Leonardo Da Vinci: Apa yang Menjadikannya Jenius?

“Seorang talenta mampu menyasar target yang tak bisa disasar oleh orang lain,” kata filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer. Namun, “seorang jenius menyasar target yang tak terlihat oleh orang lain.”

Leonardo Da Vinci adalah representasi kejeniusan era Renaissance Italia yang hingga kini pun masih sulit dicarikan tandingannya.

Ia menjadi jenius karena tak pernah “berhenti” belajar sekaligus berkarya – hal ini juga tercermin dalam masterpiece yang tak pernah benar-benar ia selesaikan, “Mona Lisa”.

Sains dan Perlombaan Menaklukkan Virus

Pandemi COVID-19 telah mengakselerasi berbagai penelitian saintifik untuk menemukan metode deteksi, pencegahan dan penyembuhan yang paling efektif.

Untuk penyembuhan, metode konvensional yang mengandalkan respon sistem kekebalan tubuh terhadap bagian dari virus ataupun virus yang sudah dimatikan dan disuntikkan ke tubuh manusia masih diandalkan saat ini.

Namun, metode baru yang terinspirasi temuan dua peraih Nobel Kimia 2020, Jennifer Doudna dan Emmanuelle Charpentier – yaitu CRISPR-Cas9, enzim yang ditemukan dalam bakteri untuk memerangi virus – tampaknya dapat menjadi solusi jangka panjang yang menjanjikan.

Ketika Manusia Akhirnya Bisa Mendesain Manusia

Selama lebih dari tiga milyar tahun, mahluk hidup berevolusi sesuai dengan kode genetik yang secara natural “digariskan” di dalam dirinya. Namun, sejak akhir tahun 2018, manusia telah terbukti mampu meretas kode genetik tersebut dan “menciptakan” bayi sesuai keinginannya.

Inilah disrupsi terbesar di dalam masa kehidupan kita. Sebagaimana terjadi dalam banyak revolusi atau perubahan besar, peristiwa ini memunculkan kekhawatiran sekaligus harapan.

Akankah umat manusia menjadi lebih baik dengan kekuasaan baru yang dimilikinya itu?

Dua Strategi Menciptakan Kesejahteraan Ala Daniel Kahneman

“Nila setitik rusak susu sebelanga.” Seseorang bisa saja menjalani hidup yang bahagia lebih dari separuh usianya. Namun karena satu peristiwa tragis, ia bisa merasa menderita hingga akhir hayatnya.

Fakta bahwa ia pernah menjalani durasi hidup bahagia yang lebih lama, mendadak terlupakan. Tapi, hal sebaliknya juga bisa terjadi: “kemarau setahun terhapus oleh hujan sehari.” Inilah yang disebut sebagai “tirani diri yang mengingat” (remembering self).

Tulisan ini mengupas pandangan Daniel Kahneman, satu-satunya psikolog peraih Nobel Ekonomi, tentang “dua macam diri manusia”, dan bagaimana menerjemahkan perspektif ini untuk menciptakan kesejahteraan dalam organisasi maupun negara.

Yuval Noah Harari, Homo Sapiens dan Ajakan Membangun Solidaritas Global di Tengah Pandemi

Ketiga karyanya, “Sapiens”, “Homo Deus” dan “21 Lessons for 21st Century” terjual lebih dari 25 juta eksemplar, Yuval Noah Harari adalah seorang pemikir selebriti. Pemikirannya bukan yang paling baru, juga bukan yang paling dalam. Tapi ibarat alarm, mencoba mengingatkan kita akan sebuah identitas yang sebelumnya sangat jarang dibincangkan.

Eksistensi dan identitas kita sebagai homo sapiens perlu kita sadari, karena dengan menggunakan sudut pandang ini kita bisa lebih memahami tantangan-tantangan dunia yang kita hadapi – seperti kebangkitan artificial intelligence, monopoli data digital hingga pemanasan global – yang membutuhkan respon kolektif.

Di tengah persoalan global yang secara nyata telah menghampiri kita saat ini, yaitu Pandemi COVID-19, sudah saatnya menyambut ajakan Harari untuk membangun solidaritas global.

Blue Ocean Strategy, Black Swan & Upaya Mencari Rumus Berpikir Di Luar Kotak

Dari masa ke masa, inovasi selalu muncul dan menyebabkan kesuksesan yang fenomenal dari para inovator. Sabermetrik misalnya, adalah “game changer” yang menjadikan Oakland Athletics sebagai klub bisbol dengan rekor kemenangan terbanyak di Amerika Serikat pada tahun 2002.

Dalam pengamatan dua profesor asal INSEAD, W. Chan Kim dan Renée Mauborgne pendekatan di luar kotak seperti ini, tak hanya terjadi dalam dunia olahraga, tapi dalam berbagai sektor lain. Dalam penelitiannya, sudah banyak perusahaan yang sukses karena menerapkan “Blue Ocean Strategy” (2004).

