Blue Ocean Strategy, Black Swan & Upaya Mencari Rumus Berpikir Di Luar Kotak

Dari masa ke masa, inovasi selalu muncul dan menyebabkan kesuksesan yang fenomenal dari para inovator. Sabermetrik misalnya, adalah “game changer” yang menjadikan Oakland Athletics sebagai klub bisbol dengan rekor kemenangan terbanyak di Amerika Serikat pada tahun 2002.

Dalam pengamatan dua profesor asal INSEAD, W. Chan Kim dan Renée Mauborgne pendekatan di luar kotak seperti ini, tak hanya terjadi dalam dunia olahraga, tapi dalam berbagai sektor lain. Dalam penelitiannya, sudah banyak perusahaan yang sukses karena menerapkan “Blue Ocean Strategy” (2004).

Intinya adalah melepaskan diri dari pasar yang sempit dan menciptakan “permintaan” baru, sehingga kompetisi menjadi tidak relevan. Pertanyaannya, adakah cara praktis untuk menerapkan pendekatan di luar kotak ini? Benarkah tudingan para pengkritik bahwa pendekatan ini hanya mampu membuat deskripsi tapi tak cukup untuk menjadi preskripsi?

Pendekatan “Yin-Yang” dalam Menyusun Visi yang Efektif

Tak dapat disangkal bahwa keberhasilan sebuah organisasi – perusahaan hingga negara – sangat ditentukan oleh kerja keras dan kerja cerdas seluruh komponen pendukungnya. Namun, visi yang jelas, ternyata tak kalah pentingnya.

Sebuah studi yang dilakukan atas perusahaan-perusahaan paling sukses di lantai bursa sejak 1925, menunjukkan betapa vital peran visi yang efektif dalam keberlanjutan organisasi perusahaan.

Tulisan ini menjelaskan dua aspek penting dalam penyusunan visi yang efektif: “Core ideology” atau ideologi inti dan “envisioned future” atau masa depan yang dikehendaki. Pelajari bagaimana perusahaan elektronika asal Jepang, Sony, menyusun visinya.

Bagaimana Mempresentasikan Gagasan Secara Efektif Tanpa Bergantung Pada PPT?

Perangkat lunak Microsof PowerPoint (PPT) dan sejenisnya, dikembangkan untuk memudahkan kita mempresentasikan gagasan atau ide. Nyatanya, banyak yang menggunakannya secara berlebihan – dengan menumpukkan berbagai diagram dan data – dan melupakan fungsi asalinya.

Padahal, menurut Douglas Kruger, pemegang rekor 5 kali juara Southern African Championships for Public Speaking, tujuan presentasi adalah menyampaikan pesan bukan fakta. “Pernahkah Anda membayangkan Winston Churchill atau Barack Obama meyakinkan orang lain dengan menggunakan PowerPoint?” tanya Kruger.

Tulisan ini hendak menyarikan seni menyampaikan “pesan inti” secara efektif, dengan atau tanpa PPT. Simak pula apa kata Cicero, filsuf dan orator ulung Romawi kuno, kalau hendak mengembangkan bakat menjadi pembicara profesional.

Socrates: Hidup Yang Tak Teruji Tak Layak Dijalani

Melalui Plato, kita mengenal sosok Socrates yang jenius dan superior dari sisi intelektual. Namun, melalui Xenophon, muridnya yang lain, Socrates tampil sebagai sosok yang bijaksana.

“Dialog-dialog Socratic” ia gunakan untuk mempersuasi, dan kadang-kadang memprovokasi, lawan bicaranya untuk memiliki pemahaman dan kesadaran baru. Lebih dari itu, Socrates mengajak kita untuk bangkit dan menjadi kuat – secara mental maupun intelektual.

Kehidupan yang layak diraih dengan bekerja keras. Hanya dengan begitu, kita sebagai individu maupun sebagai bangsa, bisa mencapai kemajuan. Socrates, seperti kata Profesor Michael Sugrue, adalah the living voice, walaupun sudah lebih dari dua milenia sejak kematiannya, seruannya masih relevan hingga hari ini.

Pemimpin-Fasilitator dan Seni Memimpin Orang-Orang Pintar

Selama puluhan tahun “Management Guru” Peter F. Drucker mengamati, masyarakat modern berkembang cepat menuju knowledge society (masyarakat berpengetahuan) yang didahului lahirnya knowledge worker (pekerja berpengetahuan).

