Alat Tukar Komplementer Sebagai Solusi Krisis (III): Mengapa Mata Uang Konvensional “Gagal” Menciptakan Kesejahteraan?

Tak banyak yang menyadari bahwa mata uang konvensional yang kita kenal saat ini, memiliki kelemahan intrinsik yang disebabkan karena penggunaan bunga (interest).

Pertama, ia menciptakan kompetisi dan memunculkan pihak yang kalah.

Kedua, mendorong pertumbuhan tiada akhir dan mengancam kelangsungan planet bumi.

Ketiga, menyebabkan akumulasi dan ketimpangan sosial.

Bagaimana bisa? Simak penjelasannya di sini.

Alat Tukar Komplementer Sebagai Solusi Krisis: Mempertimbangkan Kembali Gagasan “Di Luar Kotak” Mendiang Bernard Lietaer

Pada setiap krisis, sirkulasi mata uang menjadi tersendat dan menyebabkan berbagai persoalan sosial.

Solusi konvensional adalah dengan memompa anggaran terbatas melalui jaring pengaman sosial dan berbagai program afirmatif lainnya.

Bernard Lietaer, punya solusi yang tidak konvensional melalui alat tukar komplementer. Cara ini sudah terbukti sukses di berbagai negara dan sudah ada sekitar 4000-an jenis yang beroperasi.

Menurut mantan Trader Top Dunia versi Business Week ini, alat tukar komplementer tertua justru lahir di Bali.

Alat Tukar Komplementer Sebagai Solusi Krisis (II): Eksperimen Singkat Mata Uang Berbunga Negatif dari Sebuah Kota Kecil di Austria

Tahun 1932, ketika depresi besar sudah melanda dunia, Michael Unterguggenberger, Walikota Wörgl bereksperimen dengan mata uang komplementer.

Diberi nama “Stamp Scrip” mata uang itu berbunga negatif. Siapapun yang memegangnya terlalu lama justru akan merugi.

Tapi, dampaknya luar biasa. Stamp Scrip bersirkulasi dengan cepat, meningkatkan perdagangan dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

Sayang, eksperimennya tak bertahan lama. Diberangus Bank Sentral Austria. Kekacauan sosial pun melanda.

Kuasa dan Puasa

Dari Tolstoy Farm yang didirikannya di Afrika Selatan, di tahun 1920, Mahatma Gandhi bereksperimen dengan puasa.

Sebagai sarana pengendalian diri dan juga sebuah metode gerakan politik anti-kekerasan yang sangat ‘powerful’.

Dengan itu ia kemudian berperan penting dalam kemerdekaan bangsanya, dan dikenal sebagai Bapak Bangsa di India.

Entah kapan dan di mana persisnya bermula. Puasa, ternyata telah dikenal sejak dahulu kala di dalam setiap tradisi budaya dan agama.

Mereka umumnya percaya bahwa puasa dapat memberikan kekuatan bagi yang menjalankannya.

Semua Orang adalah VIP

Mendapatkan dukungan dari orang lain, adalah seni amat penting dan relevan di hampir semua bidang kehidupan. Tapi, tak semua orang mampu menguasainya.

Bakat? Tidak juga.

Tokoh sekaliber Abraham Lincoln sekalipun, harus mengalami pengalaman memalukan di awal karir politiknya – sebelum menyadari kekeliruannya, lalu mengubah pendekatannya.

Rahasianya sederhana: Perlakukan semua orang sebagai VIP!

Bagaimana caranya? Itulah intisari dari sebuah buku jadul terbitan tahun 1936, yang oleh investor legendaris Warren Buffet, diakui telah berhasil mengubah hidupnya.

Mengubah Krisis Menjadi Peluang

“Ketika dituliskan dalam karakter China, kata ‘krisis’ terdiri dari dua bagian – yang satu mewakili bahaya, dan yang satu lagi mewakili kesempatan,” demikian ungkap Presiden AS John F. Kennedy dalam pidatonya di tahun 1959 yang sangat terkenal.

Ada banyak kisah bagaimana para tokoh dunia mengubah krisis menjadi peluang untuk berkembang dan berhasil.

Nelson Mandela melakukannya. Soekarno merenungkan Pancasila saat dibuang ke Ende. Pramoedya Ananta Toer menghasilkan karya monumental “Bumi Manusia” ketika berada dalam status tahanan di Pulau Buru.

Bagaimana mereka melakukannya? Kuncinya ada dalam pilihan, yang sebenarnya sudah tersedia dalam diri kita sendiri.

Diproteksi: NOL

Tidak ada kutipan karena ini adalah pos yang dilindungi password.

Harvard Business School tentang Manajemen Krisis Covid-19: “Tak Ada Jawaban Terbaik, Yang Ada Proses Terbaik”

“Krisis Covid-19 ini berada di luar kapasitas, sumber daya dan pengetahuan kita,” ungkap Profesor Dutch Leonard dan Profesor Bob Kaplan dalam kursus singkat tentang “Manajemen Krisis bagi Para Pemimpin” yang diselenggarakan Harvard Business School baru-baru ini.

Kita berada dalam situasi yang berubah dengan cepat, di bawah tekanan serta diliputi dengan ketakutan. “Inilah yang dinamakan krisis kepimpinan. Inilah yang disebut dengan the new normal (keadaan “normal” yang baru).”

Dalam situasi krisis yang belum pernah ada presedennya, tak ada jawaban pasti yang siap pakai dan dapat digunakan dalam berbagai situasi. “Yang dapat kami tawarkan adalah proses terbaik,” ungkap Profesor Leonard.

Proses dan langkah-langkah yang mereka tawarkan dapat dibaca dalam tulisan ini.

Bersyukur dan Melihat Kebaikan di Balik Setiap Situasi

Hidup sederhana dan menjalankan kebajikan itu bukan teori belaka. Saya beruntung menyaksikan contoh nyata di lingkungan keluarga terdekat saya.

Jauh sebelum saya belajar tentang psikologi, filsafat serta agama, ayah saya Johanes Albert Tuturoong (22 Februari 1942 – 3 November 2010) telah menjalani kehidupan yang sederhana. Sampai akhir hayatnya.

Sepengetahuan saya, ia tidak pernah belajar filsafat secara formal. Tapi, tiga prinsip dalam hidupnya adalah: menjunjung tinggi etika, selalu bersyukur dengan melihat kebaikan di balik setiap situasi, dan mengoptimalkan peluang apapun yang tersedia di hadapannya.

Pelajaran dari Marcus Aurelius dan Kaum Stoa Ketika Badai Krisis Tiba

Marcus Aurelius adalah Kaisar Roma legendaris yang dikenal karena kebijaksanaannya.

Di masa hidupnya, ia menghadapi berbagai krisis besar. Salah satunya Wabah Antoninus yang merenggut 5 juta jiwa bangsa Romawi.

Menghadapi krisis yang demikian ia menawarkan sebuah metode berpikir dan cara pandang yang menarik dan relevan untuk kita.

Cara pandangnya berakar dari Stoikisme, yang menempatkan kebajikan sebagai hal tertinggi yang harus dipraktekkan dalam segala situasi.