Waktu baca: 5 menit
Pada 2025 lalu, APEKSI, asosiasi pemerintah kota seluruh Indonesia, menggelar seminar ekonomi karbon untuk wilayah Kalimantan di Palangka Raya. Para wali kota se-Kalimantan hadir. Saya kebagian tugas sebagai moderator, dan saya mengusulkan agar Agus P. Sari diundang sebagai pembicara. Agus adalah salah satu ahli perubahan iklim terkemuka di negeri ini. Hingga 2007 ia menjadi penulis utama (lead author) di IPCC, panel antarpemerintah tentang perubahan iklim yang pada tahun itu menerima Hadiah Nobel Perdamaian.
Selepas acara, kami minum kopi di Resto Tjilik Riwut, rumah makan yang dikelola anak dan cucu Tjilik Riwut, pahlawan nasional asal Kasongan, Kalimantan Tengah. Obrolan bergeser ke teknologi penyedot karbon langsung dari udara, mesin mahal yang sedang ramai didanai para miliarder teknologi. Agus menanggapinya dengan tenang. Teknologi semacam itu, katanya, sebenarnya sudah lama ada. Ia bekerja dengan tenaga matahari, memperbanyak dirinya sendiri, tidak butuh listrik dan tidak butuh investor. Hasil sampingannya oksigen, air bersih, tanah subur, dan tempat berteduh.
Namanya pohon.
Jawaban itu terdengar sederhana. Tapi di baliknya ada hukum fisika yang menjelaskan banyak hal, dari hutan gambut di sekitar kota ini sampai cara kita mengatur uang dan kampung.
Kopi yang Selalu Mendingin
Pada 1850-an, fisikawan Jerman Rudolf Clausius merumuskan sesuatu yang sebenarnya kita alami setiap hari. Panas selalu berpindah dari benda yang panas ke benda yang dingin, tidak pernah sebaliknya. Kopi di meja pasti mendingin. Tidak ada kopi yang tiba-tiba mendidih lagi dengan sendirinya.
Clausius menyebut kecenderungan ini entropi. Hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa dalam sistem tertutup, entropi selalu bertambah. Bahasa sederhananya: segala sesuatu cenderung terurai. Meja kerja makin berantakan kalau tidak dirapikan. Rumah kosong lapuk. Tubuh menua.
Ini bukan sikap pesimistis. Ini hukum fisika.
Lalu Mengapa Ada Hutan?
Kalau semuanya cenderung terurai, mengapa bumi justru dipenuhi kehidupan yang rumit?
Pertanyaan ini dijawab fisikawan Austria Erwin Schrödinger dalam buku kecilnya, What Is Life?, terbitan 1944. Menurut Schrödinger, makhluk hidup bertahan dengan terus menyerap keteraturan dari luar: cahaya, makanan, udara. Keteraturan itu dipakai untuk membangun dan merawat tubuh. Sisanya dibuang kembali ke lingkungan sebagai panas dan limbah. Ia menyebut yang diserap itu entropi negatif, atau negentropi.
Pohon adalah contoh terbaiknya. Ia tidak melawan hukum fisika, tetapi memanfaatkannya: menangkap cahaya matahari, lalu mengubahnya menjadi kayu, daun, akar, dan buah, sekaligus menjadi tempat hidup bagi ribuan makhluk lain. Itulah yang dimaksud Agus. Pohon bukan teknologi kuno. Pohon adalah teknologi yang sudah disempurnakan selama ratusan juta tahun.
Dari sini saya merumuskan negentropi sebagai seni membangun sesuatu yang berharga di semesta yang selalu mengambilnya kembali.
Sepuluh Ribu Tahun, Habis dalam Satu Musim
Tak jauh dari Palangka Raya ada hutan rawa gambut Sebangau. Gambut terbentuk dari daun, ranting, dan akar yang tidak sempat membusuk karena terus terendam air. Di beberapa tempat tebalnya mencapai belasan meter, hasil penumpukan selama kira-kira sepuluh ribu tahun.
Jadi gambut bukan sekadar tanah. Ia adalah hasil kerja alam selama ribuan tahun yang tersimpan dalam satu lapisan.
Masalahnya datang ketika gambut dikeringkan. Kanal dibuat untuk perkebunan atau proyek lain, air mengalir keluar, dan gambut yang kering mudah terbakar. Kemarau tahun ini kita merasakan akibatnya: asap menyelimuti Kalimantan selama berbulan-bulan. Simpanan yang dibangun alam selama sepuluh ribu tahun bisa terlepas dalam satu musim.
Itulah entropi yang dipercepat oleh keputusan manusia.
Hutan atau Kanal?
Pola ini tidak hanya berlaku di hutan. Ekonomi kampung, sistem keuangan, organisasi, bahkan hubungan antarmanusia mengikuti hukum yang sama. Semuanya hanya bertahan kalau terus dirawat. Tanpa perawatan, semuanya bergerak ke arah yang sama: makin rapuh dan makin mudah runtuh.
Kabar buruknya, tidak ada sistem yang bisa berjalan sendiri tanpa dirawat. Kabar baiknya, setiap keputusan ikut menentukan arah. Cara kita mengelola koperasi, merancang kebijakan uang, mengatur lahan, atau mendidik anak bisa diuji dengan satu pertanyaan: apakah keputusan ini membangun, atau mengurai? Dengan kata lain, apakah ini hutan, atau kanal?
Pertanyaan itu akan menjadi pegangan kolom ini.
Tidak Ada yang Abadi
Perlu diakui juga, negentropi selalu sementara. Hutan pun suatu hari akan tumbang. Tidak ada yang bertahan selamanya.
Tapi itu bukan alasan untuk berhenti membangun. Lilin tetap berguna meski akhirnya padam. Yang menentukan adalah apa yang kita kerjakan selama ia menyala.
Saat itu di Palangka Raya, jawaban Agus tentang pohon terdengar seperti candaan. Belakangan saya menyadari bahwa jawaban itu memuat satu pelajaran penting. Sering kali tugas kita bukan menciptakan sesuatu yang baru dari nol, melainkan berhenti merusak apa yang sudah dibangun alam dengan susah payah.
Sungai akan selalu mengalir ke laut; itulah entropi. Tapi selama airnya dijaga, hutan di tepinya akan terus tumbuh.
Catatan Negentropi adalah kolom bulanan di blog ini tentang seni membangun di semesta yang selalu mengambil kembali: di hutan, di uang, di kampung, dan di dalam diri. Lima tulisan berikutnya: “Uang yang Menua”, “Siapa yang Minum Air Pertama”, “Dua Paru-paru”, “Huma Betang sebagai Arsitektur”, dan “Kampung sebagai Laboratorium”.