampasan perang yang ia terimanya untuk anak buahnya terlebih dahulu.

Pelajaran penting lain yang disampaikan Cambyses pada saat Cyrus sudah dewasa adalah untuk “tidak makan berlebihan”. Menurutnya, makan berlebihan adalah penyebab utama kerusakan sistem kesehatan tubuh. Ia meminta pada Cyrus agar kebiasaan menahan diri ini ditularkan pada anak buahnya, karena selain baik buat kesehatan juga merupakan “sumber kekuatan”.

Cambyses menasehati Cyrus, sebagai seorang jenderal, harus terus mengasah kemampuan anak buahnya. Salah satunya dengan mengadakan berbagai kompetisi dan memberikan berbagai hadiah pada para pemenangnya. Standar kemampuan mereka akan meningkat dan akan memudahkan untuk melakukan berbagai tugas yang dibutuhkan. “Pasukan yang demikian akan mampu melakukan berbagai manuver dengan riang gembira, seolah-olah mereka merasa sedang menari,” ungkap Cambyses.

Namun, yang juga teramat penting, adalah mengelola mental anak buahnya. Cambyses mengingatkan bahwa pada waktu-waktu tertentu, harapan mereka akan keberhasilan bisa tinggi, tapi di lain waktu mereka mungkin menangis menghadapi kegagalan dan itu akan terjadi berulangkali. Seorang pemimpin harus bisa mengelola harapan tersebut, meskipun ia sendiri tak tahu akhirnya akan seperti apa. “Ia bahkan harus mempersiapkan diri menghadapi krisis terbesar dan bahaya tertinggi tanpa harus kehilangan sikap positif.”

Cambyses menyampaikan bahwa untuk mendapatkan kemuliaan dan loyalitas dari orang-orang yang dipimpinnya, seorang pemimpin harus lebih bijaksana daripada yang dipimpinnya. “Ketika kepentingan mereka dipertaruhkan, mereka akan mematuhi dengan sukacita orang yang mereka yakini lebih bijaksana dari diri mereka sendiri,” ujar Cambyses.

Namun, ketika ditanyakan bagaimana mengalahkan musuh dalam peperangan, Cambyses memberikan saran yang mengejutkan Cyrus:

“Ini bukanlah tugas yang mudah, aku katakan ini padamu. Jika jenderalmu ingin berhasil, dia harus membuktikan dirinya sebagai ahli perencanaan, pakar bersiasat, penuh tipu daya dan tipu muslihat, pencuri, dan perampok, ia harus mengalahkan dan melampaui batas kemampuan lawannya di setiap kesempatan.”

Cyrus sempat protes karena merasa hal itu bertentangan dengan apa yang disampaikan ayahnya ketika ia masih kecil. “Iya, itu memang pelajaran untuk teman-teman kita dan sesama warga negara,” ujar Cambyses. “Namun,” lanjutnya, “untuk menghadapi musuh-musuhmu – tidakkah kau ingat bahwa engkau dibolehkan melakukan kekerasan?”

Tipu daya tak dibenarkan untuk dilakukan pada sesama teman. “Tapi, dalam perang, kami tidak berharap engkau hanya jadi orang yang sedikit lebih baik dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan yang direkrut.”

Memimpin dengan tidak mementingkan diri sendiri

Kendati “Cyropaedia” banyak bercerita tentang keberhasilan Cyrus dalam memerangi musuh-musuhnya, namun buku ini tidak banyak menggambarkan taktik pertempuran yang dijalankan Cyrus – padahal Xenophon sendiri adalah seorang panglima perang. Yang lebih banyak mengemuka justru “dialog-dialog Socratic” (misalnya antara Cyrus dengan Cambyses, atau antara Cyrus dengan Cyaxares, dan Cyrus dengan orang-orang kepercayaannya) untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang pelik.

Saya menduga ini dilakukan karena Xenophon menganggap bahwa kebijaksanaan dan karakter kepemimpinan Cyrus lebih penting untuk ditampilkan ketimbang taktik perang yang berubah-ubah dan seringkali harus dirahasiakan.

