Mengerti Pondasi & Menavigasi Organisasi Di Kala Pandemi

Organisasi, sebagai wujud dari kolaborasi, adalah salah satu kunci utama kemajuan manusia modern. Bahkan, “kerjasama fleksibel dalam skala besar”, kata Yuval Noah Harari, “menyebabkan kita menjadi penguasa bumi.”

Apakah yang menjadi elemen-elemen utama dari sebuah organisasi yang efektif – mulai dari ruang lingkup terkecil, keluarga, hingga negara – yang tetap relevan dalam berbagai situasi? Lalu, bagaimana strategi sebuah organisasi ketika menghadapi krisis, terutama di era Pandemi seperti saat ini?

Kedua pertanyaan ini, bagi yang senang berorganisasi, sangat penting. Terutama, karena, kalau ingin manusia tetap jadi penguasa bumi, tentu kemampuan berorganisasinya pun harus makin mumpuni.

Faktanya banyak juga organisasi yang bubar akibat berkonflik atau berbagai alasan lain. Pengalaman dari masa lalu tentu harus menjadi pemandu dan pelajaran kita bersama. #YNWA 🙂

Kecil Itu Indah 2.0

Melalui “Small Is Beautiful: Economics as If People Mattered (1973)”, E.F. Schumacher menyampaikan gagasan yang romantiknya tentang ekonomi berskala kecil. Ia menyebutnya “Buddhist Economy”. Ekonomi yang memanusiakan manusia dan menolak keserakahan.

Buku yang dikelompokkan di antara 100 buku paling berpengaruh yang diterbitkan sejak Perang Dunia II ini, adalah antitesis terhadap “gigantisme”, dan globalisasi yang ditandai dengan kejayaan perusahaan-perusahaan lintas negara yang “super efisien”.

Hingga awal abad ke-21, gagasan Schumacher sepertinya akan tersingkir untuk selama-lamanya, sampai akhirnya sejumlah krisis – termasuk Pandemi Covid-19 – mulai menunjukkan kerapuhan berbagai perusahaan-perusahaan besar itu.

Sains, sebetulnya, telah menunjukkan pada kita bahwa sebuah sistem yang berkelanjutan tidak mungkin melulu mengandalkan pada efisiensi. Justru di saat krisis, usaha-usaha kecil yang “super resilien”, merupakan penyelamat dari keruntuhan sistem secara keseluruhan.

Inikah saatnya kebangkitan kembali gagasan Schumacher?

Harvard Business School tentang Manajemen Krisis Covid-19: “Tak Ada Jawaban Terbaik, Yang Ada Proses Terbaik”

“Krisis Covid-19 ini berada di luar kapasitas, sumber daya dan pengetahuan kita,” ungkap Profesor Dutch Leonard dan Profesor Bob Kaplan dalam kursus singkat tentang “Manajemen Krisis bagi Para Pemimpin” yang diselenggarakan Harvard Business School baru-baru ini.

Kita berada dalam situasi yang berubah dengan cepat, di bawah tekanan serta diliputi dengan ketakutan. “Inilah yang dinamakan krisis kepimpinan. Inilah yang disebut dengan the new normal (keadaan “normal” yang baru).”

Dalam situasi krisis yang belum pernah ada presedennya, tak ada jawaban pasti yang siap pakai dan dapat digunakan dalam berbagai situasi. “Yang dapat kami tawarkan adalah proses terbaik,” ungkap Profesor Leonard.

Proses dan langkah-langkah yang mereka tawarkan dapat dibaca dalam tulisan ini.

Pelajaran dari Marcus Aurelius dan Kaum Stoa Ketika Badai Krisis Tiba

Marcus Aurelius adalah Kaisar Roma legendaris yang dikenal karena kebijaksanaannya.

Di masa hidupnya, ia menghadapi berbagai krisis besar. Salah satunya Wabah Antoninus yang merenggut 5 juta jiwa bangsa Romawi.

Menghadapi krisis yang demikian ia menawarkan sebuah metode berpikir dan cara pandang yang menarik dan relevan untuk kita.

Cara pandangnya berakar dari Stoikisme, yang menempatkan kebajikan sebagai hal tertinggi yang harus dipraktekkan dalam segala situasi.

Covid-19 dan Bagaimana Seharusnya Menghadapi Ketakutan

Akibat Covid-19 pasar saham global mengalami minggu terburuk sejak krisis keuangan tahun 2008. Ini mencerminkan ketakutan yang meningkat terhadap bencana ekonomi.

Meskipun laporan Tim WHO yang diturunkan ke Cina menunjukkan bahwa angka pasien yang terkena penyakit ini terus menurun, namun fenomena ketakutan masih dominan mewarnai berbagai pembicaraan di ruang publik.

Apa yang perlu kita ketahui tentang ketakutan secara saintifik dan bagaimana sebaiknya menghadapinya, secara sosial maupun individual?