Dua Strategi Menciptakan Kesejahteraan Ala Daniel Kahneman

“Nila setitik rusak susu sebelanga.” Seseorang bisa saja menjalani hidup yang bahagia lebih dari separuh usianya. Namun karena satu peristiwa tragis, ia bisa merasa menderita hingga akhir hayatnya.

Fakta bahwa ia pernah menjalani durasi hidup bahagia yang lebih lama, mendadak terlupakan. Tapi, hal sebaliknya juga bisa terjadi: “kemarau setahun terhapus oleh hujan sehari.” Inilah yang disebut sebagai “tirani diri yang mengingat” (remembering self).

Tulisan ini mengupas pandangan Daniel Kahneman, satu-satunya psikolog peraih Nobel Ekonomi, tentang “dua macam diri manusia”, dan bagaimana menerjemahkan perspektif ini untuk menciptakan kesejahteraan dalam organisasi maupun negara.

Blue Ocean Strategy, Black Swan & Upaya Mencari Rumus Berpikir Di Luar Kotak

Dari masa ke masa, inovasi selalu muncul dan menyebabkan kesuksesan yang fenomenal dari para inovator. Sabermetrik misalnya, adalah “game changer” yang menjadikan Oakland Athletics sebagai klub bisbol dengan rekor kemenangan terbanyak di Amerika Serikat pada tahun 2002.

Dalam pengamatan dua profesor asal INSEAD, W. Chan Kim dan Renée Mauborgne pendekatan di luar kotak seperti ini, tak hanya terjadi dalam dunia olahraga, tapi dalam berbagai sektor lain. Dalam penelitiannya, sudah banyak perusahaan yang sukses karena menerapkan “Blue Ocean Strategy” (2004).

Intinya adalah melepaskan diri dari pasar yang sempit dan menciptakan “permintaan” baru, sehingga kompetisi menjadi tidak relevan. Pertanyaannya, adakah cara praktis untuk menerapkan pendekatan di luar kotak ini? Benarkah tudingan para pengkritik bahwa pendekatan ini hanya mampu membuat deskripsi tapi tak cukup untuk menjadi preskripsi?

Cicero tentang Kepemimpinan dan Kenegarawanan II (Selesai)

Upaya terakhir Cicero mempertahankan Republik Roma ia sampaikan dalam rangkaian 14 pidatonya di depan Senat antara tahun 44 hingga 43 SM, yang dikenal sebagai “Philippics” (ia menganalogikan pidatonya seperti yang disampaikan Demosthenes, negarawan Yunani kuno kepada Raja Philip II dari Macedonia).

Dengan segala upaya ia mencegah Mark Anthony, musuhnya sekaligus pendukung Julius Caesar yang sebelumnya terbunuh untuk berkuasa. Namun, ia sepertinya sudah menyadari akhir upayanya dan kemudian berpesan:

“Saya hanya menginginkan dua hal ini: Pertama, bahwa kematianku akan mengembalikan kebebasan rakyat Roma – para dewa tak bisa memberikan hadiah yang lebih besar daripada itu – dan; Kedua, bahwa setiap orang akan memperoleh penghargaan yang pantas baginya sebagaimana pengabdiannya untuk negeri ini.”

Kisah Kejatuhan dan Kebangkitan Kembali Cicero, Sang Penjaga Api Republik

Selama hampir 500 tahun, Republik Romawi mampu bertahan dari gejolak politik dan perang saudara yang terus menghampirinya. Namun menjelang dimulainya milenia baru ketika itu, situasinya berbeda.

Dua sahabat sejak remaja, mengambil posisi yang berseberangan: Julius Caesar, Sang Jenderal, percaya bahwa Republik yang penuh dengan check and balance yang tiada habisnya, tak mampu menciptakan pemerintahan yang efektif – ia sendiri yang memimpin perubahan itu.

Sebaliknya, Cicero, seorang filsuf dan politisi sipil, masih menaruh harapan yang besar pada Republik, dan melakukan semua yang ia bisa untuk menyelamatkannya. Keduanya, terbunuh. Namun gagasan mereka tetap “hidup” dalam waktu yang lama.

Kekaisaran Romawi yang dirintis Caesar bertahan selama satu setengah milenia. Sampai akhirnya lahir kembali negara-negara Republik modern yang kita kenal hingga hari ini. Sungguh tak ada yang baru di bawah matahari.

Seni Kepemimpinan Cyrus Yang Agung (Berdasarkan “Cyropaedia”, Karya Xenophon)

Jarang ada penakluk yang dihormati bahkan dicintai warga di negeri taklukannya. Namun catatan sejarah menunjukkan Cyrus Yang Agung, pendiri Kekaisaran Persia adalah sosok yang demikian.

