Syarat Terpenting Menjadi “Problem-Solver” yang Efektif

Photo by Pixabay

Di sebuah forum yang diselenggarakan di Istana Kepresidenan sekitar tahun 2018, perwakilan dari Google Indonesia menjelaskan tentang perubahan kebijakannya yang cukup revolusioner dalam melakukan seleksi terhadap calon tenaga profesionalnya.

“Kami tidak perlu lagi melihat ijazah dan latar belakang pendidikannya. Yang penting mereka memiliki 3 kualitas utama yang dibutuhkan: adaptive, re-skilling dan problem-solver.”

Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah iklan lowongan pekerjaan di Google yang membutuhkan kualifikasi pendidikan doktoral.

Hmmmm…

Lepas dari konsekuen atau tidak, apa yang disampaikannya memang sejalan dengan fenomena disrupsi yang sekarang sedang terjadi di berbagai sektor. Perubahan yang terjadi dengan cepat dan “disruptif” secara natural akan mendatangkan berbagai tantangan atau masalah – yang dengan sendirinya membutuhkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Future Jobs Report 2018 yang dirilis World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa sejumlah keterampilan baru (emerging skill) yang dibutuhkan di masa depan terkait erat dengan kemampuan menghadapi berbagai tantangan baru, yaitu:

Analytical thinking and innovation; Creativity, originality, and initiative; Active learning and learning strategies; Technology design and programming; Reasoning, problem-solving and ideation; Leadership and social influence; Critical thinking and analysis; Complex problem solving; Resilience, stress tolerance and flexibility; Emotional intelligence.

Pertanyaannya, bagaimana cara menjadi problem-solver yang baik?

Jawabnya mudah: pahamilah masalah yang dihadapi dengan baik.

Tapi tunggu dulu… Apakah kita sudah terbiasa memahami masalah dengan baik?

Dalam berbagai kesempatan, dengan konteks yang berbeda-beda, kita menyaksikan banyak orang sering “berkampanye” dan “menawarkan solusi” terhadap suatu hal tanpa menjelaskan masalah apa yang mau dia selesaikan. Entah karena dia lupa atau enggan menjelaskan, atau karena memang tidak tahu masalahnya.

Misalnya, yang satu bilang bahwa banjir mesti diselesaikan dengan cara normalisasi. Yang lain bilang dengan cara naturalisasi. Mungkin nanti ada yang bilang indoktrinasi. Lalu, semua orang pun jadi pakar, membela pandangan jagoannya masing-masing.

Ruang publik jadi riuh-rendah.

Namun, yang hilang, tenggelam dan hanyut terbawa banjir perdebatan ini adalah penjelasan atau studi tentang di mana akar masalah dari banjir yang terjadi. Di hulu, di hilir atau karena sesuatu yang baru seperti perubahan iklim?

Kita seperti dokter tempo dulu. Memberikan obat (itupun dengan resep yang sulit terbaca, tapi dengan angka rupiah yang jelas) tanpa menjelaskan mengapa obat itu yang diberikan dan bukan yang lain. Kadang-kadang hasil diagnosanya pun tidak diberitahu.

Tak jauh beda dengan dukun.

Saat ini pun masih ada saja dukun-dukun modern. Tapi, untungnya, mudah saja mencari informasi tentang berbagai jenis obat dengan nama-nama tersulit sekalipun melalui internet.

Cannabis sativa? Obat sakit kepala. Cobalah cek sendiri.

Berbagai produk perundang-undangan dan peraturan meskipun memiliki tujuan baik, jika dikeluarkan tanpa penjelasan memadai tentang “masalah apa yang hendak diselesaikan” melalui produk hukum tersebut, dengan mudah bisa memunculkan kesalahpahaman atau antipati.

Di dalam organisasi pun demikian. Pemahaman terhadap poblem statement adalah kunci. Sebuah organisasi harus memahami tantangan atau masalah yang dihadapinya. Jika tidak, organisasi tersebut akan gagal membuat program yang relevan.

Sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang pelayanan terhadap warga negara senior misalnya, perlu mengetahui apakah pelayanan mereka sudah optimal atau belum? Apakah fasilitas yang diberikan sudah memadai, dan seterusnya.

Program yayasan tersebut seyogyanya menjawab masalah-masalah yang muncul atau yang dirasakan para pihak yang dilayaninya serta pemangku kepentingannya yang terkait.

Dan jangan khawatir tidak akan menemukan masalah. Masalah selalu ada selama kita hidup di dunia. Jika kita benar-benar merasa tidak ada lagi masalah, besar kemungkinan masalahnya adalah diri kita sendiri.