Intinya adalah melepaskan diri dari pasar yang sempit dan menciptakan “permintaan” baru, sehingga kompetisi menjadi tidak relevan. Pertanyaannya, adakah cara praktis untuk menerapkan pendekatan di luar kotak ini? Benarkah tudingan para pengkritik bahwa pendekatan ini hanya mampu membuat deskripsi tapi tak cukup untuk menjadi preskripsi?

Pendekatan “Yin-Yang” dalam Menyusun Visi yang Efektif

Tak dapat disangkal bahwa keberhasilan sebuah organisasi – perusahaan hingga negara – sangat ditentukan oleh kerja keras dan kerja cerdas seluruh komponen pendukungnya. Namun, visi yang jelas, ternyata tak kalah pentingnya.

Sebuah studi yang dilakukan atas perusahaan-perusahaan paling sukses di lantai bursa sejak 1925, menunjukkan betapa vital peran visi yang efektif dalam keberlanjutan organisasi perusahaan.

Tulisan ini menjelaskan dua aspek penting dalam penyusunan visi yang efektif: “Core ideology” atau ideologi inti dan “envisioned future” atau masa depan yang dikehendaki. Pelajari bagaimana perusahaan elektronika asal Jepang, Sony, menyusun visinya.

Plato, Negara yang Adil & “The Philosopher King”

Ditulis sekitar tahun 375 SM, “The Republic” karya Plato adalah salah satu hasil pemikiran filsafat dan teori politik yang paling besar pengaruhnya di dunia. Para tokoh dan pemikir terkemuka dari zaman Romawi kuno seperti Cicero hingga filsuf Inggris abad ke-20 Bertrand Russel dan Leo Strauss turut mengkaji buku ini secara mendalam.

Dalam dunia Islam, Ibnu Rushid (Averroes), pemikir asal Andalusia abad ke-12 yang menguasai berbagai bidang ilmu pun turut menuliskan komentarnya terhadap “The Republic”. Di tahun 2001, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Philosopher’s Magazine buku ini dinobatkan sebagai karya terbesar filsafat.

Ide mendasar buku ini adalah tentang keadilan dan bagaimana mewujudkannya. Bagi Plato, negara yang adil harus memiliki jiwa-jiwa yang adil pula. Bentuk negara bisa berubah, dan selalu berubah, jika berkaca pada sejarah. Apapun bentuk negaranya, Plato menganjurkan untuk selalu membangun pendidikan bagi para calon pemimpin agar ada yang dapat menjadi “The Philosopher King”.

Cicero tentang Kepemimpinan dan Kenegarawanan II (Selesai)

Upaya terakhir Cicero mempertahankan Republik Roma ia sampaikan dalam rangkaian 14 pidatonya di depan Senat antara tahun 44 hingga 43 SM, yang dikenal sebagai “Philippics” (ia menganalogikan pidatonya seperti yang disampaikan Demosthenes, negarawan Yunani kuno kepada Raja Philip II dari Macedonia).

Dengan segala upaya ia mencegah Mark Anthony, musuhnya sekaligus pendukung Julius Caesar yang sebelumnya terbunuh untuk berkuasa. Namun, ia sepertinya sudah menyadari akhir upayanya dan kemudian berpesan:

“Saya hanya menginginkan dua hal ini: Pertama, bahwa kematianku akan mengembalikan kebebasan rakyat Roma – para dewa tak bisa memberikan hadiah yang lebih besar daripada itu – dan; Kedua, bahwa setiap orang akan memperoleh penghargaan yang pantas baginya sebagaimana pengabdiannya untuk negeri ini.”

Cicero tentang Kepemimpinan dan Kenegarawanan

Anthony Everitt, penulis biografi Cicero, bilang bahwa pengaruh tokoh yang ia bukukan itu muncul lebih karena kehidupannya ketimbang pemikiran filosofinya. Tetapi, Cicero adalah orang yang menjalani dengan konsekuen apa yang ia tuliskan.

Sehingga, dengan membaca tulisan-tulisannya kita bisa memahami, pandangan serta pilihan tindakan, termasuk sikap kompromistis, yang ia ambil. Lebih dari itu, karya Cicero, sebagaimana orasinya, sangat menggugah. Hidup. Bukan sekedar bermain kata-kata.

Itu sebabnya ia mampu menyentuh hati dan pikiran para tokoh Pencerahan di abad ke-18 – seperti John Locke, David Hume, Montesquieu, dan Edmund Burke. Seperti kata sejarawan Tadeusz Zieliński, “Renaisans, di atas segalanya, adalah kebangkitan Cicero.”