Semua Orang adalah VIP

Mendapatkan dukungan dari orang lain, adalah seni amat penting dan relevan di hampir semua bidang kehidupan. Tapi, tak semua orang mampu menguasainya.

Bakat? Tidak juga.

Tokoh sekaliber Abraham Lincoln sekalipun, harus mengalami pengalaman memalukan di awal karir politiknya – sebelum menyadari kekeliruannya, lalu mengubah pendekatannya.

Rahasianya sederhana: Perlakukan semua orang sebagai VIP!

Bagaimana caranya? Itulah intisari dari sebuah buku jadul terbitan tahun 1936, yang oleh investor legendaris Warren Buffet, diakui telah berhasil mengubah hidupnya.

Mengubah Krisis Menjadi Peluang

“Ketika dituliskan dalam karakter China, kata ‘krisis’ terdiri dari dua bagian – yang satu mewakili bahaya, dan yang satu lagi mewakili kesempatan,” demikian ungkap Presiden AS John F. Kennedy dalam pidatonya di tahun 1959 yang sangat terkenal.

Ada banyak kisah bagaimana para tokoh dunia mengubah krisis menjadi peluang untuk berkembang dan berhasil.

Nelson Mandela melakukannya. Soekarno merenungkan Pancasila saat dibuang ke Ende. Pramoedya Ananta Toer menghasilkan karya monumental “Bumi Manusia” ketika berada dalam status tahanan di Pulau Buru.

Bagaimana mereka melakukannya? Kuncinya ada dalam pilihan, yang sebenarnya sudah tersedia dalam diri kita sendiri.

Harvard Business School tentang Manajemen Krisis Covid-19: “Tak Ada Jawaban Terbaik, Yang Ada Proses Terbaik”

“Krisis Covid-19 ini berada di luar kapasitas, sumber daya dan pengetahuan kita,” ungkap Profesor Dutch Leonard dan Profesor Bob Kaplan dalam kursus singkat tentang “Manajemen Krisis bagi Para Pemimpin” yang diselenggarakan Harvard Business School baru-baru ini.

Kita berada dalam situasi yang berubah dengan cepat, di bawah tekanan serta diliputi dengan ketakutan. “Inilah yang dinamakan krisis kepimpinan. Inilah yang disebut dengan the new normal (keadaan “normal” yang baru).”

Dalam situasi krisis yang belum pernah ada presedennya, tak ada jawaban pasti yang siap pakai dan dapat digunakan dalam berbagai situasi. “Yang dapat kami tawarkan adalah proses terbaik,” ungkap Profesor Leonard.

Proses dan langkah-langkah yang mereka tawarkan dapat dibaca dalam tulisan ini.

Pelajaran dari Marcus Aurelius dan Kaum Stoa Ketika Badai Krisis Tiba

Marcus Aurelius adalah Kaisar Roma legendaris yang dikenal karena kebijaksanaannya.

Di masa hidupnya, ia menghadapi berbagai krisis besar. Salah satunya Wabah Antoninus yang merenggut 5 juta jiwa bangsa Romawi.

Menghadapi krisis yang demikian ia menawarkan sebuah metode berpikir dan cara pandang yang menarik dan relevan untuk kita.

Cara pandangnya berakar dari Stoikisme, yang menempatkan kebajikan sebagai hal tertinggi yang harus dipraktekkan dalam segala situasi.

Membangun Ketahanan Mental-Emosional Di Saat Krisis

“Logika membuatmu berpikir, emosi membuatmu bertindak,” kata Alan Weiss, konsultan senior ternama.

Dalam keadaan krisis, rasionalitas cenderung tidak bekerja dengan baik. Yang lebih banyak berperan adalah emosi, khususnya yang negatif: Takut atau panik.

Tulisan ini mengajak kita memahami pendekatan untuk mengatasinya, secara taktis maupun strategis.

Salah satunya, melalui perencanaan atau simulasi mental.

The Art of War: Membedah dan Mengadopsi 15 Elemen Strategi Sun Tzu

Banyak pihak menyebut The Art of War sebagai salah satu buku terpenting dalam hal strategi. Meskipun, sesungguhnya, tidaklah mudah menyarikan dan menyimpulkan karya klasik ini.

Sebabnya, buku yang terdiri dari 13 bab ini memang tidak ditulis dalam struktur dan sistematika yang mudah dipahami masyarakat modern.

Tulisan ini, adalah upaya membedah elemen-elemen strategi dalam The Art of War. Sehingga memudahkan pembaca untuk menerapkannya dalam konteks yang berbeda-beda. Berstrategi dalam kehidupan sehari-hari.

Covid-19 dan Bagaimana Seharusnya Menghadapi Ketakutan

Akibat Covid-19 pasar saham global mengalami minggu terburuk sejak krisis keuangan tahun 2008. Ini mencerminkan ketakutan yang meningkat terhadap bencana ekonomi.

Meskipun laporan Tim WHO yang diturunkan ke Cina menunjukkan bahwa angka pasien yang terkena penyakit ini terus menurun, namun fenomena ketakutan masih dominan mewarnai berbagai pembicaraan di ruang publik.

Apa yang perlu kita ketahui tentang ketakutan secara saintifik dan bagaimana sebaiknya menghadapinya, secara sosial maupun individual?

Mengapa Inkubasi Penting untuk Menciptakan SDM Unggul?

Duapuluhlima tahun dari sekarang, Indonesia akan mencapai 100 tahun kemerdekaannya di tahun 2045.

Apakah Indonesia akan menjadi Negara Maju atau tidak sangat ditentukan oleh apa yang dibangun dan dilakukan saat ini.

Bagi pemuda-pemudi yang saat ini berusia 20-an tahun, mereka kelak akan berada di usia matang dan memegang posisi-posisi kunci.

Namun, semua itu akan tergantung dari proses inkubasi semacam apa yang dilalui.

Bagaimana “Intelektualisasi Bisnis” Berperan dalam Kebangkitan dan Keterpurukan Korporasi Modern?

Kita mengetahui bahwa rasionalitas telah membangkitkan Eropa dari era kegelapan menuju era kejayaan. Namun, belum banyak yang membahas bagaimana “rasionalitas” telah menjadikan perusahaan-perusahaan kelas dunia melesat meninggalkan para kompetitornya, baik dari segi aset, penerimaan maupun pangsa pasar.

Wajar demikian, sebab “intelektualisasi bisnis” sesungguhnya merupakan fenomena yang relatif baru. Dimulai di tahun 1960-an, yang ditandai dengan munculnya sejumlah firma atau perusahaan-perusahaan konsultan ternama, seperti Boston Consulting Group (BCG), Bain & Company dan kemudian McKinsey…