Hati-hati dengan organisasi yang tidak menunjukkan perbedaan pendapat. Itu bisa jadi pertanda bahwa para anggota tidak merasa bebas atau berguna untuk mengungkapkan pendapatnya. Itu jelas sebuah masalah.

Hati-hati dengan organisasi yang tidak ada regenerasi – tapi juga hati-hati dengan organisasi yang tidak menampung orang-orang berpengalaman. Hati-hati dengan organisasi yang tidak punya uang – tapi juga hati-hati dengan organisasi yang kebanyakan uang.

Semakin kita berkembang, masalah baru akan muncul. Inilah yang harus terus-menerus dievaluasi dan dicarikan jalan keluarnya. Dengan cara itu, organisasi akan terus relevan dan maju seiring jaman.

Banyak cara untuk mengenali masalah organisasi. Bisa dengan memberikan kesempatan berbicara orang-orang yang tidak pernah berbicara. Bisa dengan lokakarya untuk menganalisis berbagai pemangku kepentingan. Bisa juga dengan melakukan survei, atau riset, jika memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu.

Sekarang ini adalah era data, dan bahkan big data. Ini pun harus dilihat sebagai peluang untuk lebih memahami “masalah”. Sehingga kita bisa memenangkan persaingan.

Design Thinking, sebagai sebuah metode yang banyak digunakan oleh berbagai perusahaan digital untuk melahirkan berbagai produk inovatif, mengedepankan kemampuan untuk membaca “masalah”.

Dalam metode ini, sebelum melakukan desain, hal pertama yang perlu dipahami adalah Emphatize dan Define – tahap untuk memahami pengalaman, emosi dan situasi pengguna serta mendefinisikan kebutuhannya.

Bila “masalah pengguna” sudah diketahui, baru dilanjutkan dengan solusi desain yang relevan, yaitu melalui proses Ideate, Prototype dan Test.

Mau buat proposal yang menarik? Sama saja. Mulailah dengan identifikasi masalah yang hendak djiawab dengan program yang akan Anda usulkan.

Ada memang metode membuat program dengan mengandalkan “kekuatan” yang dimiliki organisasi. Alasannya, fokus pada masalah cenderung membuat kita menjadi negatif atau pesimis. Ya mungkin itu berlaku pada mereka yang terlalu berlarut-larut membicarakan masalah.

Dalam pendekatan problem-solver, justru sebaliknya. Masalah diakui ada, lalu diubah atau diperbaiki. Tak mengakui adanya masalah bisa membuat kita tidak realistik. Tidak relevan.

Pengalaman saya membuktikan ampuhnya pendekatan ini.

Suatu ketika, di awal tahun 2019, saya hendak ke Hong Kong untuk membicarakan sebuah hal penting dengan organisasi buruh migran di sana. Pengajuan perjalanan dinas sudah dilakukan, tapi entah kenapa persetujuan tertulis dari Kepala Staf Kepresidenan tak kunjung turun.

Sehari sebelum tenggat waktu yang ditetapkan, kebetulan saya mengikuti rapat pimpinan. Seusai rapat, dalam waktu kurang dari semenit saya langsung melakukan persuasi dan menjelaskan problem statement.

“Pak Kastaf (Kepala Staf Kepresidenan), Hong Kong sedang ada masalah. Saya diundang ke sana untuk membicarakan masalah tersebut,” kata saya to the point. Respon Pak Kastaf singkat, “Berangkat!” Beberapa menit kemudian, persetujuan sudah beliau tandatangani.

Belakangan saya baru menyadari, surat pengajuan perjalanan dinas yang dibuatkan oleh staf administratif kurang mengangkat soal problem statement.

Dalam kehidupan sehari-hari identifikasi masalah sangat penting. Ketika diminta memberikan arahan atau berbicara di depan publik secara tiba-tiba, tanpa teks, saya akan mulai dengan mengidentifikasi masalah apa yang terkait dengan topik yang sedang dibicarakan.

Struktur pembicaraan saya kira-kira akan terdiri dari: (1) masalah/tantangan yang dihadapi, (2) pilihan atau usulan solusi yang sebaiknya diambil, (3) langkah-langkah menjalankannya, dan jika masih dirasa perlu (4) hasil yang diharapkan terjadi – lihat juga tulisan saya yang lain tentang cara kerja kerja otak untuk mengetahui mengapa jumlah empat poin adalah yang paling ideal dalam menyampaikan gagasan.

Saya percaya, kemampuan memahami masalah, berkontribusi lebih dari 50% dalam penyelesaian masalah. Sisanya adalah metode, kemampuan eksekusi dan nasib baik.

Masih merasa tidak punya masalah? Enampuluh lima juta tahun lalu, dinosaurus yang sedang jadi penguasa bumi mungkin juga begitu.

Tahu-tahu asteroids datang menghabisi mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s