Berorganisasi atau berkelompok itu penting agar apa yang kita lakukan lebih efektif, berdampak lebih besar.
Namun, jangan berhenti di situ. Pada saat yang sama, kemampuan dan kecerdasan anggota kelompok harus terus ditingkatkan…
we can be a better species
Berorganisasi atau berkelompok itu penting agar apa yang kita lakukan lebih efektif, berdampak lebih besar.
Namun, jangan berhenti di situ. Pada saat yang sama, kemampuan dan kecerdasan anggota kelompok harus terus ditingkatkan…
Apakah kita mau mengkonsumsi informasi apapun yang diberikan pada kita tanpa peduli agenda setting pihak tertentu yang mungkin sedang dijejalkan ke kepala kita?
Ataukah kita ingin membangun agenda setting kita sendiri?
Otak manusia memiliki aspirasi yang harus selalu kita perhatikan untuk berkomunikasi dan mengembangkan kepemimpinan yang efektif.
Apa saja aspirasi otak dan bagaimana memanfaatkannya? Ikuti penjelasannya di sini.
Mengapa kita perlu belajar membangun kekuatan dan mengelola kekuasaan?
Merupakan fakta bahwa hasrat manusia untuk berkuasa – dan mengalahkan yang lain – masih akan terus terjadi, maka suka atau tidak, kita semua akan dengan mudah terseret dalam pusaran atau lebih tepatnya “pertarungan” kekuatan.
Pemahaman mendasar tentang permainan kekuasaaan penting kita miliki, agar tidak menjadi obyek atau terinjak-injak para gajah yang sedang bertarung.
Selama ratusan tahun hingga abad XVIII perang seringkali dilakukan dengan tujuan untuk menghabisi lawan (annihilation).
Namun “Perang Tujuh Tahun” (1756-1763) yang legendaris menjadi salah satu pembuka mata bahwa perang tidak harus dilakukan dengan cara yang demikian.
Saat ini, era perang baru sudah terjadi. Mesin-mesin perang canggih menjadi sangat menakutkan dan efektif ketika berhadapan dengan musuh yang jelas posisi titik koordinatnya.
Tapi menghadapi musuh yang bergerak cepat di antara masyarakat sipil dan menyebarkan ide melalui internet ke ruang-ruang percakapan pribadi, alat-alat perang itu tak bisa berbuat apa-apa.
Inilah perang persepsi.
Perang untuk menguasai alam pikir sekelompok manusia yang dijadikan target untuk ditaklukkan.
Orang yang sangat fanatik akan selalu mencari pembenaran, meskipun sudah disodorkan bukti yang tak terbantahkan. Baca penjelasannya menurut Leon Festinger.
Psikolog dari Cornell University, Profesor David Dunning, menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak kompeten pada dasarnya tak mampu menilai kompetensi atau kualitas ide-ide orang lain. Ini menjelaskan mengapa demokrasi sulit menghasilkan pemimpin terbaik.
Mengenali cara kerja otak akan membuat kita lebih taktis dalam mengelola informasi yang kita terima setiap saat.
Buku berjudul “Your Brain At Work: Strategies for Overcoming Distraction, Regaining Focus, and Working Smarter All Day Long”, karya David Rock (2009) dapat menjadi rujukan yang saya referensikan. Penjelasan sederhana dari buku itu telah mengubah bagaimana saya menjadi “manajer” yang efektif bagi pikiran-pikiran saya sendiri.
Kehancuran massal yang terjadi sekitar 65 juta tahun yang lalu di planet bumi ternyata tidak benar-benar membuat punah dinosaurus.
Banjir informasi menyulitkan kita memilah mana yang benar dan yang salah. Dampaknya bagi organisasi tak bisa dianggap remeh. Bagaimana mitigasinya?