Plato, Negara yang Adil & “The Philosopher King”

Ditulis sekitar tahun 375 SM, “The Republic” karya Plato adalah salah satu hasil pemikiran filsafat dan teori politik yang paling besar pengaruhnya di dunia. Para tokoh dan pemikir terkemuka dari zaman Romawi kuno seperti Cicero hingga filsuf Inggris abad ke-20 Bertrand Russel dan Leo Strauss turut mengkaji buku ini secara mendalam.

Dalam dunia Islam, Ibnu Rushid (Averroes), pemikir asal Andalusia abad ke-12 yang menguasai berbagai bidang ilmu pun turut menuliskan komentarnya terhadap “The Republic”. Di tahun 2001, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Philosopher’s Magazine buku ini dinobatkan sebagai karya terbesar filsafat.

Ide mendasar buku ini adalah tentang keadilan dan bagaimana mewujudkannya. Bagi Plato, negara yang adil harus memiliki jiwa-jiwa yang adil pula. Bentuk negara bisa berubah, dan selalu berubah, jika berkaca pada sejarah. Apapun bentuk negaranya, Plato menganjurkan untuk selalu membangun pendidikan bagi para calon pemimpin agar ada yang dapat menjadi “The Philosopher King”.

Miyamoto Musashi: Dari “Jalan Pedang” Menuju “Jalan Kesendirian”

Melewati 61 pertarungan tanpa terkalahkan, Musashi adalah legenda yang terus menjadi inspirasi bagi bangsa Jepang dan banyak pengagumnya.

Dipengaruhi oleh Buddhisme Zen, Jalan Pedang yang dianutnya membuat Musashi terus berubah mengikuti ritme alam. Dari ahli pedang panjang, menjadi ahli pedang kayu (bokken).

Pada gilirannya, Jalan Pedang pun harus dilepaskannya agar memasuki Jalan Kesendirian. Tulisan ini menggali kedua Jalan tersebut bersumber dari 2 karya Musashi sendiri.

Kuasa dan Puasa

Dari Tolstoy Farm yang didirikannya di Afrika Selatan, di tahun 1920, Mahatma Gandhi bereksperimen dengan puasa.

Sebagai sarana pengendalian diri dan juga sebuah metode gerakan politik anti-kekerasan yang sangat ‘powerful’.

Dengan itu ia kemudian berperan penting dalam kemerdekaan bangsanya, dan dikenal sebagai Bapak Bangsa di India.

Entah kapan dan di mana persisnya bermula. Puasa, ternyata telah dikenal sejak dahulu kala di dalam setiap tradisi budaya dan agama.

Mereka umumnya percaya bahwa puasa dapat memberikan kekuatan bagi yang menjalankannya.

Diproteksi: NOL

Tidak ada kutipan karena ini adalah pos yang dilindungi password.