Butuh konsep kepemimpinan baru untuk mengelola kelas pekerja dan masyarakat baru ini. Bos “serba tahu” tidak lagi relevan. Yang dibutuhkan adalah “pemimpin-fasilitator” untuk mengelola “aset pengetahuan dan kemampuan” seluruh timnya secara kolegial.

Tulisan ini memberikan sejumlah prinsip dan tips yang diperlukan untuk memfasilitasi secara efektif – agar “orang-orang pintar” mau bekerjasama mencapai tujuan bersama organisasi.

Tawar-Menawar Tanpa “Baper” Ala Mantan Negosiator Pembebasan Sandera FBI (Seni Mengambil Keputusan II)

Ilmu negosiasi yang berkembang sejak awal 1980-an – dipelopori oleh Harvard Negotiation Project – sangat dipengaruhi pandangan tentang rasionalitas manusia dan “game theory” yang saat itu adalah primadona.

Namun, setelah sejumlah kegagalan akibat peristiwa penculikan dari orang-orang dengan masalah mental-emosional, FBI mengembangkan pendekatan sendiri yang lebih empatik.

Chris Voss, negosiator FBI dengan pengalaman lebih dari dua dekade, menjelaskan prinsip-prinsipnya – yang berbasis pada pendekatan berpikir “cepat dan lambat” dari Daniel Kahneman. Lalu melengkapinya dengan jurus-jurus praktis yang telah teruji.

Belajar Kepemimpinan dari Epictetus IV: Membaca Enchiridion (34-53) – Selesai

Jarang-jarang ada buku filsafat dalam bentuk “pedoman praktis” seperti Enchiridion – yang artinya memang buku pedoman.

Beruntung Arrian, murid Epictetus menyajikannya untuk kita dan terbukti mampu menginspirasi banyak pemimpin dunia,

Seperti halnya pedoman atau manual lain yang ada – misalnya manual menyetir mobil – Anda tidak akan bisa menguasai keahlian yang diajarkan dalam sebuah manual hanya dengan membacanya. Praktek tetap harus dilakukan.

Belajar Kepemimpinan dari Epictetus III: Membaca Enchiridion (22-33)

Jarang-jarang ada buku filsafat dalam bentuk “pedoman praktis” seperti Enchiridion – yang artinya memang buku pedoman.

Beruntung Arrian, murid Epictetus menyajikannya untuk kita dan terbukti mampu menginspirasi banyak pemimpin dunia,

Seperti halnya pedoman atau manual lain yang ada – misalnya manual menyetir mobil – Anda tidak akan bisa menguasai keahlian yang diajarkan dalam sebuah manual hanya dengan membacanya. Praktek tetap harus dilakukan.

Belajar Kepemimpinan dari Epictetus: “Budak” Paling Berpengaruh di Dunia

Kebijaksanaan yang dibutuhkan oleh para pemimpin sejati, tidak bisa diperoleh secara instan. Mempelajarinya butuh proses panjang.

Salah satu pelajaran tersebut berasal dari Epictetus, seorang “budak” yang pandangannya telah mempengaruhi banyak tokoh dunia – mulai dari Kaisar Roma Marcus Aurelius, Descartes hingga para pemimpin politik seperti Thomas Jefferson dan Theodore Roosevelt.

Pelajaran Epictetus juga menjadi inspirasi bagi James B. Stockdale, pilot angkatan laut AS ketika ditahan dan disiksa selama 7 setengah tahun sebagai tahanan perang Vietnam (1965-1973).

Alat Tukar Komplementer Sebagai Solusi Krisis (III): Mengapa Mata Uang Konvensional “Gagal” Menciptakan Kesejahteraan?

Tak banyak yang menyadari bahwa mata uang konvensional yang kita kenal saat ini, memiliki kelemahan intrinsik yang disebabkan karena penggunaan bunga (interest).

Pertama, ia menciptakan kompetisi dan memunculkan pihak yang kalah.

Kedua, mendorong pertumbuhan tiada akhir dan mengancam kelangsungan planet bumi.

Ketiga, menyebabkan akumulasi dan ketimpangan sosial.

Bagaimana bisa? Simak penjelasannya di sini.