Hal yang paling menonjol dalam kepemimpinan Cyrus adalah bahwa ia tak mementingkan diri sendiri. Setiap kali memenangkan perang, ia memilih untuk memberikan hadiah pada orang-orang terdekatnya yang kemudian meneruskannya pada bawahan mereka. Selain itu, ia akan membiarkan raja yang ditaklukkan untuk tetap berkuasa namun kini wilayahnya harus menjadi bagian dari Kekaisaran Persia.

Atas kebijaksanaannya itu, Gobryas, panglima perang Babylonia yang takluk dan mengabdi padanya, menyimpulkan:

“Aku mulai mengerti, Cyrus, betapa meskipun kami memiliki lebih banyak piala dan lebih banyak emas, lebih banyak pakaian dan lebih banyak kekayaan daripada engkau, namun kami sendiri sebetulnya tak seberharga itu. Kami selalu berusaha meningkatkan kekayaan yang kami miliki, tetapi engkau tampaknya telah menetapkan hatimu, untuk memilih lebih menyempurnakan jiwamu sendiri. “

Cyrus juga punya kebiasaan untuk meminta panglima perang seperti Gobryas atau orang kepercayaan atau tokoh yang menonjol dari pihak yang baru saja ia kalahkan untuk menjadi bagian dari “lingkaran dalamnya” – sehingga ia memiliki orang-orang dekat yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama, termasuk turut diajak berdialog oleh Cyrus dalam pengambilan berbagai keputusan strategis.

Pendekatan seperti ini membuat dukungan terhadap Cyrus menjadi sangat kokoh. Misalnya, pada saat ia dan pasukannya baru saja mengalahkan Kerajaan Assyria, ia mengumpulkan orang-orang kepercayaannya dan mempersilakan mereka untuk meninggalkannya karena tugas mereka sudah selesai dan ia belum bisa “membayar” mereka untuk penugasan berikutnya.

Namun, yang terjadi adalah, mereka tak mau meninggalkannya. Tigranes, yang mengikutinya sejak kekalahannya di Armenia, mengatakan tak mungkin baginya untuk kembali sementara Cyrus masih harus menghadapi musuh-musuhnya. “Di atas segalanya, karena kita telah memiliki seorang pemimpin, yang oleh karenanya saya telah bersumpah demi para dewa, yang dengan senang melayani kita, bukan untuk memperkaya dirinya.”

Menghadapi hasrat memiliki perempuan cantik

Masih dalam situasi baru saja memenangkan perang dengan Assyria,  Araspas teman masa kecilnya menawarkan pada Cyrus untuk mengambil Pantheia, istri dari Abradatas, salah seorang jenderal dari Assyria yang pada saat itu sedang bertugas di tempat yang jauh. Araspas menggambarkan kecantikan Pantheia yang bagaikan para dewi pada Cyrus yang belum sempat melihatnya.

Namun, setelah mendengar penjelasan Araspas, Cyrus malah menolak. “Lebih baik jangan kalau begitu,” kata Cyrus. Jika kecantikan Pantheia seperti itu, “aku khawatir ia akan selalu berhasil memengaruhiku sehingga aku menelantarkan tugas-tugasku dan hanya akan duduk dan menatapnya selamanya.”

“Jadi, menurutmu Cyrus, kecantikan seorang perempuan bisa membuat seorang laki-laki melakukan hal-hal keliru yang bertentangan dengan keinginannya?” tanya Araspas sambil tertawa. “Iya,” jawab Cyrus, yang lalu menceritakan pengalamannya melihat orang-orang yang “diperbudak” oleh cinta meskipun mereka sebelumnya beranggapan bahwa “perbudakan adalah kejahatan paling besar.” “Saya melihat mereka berdoa agar bisa dijauhkan dari jerat hasratnya seolah-olah itu adalah sebuah penyakit berbahaya, tapi mereka tetap tak bisa menghilangkannya.”

Kelak Araspas akan jatuh cinta pada Pantheia namun cintanya tak berbalas. Sedangkan Cyrus justru mempersilakan Pantheia kembali pada suaminya, Abradatas yang kemudian karena merasa berutang budi pada Cyrus memilih mengabdi dan akhirnya gugur ketika berperang di sisi Cyrus. Adapun Pantheia, kemudian mengakhiri hidupnya sendiri di depan jenazah suaminya.

