Dua Strategi Menciptakan Kesejahteraan Ala Daniel Kahneman

“Nila setitik rusak susu sebelanga.” Seseorang bisa saja menjalani hidup yang bahagia lebih dari separuh usianya. Namun karena satu peristiwa tragis, ia bisa merasa menderita hingga akhir hayatnya.

Fakta bahwa ia pernah menjalani durasi hidup bahagia yang lebih lama, mendadak terlupakan. Tapi, hal sebaliknya juga bisa terjadi: “kemarau setahun terhapus oleh hujan sehari.” Inilah yang disebut sebagai “tirani diri yang mengingat” (remembering self).

Tulisan ini mengupas pandangan Daniel Kahneman, satu-satunya psikolog peraih Nobel Ekonomi, tentang “dua macam diri manusia”, dan bagaimana menerjemahkan perspektif ini untuk menciptakan kesejahteraan dalam organisasi maupun negara.

Tawar-Menawar Tanpa “Baper” Ala Mantan Negosiator Pembebasan Sandera FBI (Seni Mengambil Keputusan II)

Ilmu negosiasi yang berkembang sejak awal 1980-an – dipelopori oleh Harvard Negotiation Project – sangat dipengaruhi pandangan tentang rasionalitas manusia dan “game theory” yang saat itu adalah primadona.

Namun, setelah sejumlah kegagalan akibat peristiwa penculikan dari orang-orang dengan masalah mental-emosional, FBI mengembangkan pendekatan sendiri yang lebih empatik.

Chris Voss, negosiator FBI dengan pengalaman lebih dari dua dekade, menjelaskan prinsip-prinsipnya – yang berbasis pada pendekatan berpikir “cepat dan lambat” dari Daniel Kahneman. Lalu melengkapinya dengan jurus-jurus praktis yang telah teruji.

Seni Mengambil Keputusan: Berguru Pada Daniel Kahneman, Satu-Satunya Psikolog Peraih Nobel Ekonomi

Banyak kemajuan manusia dihasilkan karena rasionalitas. Tapi studi tentang pengambilan keputusan di era modern menunjukkan bahwa rasionalitas murni itu ilusi.

Daniel Kahneman memperkenalkan dua sistem berpikir manusia – sistem cepat dan sistem lambat – yang kadang saling bekerjasama, kadang bertentangan dalam membuat keputusan.

Sederhana, namun berdampak luas dan dahsyat. Dihasilkan dari dedikasi di bidang penelitan selama lebih dari 60 tahun.

Memahaminya dapat membantu kita membuat kebijakan yang lebih baik, berkomunikasi lebih baik, bahkan bernegosiasi lebih baik.

Membangun Ketahanan Mental-Emosional Di Saat Krisis

“Logika membuatmu berpikir, emosi membuatmu bertindak,” kata Alan Weiss, konsultan senior ternama.

Dalam keadaan krisis, rasionalitas cenderung tidak bekerja dengan baik. Yang lebih banyak berperan adalah emosi, khususnya yang negatif: Takut atau panik.

Tulisan ini mengajak kita memahami pendekatan untuk mengatasinya, secara taktis maupun strategis.

Salah satunya, melalui perencanaan atau simulasi mental.