Socrates: Hidup Yang Tak Teruji Tak Layak Dijalani

Melalui Plato, kita mengenal sosok Socrates yang jenius dan superior dari sisi intelektual. Namun, melalui Xenophon, muridnya yang lain, Socrates tampil sebagai sosok yang bijaksana.

“Dialog-dialog Socratic” ia gunakan untuk mempersuasi, dan kadang-kadang memprovokasi, lawan bicaranya untuk memiliki pemahaman dan kesadaran baru. Lebih dari itu, Socrates mengajak kita untuk bangkit dan menjadi kuat – secara mental maupun intelektual.

Kehidupan yang layak diraih dengan bekerja keras. Hanya dengan begitu, kita sebagai individu maupun sebagai bangsa, bisa mencapai kemajuan. Socrates, seperti kata Profesor Michael Sugrue, adalah the living voice, walaupun sudah lebih dari dua milenia sejak kematiannya, seruannya masih relevan hingga hari ini.

Michael E. Porter dan Strategi Memenangkan Persaingan (bagi Perusahaan dan Negara)

Dalam dunia strategi manajemen, hanya segelintir orang yang layak disebut sebagai “Guru”. Yang pertama, adalah “Management Guru”, Peter F Drucker. Yang kedua, adalah “Strategy Guru”, Michael E. Porter.

Drucker adalah orang yang berjasa memberikan pondasi bagi “intelektualisasi bisnis” yang berkembang sejak 1960-an. Sedangkan Porter memberikan pisau analisis sekaligus instrumen yang “powerful” bagi perusahaan untuk menjadi lebih kompetitif.

Tulisan ini membahas dua karya terpenting Porter, “The Five Competitive Forces That Shape Strategy” (1979) dan “The Competitive Advantage of Nations” (1990) – yang merupakan dasar pengembangan strategi dalam konteks perusahaan dan negara.

Nikola Tesla VS Thomas Alva Edison: Siapa Pemenang Sesungguhnya?

Di akhir abad ke-19, sebagai penemu lampu pijar, Thomas Alva Edison memiliki keuntungan nama besar dan pemodal di belakangnya, untuk menjadi yang terdepan dalam upayanya menerangi Amerika yang saat itu sedang bergeliat menjadi kekuatan dunia. Ia mengembangkan Direct Current (DC) sebagai sistem penghantar energi bagi lampu pijarnya.

Ia tak menyangka bahwa mantan karyawannya, Nikola Tesla, yang saat itu telah bermitra dengan saingan bisnisnya, George Westinghouse, menjadi penghalang utama. Sesama jenius, Tesla mengembangkan sistem berbeda, Alternating Current (AC) yang ternyata lebih efisien dan lebih mudah proses instalasinya.

Dengan pertimbangan bisnis, terutama keuntungan lebih cepat, para pemodal mencampakkan Edison, bahkan mendepaknya dari kursi pengendali perusahaannya sendiri – lalu berdirilah General Electric, perusahaan yang kini dikenal sebagai raksasa perangkat elektronik. Tesla menang, Edison kalah. Tapi, cerita tak usai sampai di situ. Apa lagi yang terjadi?

Pemimpin-Fasilitator dan Seni Memimpin Orang-Orang Pintar

Selama puluhan tahun “Management Guru” Peter F. Drucker mengamati, masyarakat modern berkembang cepat menuju knowledge society (masyarakat berpengetahuan) yang didahului lahirnya knowledge worker (pekerja berpengetahuan).

Butuh konsep kepemimpinan baru untuk mengelola kelas pekerja dan masyarakat baru ini. Bos “serba tahu” tidak lagi relevan. Yang dibutuhkan adalah “pemimpin-fasilitator” untuk mengelola “aset pengetahuan dan kemampuan” seluruh timnya secara kolegial.

Tulisan ini memberikan sejumlah prinsip dan tips yang diperlukan untuk memfasilitasi secara efektif – agar “orang-orang pintar” mau bekerjasama mencapai tujuan bersama organisasi.

Kisah Kebangkitan, Kejayaan dan Kehancuran Dinosaurus

Sekitar 66 juta tahun lalu, bumi kita dihuni oleh mahluk-mahluk buas berukuran raksasa. Ada sauropod sebesar Boeing 737, juga ada T-rex, “Sang Raja”, yang meskipun bukan yang paling besar, tapi adalah yang paling ganas.