Menjaga kehormatan pimpinan

Keberhasilan Cyrus dalam perang membuatnya dipuja dan dihormati oleh banyak orang dari berbagai bangsa. Namun, hal itu justru membuat Cyaxares, pamannya merasa terluka. Hal itu ia ungkapkan ketika Cyrus yang baru kembali dari peperangan terhadap Assyria menanyakan mengapa Cyaxares menolak menyambutnya dengan ciuman seperti yang biasa ia terima.

Setelah didesak, Cyaxares berterus terang dengan memberikan perumpamaan seperti berikut: “Misalkan seorang teman merawat anjing-anjingmu, anjing yang engkau besarkan untuk menjaga diri dan rumahmu kemudian lebih menyayangi temanmu daripada dirimu sendiri, apakah engkau akan senang dengan perhatian yang diterima temanmu?”

Cyaxares lalu melanjutkan karena situasi yang terjadi sekarang, ia merasa hanya menjadi seperti seseorang yang pasif dan tidak layak untuk mengenakan mahkota kerajaan (sesungguhnya, ini situasi yang mungkin sering kita temui tidak saja dalam politik tapi juga dalam organisasi – terutama ketika seorang bawahan mendapat penghormatan yang melebihi atasannya – namun tak selalu bisa mengatasinya dengan bijaksana).

Dihadapkan pada situasi demikian, Cyrus pun meleleh. Ia tahu kata-kata saja tak bisa menenangkan hati pamannya yang merasa telah terusik kehormatannya. Ia lalu memeluk pamannya dan memintanya untuk mengujinya, “jika kelak engkau melihat bahwa aku sudah membuatmu merasa lebih baik, pada saat itu, jika aku memelukmu, peluklah aku kembali dan sambut aku sebagai pelindungmu, dan jika tidak, engkau bisa menyalahkanku sesukamu.”

Pada akhirnya, dalam sejarah versi “Cyropaedia”-nya Xenophon ini, Cyaxares menikahkan putrinya yang cantik dengan Cyrus, sepupunya sendiri (hal yang lazim terjadi dalam berbagai kerajaan pada saat itu). Sebuah keputusan politik yang tepat, karena dengan demikian Cyrus pun dengan sendirinya menjadi kandidat yang sah sebagai penerus Raja Media, sampai kemudian ia memimpin Kekaisaran Persia.

Catatan Penutup

Saya harus mengakui bahwa saya cukup kesulitan untuk memilih substansi pesan dari “Cyropaedia”, karena sebetulnnya terdapat sejumlah dialog lain yang sangat memikat. Dialog antara Cyrus dengan Cyaxares, aslinya lebih panjang dari yang saya tampilkan. Begitu juga yang terjadi antara Cyrus dan orang-orang kepercayaannya. Sebagai murid Socrates, Xenophon tampaknya terbawa dengan gaya “dialog-dialog Socratic” yang mencerahkan untuk mempersuasi pembaca menangkap substansi yang hendak ia sampaikan melalui buku ini.

Kalau Anda tertarik dengan tema kepemimpinan, saya menganjurkan untuk membaca sendiri buku ini, karena ada beberapa hal yang tak sempat saya masukkan – misalnya tentang bagaimana membangun hirarki organisasi dan memilih orang-orang kepercayaan – dan sebagian lagi saya harus perpendek. Alasannya, karena waktu saya terbatas, dan tulisan ini sudah lumayan panjang (sementara saya belum menemukan celah untuk menyisipkan kata ‘dinousaurus’).

Buku ini adalah favorit saya, karena sejumlah alasan – tokoh yang ditulis dan penulisnya sama-sama istimewa, tema dan problematika kepemimpinan yang diangkatnya tidak klise dan masih relevan hingga saat ini, dan terakhir, proporsi politik praktis dan nilai kebajikan yang ditawarkan dalam buku rasanya cukup pas ramuannya. Ada idealisme, namun ada juga sisi kehidupan yang praktis. Demikian, terima kasih telah menyimak.

Cyrus The Great, Manusia, Garis Seni, Elang, Burung