Bagaimana Keluarga Medici Menciptakan Lingkungan yang Progresif?

Photo bay David Mark from Pixabay

Lingkungan membentuk kita menjadi “ahli” dalam segala hal. Negatif maupun positif. Jagoan atau bajingan.

Sewaktu mendekam di Rumah Tahanan Salemba karena “kenakalan mahasiswa” di masa Orde Baru, saya perhatikan, seorang maling bisa naik kelas menjadi perampok, karena mendapatkan mentor di lingkungan penjara. Ketika kelak dia tertangkap lagi, selain tatonya bertambah banyak, pasal yang dilanggar bukan lagi 362 atau 363 KUHP, tapi sudah jadi 365 KUHP. Statusnya sudah lebih terhormat…

Di lingkungan penjara tentu saja.

Hal yang saya anggap paling berharga di dunia kampus sesungguhnya adalah lingkungan yang mendorong kami untuk belajar berbagai macam pengetahuan dan skill serta mengembangkan jaringan. Dari seorang introvert yang terlalu gugup untuk menyampaikan pendapat di depan kelas sewaktu SMA, saya dipaksa para senior untuk jadi moderator dan bahkan pembicara dalam berbagai kegiatan mahasiswa.

Catalin Matei dalam artikel “How The Environment Shapes Us” berpandangan bahwa lingkungan bahkan berpengaruh lebih besar pada manusia dibandingkan dengan faktor genetika. Dalam wawancaranya dengan Bob Proctor, Profesor Sejarah Sains dari Stanford University, Matei diberikan contoh tentang seorang anak yang lahir di Serbia dan dibesarkan di New York. Anak itu tumbuh dewasa mengadopsi budaya Amerika serta mempunyai kemampuan berbahasa Inggris yang sempurna.

“Ini yang disebut dengan epigenetik, yaitu bahwa gen kita dipengaruhi oleh rangsangan eksternal.” Faktor genetika memang mempengaruhi manusia sebagai sebuah kecenderungan atau potensi. Namun faktor lingkungan yang memberikan arah bagi pertumbuhan manusia.

“Kita perlu memahami bahwa 3-4 orang terdekat dalam hidup kita memiliki dampak paling besar pada kita. Itu bisa jadi orang tua anda, sahabat anda, guru anda, pasangan anda, dan sebagainya. Tetapi 4 orang yang paling sering Anda habiskan waktu bersama mereka itu adalah orang-orang yang membuat Anda menjadi diri anda.”

Lebih dari itu, “jika mereka berada dalam kondisi mental yang berbahaya dan mereka menikmati situasi itu – energi negatif mereka akan memengaruhi Anda, jika mereka adalah pengeluh – Anda juga akan menjadi pengeluh, jika mereka payah dalam menjaga hubungan – Anda akan cenderung melakukan hal sama.”

Ini menjelaskan dalam berbagai bidang, mengapa kehadiran coach atau mentor memiliki peran sangat vital dalam kepiawaian seorang talenta. Dalam organisasi pun demikian.

Selain orang-orang terdekat yang memungkinkan kita bertemu secara fisik dan langsung, lingkungan tak langsung juga turut mempengaruhi pikiran, sikap serta karakter kita sebagai manusia. Media dan socmed, misalnya. Apa yang kita baca, kita dengar dan kita lihat melalui media secara langsung “mendikte” apa yang akan dikonsumsi oleh otak kita.

Seberapa banyak anggota keluarga di rumah kita yang bisa secara kritis menyatakan bahwa, “kok topik yang diangkat oleh media cuma ini-ini saja sih?”

Beruntung masyarakat yang punya kebiasaan untuk mengisi waktu luang dengan buku atau membaca bahan-bahan bermutu, atau sekarang dengan podcast, berbagai produk audiovisual termasuk film yang keren. Isi kepala mereka akan diwarnai dengan berbagai perspektif yang kaya.

Secara kolektif, masyarakat seperti inilah yang menjadi penopang kemajuan peradaban. Bayangkan apa jadinya kalau masyarakat di sebuah negara, tidak punya minat baca yang tinggi tapi sangat aktif di media sosial? Pastilah mereka… akan membutuhan Revolusi Kebudayaan, Sodara-Sodara! (Tetap semangat!)

Mungkin karena sadar akan arti penting lingkungan, para pemimpin dari berbagai tradisi agama dan budaya tampaknya memang dengan sengaja memanfaatkan atau menciptakan lingkungan yang bisa menjadi inkubator terhadap upaya untuk menjaga tatanan masyarakat atau mendorong perubahan di dalamnya (tentang peran “inkubasi” dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, bisa dibaca di sini).

Dalam tradisi Buddhisme yang sudah belangsung sejak 2500-a tahun silam, Sangha (berasal dari Bahasa Pali yang sering diartikan sebagai komunitas atau asosiasi), tak lain adalah lembaga yang bertanggung jawab untuk melestarikan ajaran-ajaran Buddha.

