Seneca, Nero dan Sulitnya Melahirkan “Pemimpin-Negarawan”

Ia mendidik Nero, hendak menjadikannya negarawan. Namun hidupnya justru harus ia akhiri atas perintah Nero.

Seneca, Sang Filsuf, memang gagal mengubah Nero, tapi ia berhasil membuktikan bahwa kebajikan dapat ditegakkan meskipun harus kehilangan nyawa.

Lewat “On Clemency” dan “On Tranquility of Mind” yang disarikan di sini, ia memprovokasi para calon pemimpin menjadi lebih kuat – menjadi robust.

Miyamoto Musashi: Dari “Jalan Pedang” Menuju “Jalan Kesendirian”

Melewati 61 pertarungan tanpa terkalahkan, Musashi adalah legenda yang terus menjadi inspirasi bagi bangsa Jepang dan banyak pengagumnya.

Dipengaruhi oleh Buddhisme Zen, Jalan Pedang yang dianutnya membuat Musashi terus berubah mengikuti ritme alam. Dari ahli pedang panjang, menjadi ahli pedang kayu (bokken).

Pada gilirannya, Jalan Pedang pun harus dilepaskannya agar memasuki Jalan Kesendirian. Tulisan ini menggali kedua Jalan tersebut bersumber dari 2 karya Musashi sendiri.

Tawar-Menawar Tanpa “Baper” Ala Mantan Negosiator Pembebasan Sandera FBI (Seni Mengambil Keputusan II)

Ilmu negosiasi yang berkembang sejak awal 1980-an – dipelopori oleh Harvard Negotiation Project – sangat dipengaruhi pandangan tentang rasionalitas manusia dan “game theory” yang saat itu adalah primadona.

Namun, setelah sejumlah kegagalan akibat peristiwa penculikan dari orang-orang dengan masalah mental-emosional, FBI mengembangkan pendekatan sendiri yang lebih empatik.

Chris Voss, negosiator FBI dengan pengalaman lebih dari dua dekade, menjelaskan prinsip-prinsipnya – yang berbasis pada pendekatan berpikir “cepat dan lambat” dari Daniel Kahneman. Lalu melengkapinya dengan jurus-jurus praktis yang telah teruji.

Seni Mengambil Keputusan: Berguru Pada Daniel Kahneman, Satu-Satunya Psikolog Peraih Nobel Ekonomi

Banyak kemajuan manusia dihasilkan karena rasionalitas. Tapi studi tentang pengambilan keputusan di era modern menunjukkan bahwa rasionalitas murni itu ilusi.

Daniel Kahneman memperkenalkan dua sistem berpikir manusia – sistem cepat dan sistem lambat – yang kadang saling bekerjasama, kadang bertentangan dalam membuat keputusan.

Sederhana, namun berdampak luas dan dahsyat. Dihasilkan dari dedikasi di bidang penelitan selama lebih dari 60 tahun.

Memahaminya dapat membantu kita membuat kebijakan yang lebih baik, berkomunikasi lebih baik, bahkan bernegosiasi lebih baik.

Mengerti Pondasi & Menavigasi Organisasi Di Kala Pandemi

Organisasi, sebagai wujud dari kolaborasi, adalah salah satu kunci utama kemajuan manusia modern. Bahkan, “kerjasama fleksibel dalam skala besar”, kata Yuval Noah Harari, “menyebabkan kita menjadi penguasa bumi.”

Apakah yang menjadi elemen-elemen utama dari sebuah organisasi yang efektif – mulai dari ruang lingkup terkecil, keluarga, hingga negara – yang tetap relevan dalam berbagai situasi? Lalu, bagaimana strategi sebuah organisasi ketika menghadapi krisis, terutama di era Pandemi seperti saat ini?

Kedua pertanyaan ini, bagi yang senang berorganisasi, sangat penting. Terutama, karena, kalau ingin manusia tetap jadi penguasa bumi, tentu kemampuan berorganisasinya pun harus makin mumpuni.

