Dua Strategi Menciptakan Kesejahteraan Ala Daniel Kahneman

“Nila setitik rusak susu sebelanga.” Seseorang bisa saja menjalani hidup yang bahagia lebih dari separuh usianya. Namun karena satu peristiwa tragis, ia bisa merasa menderita hingga akhir hayatnya.

Fakta bahwa ia pernah menjalani durasi hidup bahagia yang lebih lama, mendadak terlupakan. Tapi, hal sebaliknya juga bisa terjadi: “kemarau setahun terhapus oleh hujan sehari.” Inilah yang disebut sebagai “tirani diri yang mengingat” (remembering self).

Tulisan ini mengupas pandangan Daniel Kahneman, satu-satunya psikolog peraih Nobel Ekonomi, tentang “dua macam diri manusia”, dan bagaimana menerjemahkan perspektif ini untuk menciptakan kesejahteraan dalam organisasi maupun negara.

Blue Ocean Strategy, Black Swan & Upaya Mencari Rumus Berpikir Di Luar Kotak

Dari masa ke masa, inovasi selalu muncul dan menyebabkan kesuksesan yang fenomenal dari para inovator. Sabermetrik misalnya, adalah “game changer” yang menjadikan Oakland Athletics sebagai klub bisbol dengan rekor kemenangan terbanyak di Amerika Serikat pada tahun 2002.

Dalam pengamatan dua profesor asal INSEAD, W. Chan Kim dan Renée Mauborgne pendekatan di luar kotak seperti ini, tak hanya terjadi dalam dunia olahraga, tapi dalam berbagai sektor lain. Dalam penelitiannya, sudah banyak perusahaan yang sukses karena menerapkan “Blue Ocean Strategy” (2004).

Intinya adalah melepaskan diri dari pasar yang sempit dan menciptakan “permintaan” baru, sehingga kompetisi menjadi tidak relevan. Pertanyaannya, adakah cara praktis untuk menerapkan pendekatan di luar kotak ini? Benarkah tudingan para pengkritik bahwa pendekatan ini hanya mampu membuat deskripsi tapi tak cukup untuk menjadi preskripsi?

Pendekatan “Yin-Yang” dalam Menyusun Visi yang Efektif

Tak dapat disangkal bahwa keberhasilan sebuah organisasi – perusahaan hingga negara – sangat ditentukan oleh kerja keras dan kerja cerdas seluruh komponen pendukungnya. Namun, visi yang jelas, ternyata tak kalah pentingnya.

Sebuah studi yang dilakukan atas perusahaan-perusahaan paling sukses di lantai bursa sejak 1925, menunjukkan betapa vital peran visi yang efektif dalam keberlanjutan organisasi perusahaan.

Tulisan ini menjelaskan dua aspek penting dalam penyusunan visi yang efektif: “Core ideology” atau ideologi inti dan “envisioned future” atau masa depan yang dikehendaki. Pelajari bagaimana perusahaan elektronika asal Jepang, Sony, menyusun visinya.

Cicero tentang Kepemimpinan dan Kenegarawanan

Anthony Everitt, penulis biografi Cicero, bilang bahwa pengaruh tokoh yang ia bukukan itu muncul lebih karena kehidupannya ketimbang pemikiran filosofinya. Tetapi, Cicero adalah orang yang menjalani dengan konsekuen apa yang ia tuliskan.

Sehingga, dengan membaca tulisan-tulisannya kita bisa memahami, pandangan serta pilihan tindakan, termasuk sikap kompromistis, yang ia ambil. Lebih dari itu, karya Cicero, sebagaimana orasinya, sangat menggugah. Hidup. Bukan sekedar bermain kata-kata.

Itu sebabnya ia mampu menyentuh hati dan pikiran para tokoh Pencerahan di abad ke-18 – seperti John Locke, David Hume, Montesquieu, dan Edmund Burke. Seperti kata sejarawan Tadeusz Zieliński, “Renaisans, di atas segalanya, adalah kebangkitan Cicero.”

Bagaimana Mempresentasikan Gagasan Secara Efektif Tanpa Bergantung Pada PPT?

Perangkat lunak Microsof PowerPoint (PPT) dan sejenisnya, dikembangkan untuk memudahkan kita mempresentasikan gagasan atau ide. Nyatanya, banyak yang menggunakannya secara berlebihan – dengan menumpukkan berbagai diagram dan data – dan melupakan fungsi asalinya.