Sangham saranam gacchami. Aku berlindung pada Sangha, sudah menjadi keyakinan dalam tradisi ini.

Tradisi Kristen dan Islam pun sesungguhnya mengenal dan mempunyai lingkungan yang menginkubasi seperti ini, dalam bentuk asrama, retreat atau pesantren. Substansi yang dipelajari bisa berbeda, tapi metode yang digunakan mempunyai banyak kemiripan.

Bagi kita, pelajarannya adalah, jangan hanya “pasrah” menerima lingkungan yang ada di depan kita.

Daripada membiarkan lingkungan mendikte apa yang seharusnya kita lakukan, mengapa tidak menciptakan lingkungan yang bisa mendorong kemajuan?

Daripada pasrah menerima isi kepala kita diisi dengan hoax, mengapa tidak memenuhi ruang publik dengan berbagai kisah inspiratif? Daripada terus-menerus mengkonsumsi informasi penuh kebencian di berbagai WA Group, mengapa tidak membuat komunitas baru yang menyenangkan dan produktif?

Bagi para senior yang sudah memasuki pensiun: Daripada berdiam diri di rumah dan menunggu cucu yang makin lama makin besar dan mulai enggan ditunggui kakek-neneknya, mengapa tidak membangun komunitas belajar, komunitas mentor atau mungkin kelompok studi tentang komputasi kuantum (keren kan?).

Mengapa tidak? Kan tidak ada salahnya.

Almarhumah Ibu saya, sebelum meninggal dunia, di usia mendekati 70 tahun, masih suka menyetir mobil Nissan Terrano manual dan aktif dalam komunitas yang ia dan teman-temannya namakan “Komunitas Kejar Tayang”. Seriously!

Salah satu pencipta lingkungan terkeren dalam sejarah adalah Keluarga Medici. Kisahnya bisa dibaca dalam buku “The Medici Effect” karya Frans Johansson, yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Serambi sejak tahun 2007 (buku aslinya dalam Bahasa Inggris diterbitkan oleh Harvard Business School Press, dan dianggap salah satu karya penting tentang inovasi).

Keluarga Medici dianggap berpengaruh dalam era kebangkitan Eropa atau The Renaissance yang dimulai dari abad ke-14. Keluarga ini barangkali tidak pernah memikirkan tentang dampak dari apa yang mereka lakukan untuk mengumpulkan para pelukis, pematung, penyair, ilmuwan, filsuf, pemodal dan sebagainya untuk berkolaborasi.

Mereka tidak mungkin menjadi cikal bakal gerakan yang kemudian menyeret Eropa keluar dari abad kegelapan dan memasuki modernitas jika hanya berkumpul untuk bergosip atau membahas hoax. Dimulai di kota Florence, mereka menginisiasi lingkungannya sendiri, mengisi hari-harinya dengan berbagai pertanyaan mendasar dan persoalan krusial yang jawabannya kemudian membawa masyarakatnya keluar dari kepicikan dan keterbelakangan.

Pic by Вера Мошегова from Pixabay

Leonardo da Vinci, Michaelangelo dan Galileo Galilei adalah nama-nama yang muncul karena tradisi dan lingkungan yang diciptakan oleh Keluarga Medici. Dengan uang yang diperolehnya dari mengajar anak-anak Medici, Galilei diam-diam memetakan cara kerja alam semesta. Da Vinci, secara khusus, mempelajari hampir semua ilmu penting yang menjadi dasar kebangkitan Eropa – mulai dari konsep sains klasik, filsafat dan politik yang telah hilang dalam percakapan di ruang publik selama berabad-abad.

Keluarga Medici memang keluarga yang kaya, dimulai dari berdagang kemudian menjadi bankir terkemuka. Tidak ada cukup penjelasan tentang bagaimana mereka menjadi kaya dan berpengaruh, namun saya menduga bahwa tradisi intelektual yang dimulai oleh keluarga itu tampaknya juga memberikan dampak pada strategi dan kemahiran mereka dalam mengumpulkan kekayaan.

Oleh karena inisiatif mereka, umat manusia mengalami lompatan-lompatan kemajuan dan inovasi yang menjadikannya superior dibandingkan ketika dinousaurus menjadi penguasa bumi. Siapa sangka diskusi santai para pemikir yang didanai Medici, kemudian bisa mempengaruhi berbagai perubahan besar. Mulai dari reformasi gereja hingga pendirian berbagai universitas terkenal di dunia Barat.

Perpustakaan yang dibangun serta karya-karya seni monumental yang diproduksi dan dikumpulkan di Florence sejak abad ke-14 hingga abad ke-17, menjadikan kota itu sebagai mercu suar budaya yang tak tertandingi selama The Renaissance. Minat baru dalam metode ilmiah lantas menyebar dari kota itu ke seluruh Eropa, terlebih ketika kemajuan yang terjadi di sana disokong pula oleh penemuan mesin cetak pada paruh kedua abad ke-15.

Boom. Selanjutnya, revolusi informasi dimulai.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s