“Cyrus Cilinder”, sebuah dokumen penaklukan Cyrus atas Babilonia, yang menunjukkan perlakuannya yang sangat manusiawi atas kota itu pun dianggap sebagai piagam hak asasi manusia yang pertama.

Karena pengaruh dan kebijaksanaanya, Xenophon, murid Socrates yang juga seorang panglima perang dan sejarawan, mengabadikan sepak terjang Cyrus dalam sebuah karya klasik tentang kepemimpinan: “Cyropaedia” – yang berarti pendidikan seorang Cyrus.

Michael E. Porter dan Strategi Memenangkan Persaingan (bagi Perusahaan dan Negara)

Dalam dunia strategi manajemen, hanya segelintir orang yang layak disebut sebagai “Guru”. Yang pertama, adalah “Management Guru”, Peter F Drucker. Yang kedua, adalah “Strategy Guru”, Michael E. Porter.

Drucker adalah orang yang berjasa memberikan pondasi bagi “intelektualisasi bisnis” yang berkembang sejak 1960-an. Sedangkan Porter memberikan pisau analisis sekaligus instrumen yang “powerful” bagi perusahaan untuk menjadi lebih kompetitif.

Tulisan ini membahas dua karya terpenting Porter, “The Five Competitive Forces That Shape Strategy” (1979) dan “The Competitive Advantage of Nations” (1990) – yang merupakan dasar pengembangan strategi dalam konteks perusahaan dan negara.

Pemimpin-Fasilitator dan Seni Memimpin Orang-Orang Pintar

Selama puluhan tahun “Management Guru” Peter F. Drucker mengamati, masyarakat modern berkembang cepat menuju knowledge society (masyarakat berpengetahuan) yang didahului lahirnya knowledge worker (pekerja berpengetahuan).

Butuh konsep kepemimpinan baru untuk mengelola kelas pekerja dan masyarakat baru ini. Bos “serba tahu” tidak lagi relevan. Yang dibutuhkan adalah “pemimpin-fasilitator” untuk mengelola “aset pengetahuan dan kemampuan” seluruh timnya secara kolegial.

Tulisan ini memberikan sejumlah prinsip dan tips yang diperlukan untuk memfasilitasi secara efektif – agar “orang-orang pintar” mau bekerjasama mencapai tujuan bersama organisasi.

Seneca tentang Singkatnya Kehidupan dan Bagaimana Menjalani Hidup Tanpa Bergantung pada Nasib

De Brevitate Vitae adalah karya yang wajib dibaca bagi siapapun yang hendak mengenal Seneca. Jika Anda tak berkesempatan membaca ratusan surat dan esainya yang lain, bacalah yang satu ini.

Bukan saja karena terdapat banyak kalimat “layak kutip”, tapi juga karena topik yang dibahas relevan untuk semua orang dengan berbagai latar belakang. Buat pemimpin, tapi juga buat awam.

Sebab, sekali atau mungkin beberapa kali, dalam hidup kita, kita pasti akan dihadapkan pada pertanyaan ini: “apakah kita telah menjalani hidup sebaik-baiknya?”

Seneca, Nero dan Sulitnya Melahirkan “Pemimpin-Negarawan”

Ia mendidik Nero, hendak menjadikannya negarawan. Namun hidupnya justru harus ia akhiri atas perintah Nero.

Seneca, Sang Filsuf, memang gagal mengubah Nero, tapi ia berhasil membuktikan bahwa kebajikan dapat ditegakkan meskipun harus kehilangan nyawa.

Lewat “On Clemency” dan “On Tranquility of Mind” yang disarikan di sini, ia memprovokasi para calon pemimpin menjadi lebih kuat – menjadi robust.

Tawar-Menawar Tanpa “Baper” Ala Mantan Negosiator Pembebasan Sandera FBI (Seni Mengambil Keputusan II)

Ilmu negosiasi yang berkembang sejak awal 1980-an – dipelopori oleh Harvard Negotiation Project – sangat dipengaruhi pandangan tentang rasionalitas manusia dan “game theory” yang saat itu adalah primadona.

Namun, setelah sejumlah kegagalan akibat peristiwa penculikan dari orang-orang dengan masalah mental-emosional, FBI mengembangkan pendekatan sendiri yang lebih empatik.

Chris Voss, negosiator FBI dengan pengalaman lebih dari dua dekade, menjelaskan prinsip-prinsipnya – yang berbasis pada pendekatan berpikir “cepat dan lambat” dari Daniel Kahneman. Lalu melengkapinya dengan jurus-jurus praktis yang telah teruji.