Mereka berkuasa selama 135 hingga 150 juta tahun, sebelum kejayaannya dihempaskan alam. Luluh lantak diterjang asteroid selebar 12,5 kilometer yang meluncur lebih dari 40 kali kecepatan suara.

Berbagai penemuan saintifik, yang masih terus terjadi, memungkinkan kita mengkonstruksi kisah ini, dan menyisakan pertanyaan: Bisakah kita, homo sapiens, spesies yang baru muncul 300 ribu tahun lalu, menjadi lebih baik dibandingkan dinosaurus?

Jurgen Klopp dan “People Strategy”

Setelah menunggu selama 30 tahun, Liverpool kembali menjadi yang terbaik di Inggris. Hal ini melengkapi kesuksesan mereka secara finansial yang meningkat 122 persen (menjadi sekitar 1,9 milyar dolar AS) sejak 2015.

Terdapat sejumlah faktor yang bisa disebutkan sebagai penentu keberhasilan klub yang tahun lalu baru merebut tropi Liga Champions itu. Para pemain yang berbakat, fans yang luar biasa, manajemen yang modern, serta kultur yang telah terbangun selama puluhan tahun adalah beberapa di antaranya.

Namun faktor Jurgen Klopp, sebagai pelatih, tak pelak lagi merupakan salah satu yang terpenting.

Seneca tentang Singkatnya Kehidupan dan Bagaimana Menjalani Hidup Tanpa Bergantung pada Nasib

De Brevitate Vitae adalah karya yang wajib dibaca bagi siapapun yang hendak mengenal Seneca. Jika Anda tak berkesempatan membaca ratusan surat dan esainya yang lain, bacalah yang satu ini.

Bukan saja karena terdapat banyak kalimat “layak kutip”, tapi juga karena topik yang dibahas relevan untuk semua orang dengan berbagai latar belakang. Buat pemimpin, tapi juga buat awam.

Sebab, sekali atau mungkin beberapa kali, dalam hidup kita, kita pasti akan dihadapkan pada pertanyaan ini: “apakah kita telah menjalani hidup sebaik-baiknya?”

Seneca, Nero dan Sulitnya Melahirkan “Pemimpin-Negarawan”

Ia mendidik Nero, hendak menjadikannya negarawan. Namun hidupnya justru harus ia akhiri atas perintah Nero.

Seneca, Sang Filsuf, memang gagal mengubah Nero, tapi ia berhasil membuktikan bahwa kebajikan dapat ditegakkan meskipun harus kehilangan nyawa.

Lewat “On Clemency” dan “On Tranquility of Mind” yang disarikan di sini, ia memprovokasi para calon pemimpin menjadi lebih kuat – menjadi robust.

Miyamoto Musashi: Dari “Jalan Pedang” Menuju “Jalan Kesendirian”

Melewati 61 pertarungan tanpa terkalahkan, Musashi adalah legenda yang terus menjadi inspirasi bagi bangsa Jepang dan banyak pengagumnya.

Dipengaruhi oleh Buddhisme Zen, Jalan Pedang yang dianutnya membuat Musashi terus berubah mengikuti ritme alam. Dari ahli pedang panjang, menjadi ahli pedang kayu (bokken).

Pada gilirannya, Jalan Pedang pun harus dilepaskannya agar memasuki Jalan Kesendirian. Tulisan ini menggali kedua Jalan tersebut bersumber dari 2 karya Musashi sendiri.

Tawar-Menawar Tanpa “Baper” Ala Mantan Negosiator Pembebasan Sandera FBI (Seni Mengambil Keputusan II)

Ilmu negosiasi yang berkembang sejak awal 1980-an – dipelopori oleh Harvard Negotiation Project – sangat dipengaruhi pandangan tentang rasionalitas manusia dan “game theory” yang saat itu adalah primadona.

Namun, setelah sejumlah kegagalan akibat peristiwa penculikan dari orang-orang dengan masalah mental-emosional, FBI mengembangkan pendekatan sendiri yang lebih empatik.

Chris Voss, negosiator FBI dengan pengalaman lebih dari dua dekade, menjelaskan prinsip-prinsipnya – yang berbasis pada pendekatan berpikir “cepat dan lambat” dari Daniel Kahneman. Lalu melengkapinya dengan jurus-jurus praktis yang telah teruji.