Padahal, menurut Douglas Kruger, pemegang rekor 5 kali juara Southern African Championships for Public Speaking, tujuan presentasi adalah menyampaikan pesan bukan fakta. “Pernahkah Anda membayangkan Winston Churchill atau Barack Obama meyakinkan orang lain dengan menggunakan PowerPoint?” tanya Kruger.

Tulisan ini hendak menyarikan seni menyampaikan “pesan inti” secara efektif, dengan atau tanpa PPT. Simak pula apa kata Cicero, filsuf dan orator ulung Romawi kuno, kalau hendak mengembangkan bakat menjadi pembicara profesional.

Pemimpin-Fasilitator dan Seni Memimpin Orang-Orang Pintar

Selama puluhan tahun “Management Guru” Peter F. Drucker mengamati, masyarakat modern berkembang cepat menuju knowledge society (masyarakat berpengetahuan) yang didahului lahirnya knowledge worker (pekerja berpengetahuan).

Butuh konsep kepemimpinan baru untuk mengelola kelas pekerja dan masyarakat baru ini. Bos “serba tahu” tidak lagi relevan. Yang dibutuhkan adalah “pemimpin-fasilitator” untuk mengelola “aset pengetahuan dan kemampuan” seluruh timnya secara kolegial.

Tulisan ini memberikan sejumlah prinsip dan tips yang diperlukan untuk memfasilitasi secara efektif – agar “orang-orang pintar” mau bekerjasama mencapai tujuan bersama organisasi.

Jurgen Klopp dan “People Strategy”

Setelah menunggu selama 30 tahun, Liverpool kembali menjadi yang terbaik di Inggris. Hal ini melengkapi kesuksesan mereka secara finansial yang meningkat 122 persen (menjadi sekitar 1,9 milyar dolar AS) sejak 2015.

Terdapat sejumlah faktor yang bisa disebutkan sebagai penentu keberhasilan klub yang tahun lalu baru merebut tropi Liga Champions itu. Para pemain yang berbakat, fans yang luar biasa, manajemen yang modern, serta kultur yang telah terbangun selama puluhan tahun adalah beberapa di antaranya.

Namun faktor Jurgen Klopp, sebagai pelatih, tak pelak lagi merupakan salah satu yang terpenting.

Seneca, Nero dan Sulitnya Melahirkan “Pemimpin-Negarawan”

Ia mendidik Nero, hendak menjadikannya negarawan. Namun hidupnya justru harus ia akhiri atas perintah Nero.

Seneca, Sang Filsuf, memang gagal mengubah Nero, tapi ia berhasil membuktikan bahwa kebajikan dapat ditegakkan meskipun harus kehilangan nyawa.

Lewat “On Clemency” dan “On Tranquility of Mind” yang disarikan di sini, ia memprovokasi para calon pemimpin menjadi lebih kuat – menjadi robust.

Miyamoto Musashi: Dari “Jalan Pedang” Menuju “Jalan Kesendirian”

Melewati 61 pertarungan tanpa terkalahkan, Musashi adalah legenda yang terus menjadi inspirasi bagi bangsa Jepang dan banyak pengagumnya.

Dipengaruhi oleh Buddhisme Zen, Jalan Pedang yang dianutnya membuat Musashi terus berubah mengikuti ritme alam. Dari ahli pedang panjang, menjadi ahli pedang kayu (bokken).

Pada gilirannya, Jalan Pedang pun harus dilepaskannya agar memasuki Jalan Kesendirian. Tulisan ini menggali kedua Jalan tersebut bersumber dari 2 karya Musashi sendiri.

Tawar-Menawar Tanpa “Baper” Ala Mantan Negosiator Pembebasan Sandera FBI (Seni Mengambil Keputusan II)

Ilmu negosiasi yang berkembang sejak awal 1980-an – dipelopori oleh Harvard Negotiation Project – sangat dipengaruhi pandangan tentang rasionalitas manusia dan “game theory” yang saat itu adalah primadona.

Namun, setelah sejumlah kegagalan akibat peristiwa penculikan dari orang-orang dengan masalah mental-emosional, FBI mengembangkan pendekatan sendiri yang lebih empatik.

Chris Voss, negosiator FBI dengan pengalaman lebih dari dua dekade, menjelaskan prinsip-prinsipnya – yang berbasis pada pendekatan berpikir “cepat dan lambat” dari Daniel Kahneman. Lalu melengkapinya dengan jurus-jurus praktis yang telah teruji.