Faktanya banyak juga organisasi yang bubar akibat berkonflik atau berbagai alasan lain. Pengalaman dari masa lalu tentu harus menjadi pemandu dan pelajaran kita bersama. #YNWA 🙂

Kecil Itu Indah 2.0

Melalui “Small Is Beautiful: Economics as If People Mattered (1973)”, E.F. Schumacher menyampaikan gagasan yang romantiknya tentang ekonomi berskala kecil. Ia menyebutnya “Buddhist Economy”. Ekonomi yang memanusiakan manusia dan menolak keserakahan.

Buku yang dikelompokkan di antara 100 buku paling berpengaruh yang diterbitkan sejak Perang Dunia II ini, adalah antitesis terhadap “gigantisme”, dan globalisasi yang ditandai dengan kejayaan perusahaan-perusahaan lintas negara yang “super efisien”.

Hingga awal abad ke-21, gagasan Schumacher sepertinya akan tersingkir untuk selama-lamanya, sampai akhirnya sejumlah krisis – termasuk Pandemi Covid-19 – mulai menunjukkan kerapuhan berbagai perusahaan-perusahaan besar itu.

Sains, sebetulnya, telah menunjukkan pada kita bahwa sebuah sistem yang berkelanjutan tidak mungkin melulu mengandalkan pada efisiensi. Justru di saat krisis, usaha-usaha kecil yang “super resilien”, merupakan penyelamat dari keruntuhan sistem secara keseluruhan.

Inikah saatnya kebangkitan kembali gagasan Schumacher?

Belajar Kepemimpinan dari Epictetus IV: Membaca Enchiridion (34-53) – Selesai

Jarang-jarang ada buku filsafat dalam bentuk “pedoman praktis” seperti Enchiridion – yang artinya memang buku pedoman.

Beruntung Arrian, murid Epictetus menyajikannya untuk kita dan terbukti mampu menginspirasi banyak pemimpin dunia,

Seperti halnya pedoman atau manual lain yang ada – misalnya manual menyetir mobil – Anda tidak akan bisa menguasai keahlian yang diajarkan dalam sebuah manual hanya dengan membacanya. Praktek tetap harus dilakukan.

Belajar Kepemimpinan dari Epictetus III: Membaca Enchiridion (22-33)

Jarang-jarang ada buku filsafat dalam bentuk “pedoman praktis” seperti Enchiridion – yang artinya memang buku pedoman.

Beruntung Arrian, murid Epictetus menyajikannya untuk kita dan terbukti mampu menginspirasi banyak pemimpin dunia,

Seperti halnya pedoman atau manual lain yang ada – misalnya manual menyetir mobil – Anda tidak akan bisa menguasai keahlian yang diajarkan dalam sebuah manual hanya dengan membacanya. Praktek tetap harus dilakukan.

Belajar Kepemimpinan dari Epictetus II: Membaca Enchiridion (1-21)

Jarang-jarang ada buku filsafat dalam bentuk “pedoman praktis” seperti Enchiridion – yang artinya memang buku pedoman.

Beruntung Arrian, murid Epictetus menyajikannya untuk kita dan terbukti mampu menginspirasi banyak pemimpin dunia,

Seperti halnya pedoman atau manual lain yang ada – misalnya manual menyetir mobil – Anda tidak akan bisa menguasai keahlian yang diajarkan dalam sebuah manual hanya dengan membacanya. Praktek tetap harus dilakukan.

Belajar Kepemimpinan dari Epictetus: “Budak” Paling Berpengaruh di Dunia

Kebijaksanaan yang dibutuhkan oleh para pemimpin sejati, tidak bisa diperoleh secara instan. Mempelajarinya butuh proses panjang.

Salah satu pelajaran tersebut berasal dari Epictetus, seorang “budak” yang pandangannya telah mempengaruhi banyak tokoh dunia – mulai dari Kaisar Roma Marcus Aurelius, Descartes hingga para pemimpin politik seperti Thomas Jefferson dan Theodore Roosevelt.

Pelajaran Epictetus juga menjadi inspirasi bagi James B. Stockdale, pilot angkatan laut AS ketika ditahan dan disiksa selama 7 setengah tahun sebagai tahanan perang Vietnam (1965-1973).