Selama sepekan pada pertengahan September lalu, api datang dua sampai tiga kali sehari ke tepi Tangkiling dan Sei Gohong. Dua kelurahan di Kecamatan Bukit Batu, Palangka Raya, ini berbatasan dengan Taman Nasional Sebangau. Kemarau El Niño 2026 membuat lapisan gambut tipis di sana kering seperti sabut.
Polanya cepat terbaca. Api kerap muncul menjelang magrib, lalu sekali lagi sekitar pukul dua atau tiga dini hari. Patroli warga pun menyesuaikan jam jaga. Pada satu malam, tiga titik menyala bersamaan di sepanjang jalan utama. Saya menduga sebagian berkaitan dengan pembukaan lahan, tetapi itu dugaan, bukan temuan.
Yang membekas bagi saya bukan apinya, melainkan orang-orangnya. Enam belas warga dari latar belakang yang beragam bergabung dalam satu regu: satpam, guru, anak-anak muda, hingga pemilik penginapan. Mereka berlatih memadamkan kebakaran di Muhammad Subuh Centre. Sebuah tangki air 2.200 liter dipasang di atas mobil bak pinjaman. Sumbangan tetangga membeli masker, obat-obatan dasar, dan sepatu bot untuk Masyarakat Peduli Api. Kesederhanaan ini memanggil lebih banyak nyali: makin banyak relawan yang berani turun. Di Tangkiling, dokter dan bidan yang tidak dibayar melayani 123 warga lewat posko kesehatan yang didukung PT Combiphar dan Yayasan Usaha Mulia.

Belakangan, titik api terdekat bergeser ke sekitar lima kilometer jauhnya. Barangkali cuaca ikut membantu. Namun pada 20 September, kebakaran di Kahui meluas hingga kira-kira 40 hektare. Memadamkan api seluas itu butuh selang paling sedikit 500 meter dan kerja bersama lintas instansi, perusahaan, dan komunitas. Itu di luar jangkauan regu kampung.

Dari pekan itu saya membawa pulang satu kalimat: komunitas bisa menjaga tepinya sendiri, tetapi tidak lebih jauh dari itu. Kalimat inilah yang memanggil saya kembali menulis.
Mengapa Halaman Ini Terdiam
Tulisan terakhir di blog ini terbit Oktober 2022, tentang Ray Dalio dan tatanan dunia yang sedang berganti. Sesudahnya sunyi. Waktu itu saya masih bekerja di Kantor Staf Presiden, tempat saya mengabdi sekitar sepuluh tahun hingga Oktober 2024. Waktu dan tenaga tersita habis di pusat pusaran kekuasaan, hingga kata-kata tak sempat lagi bertunas.
Setelah purnatugas, saya memilih pindah ke Kalimantan Tengah. Sejak Desember 2024 saya memimpin Yayasan Tambuhak Sinta (YTS), lembaga yang sejak 1997 mendampingi warga di 37 desa di Gunung Mas, Katingan, Pulang Pisau, dan Palangka Raya. Saya tinggal di Bukit Batu, tidak jauh dari tepi hutan yang terbakar itu.
Pertanyaan Lama, Laboratorium Baru
Pada Januari 2020, salah satu tulisan pertama di blog ini berjudul “Karena Kita Bukan Dinosaurus”. Isinya pertanyaan sederhana. Homo sapiens baru sekitar 200 ribu tahun menghuni bumi, sementara dinosaurus berkuasa 175 juta tahun sebelum musnah. Bisakah kita menjadi spesies yang lebih baik? Tagline blog ini, “we can be a better species”, lahir dari pertanyaan itu.
Dulu saya mencari jawabannya di buku: Seneca, Kahneman, Schumacher, Sun Tzu. Kini saya melihatnya diuji setiap hari di kampung. Ujiannya tidak berupa teori, melainkan keputusan kecil: siapa yang berjaga malam ini, dari mana uang untuk sepatu bot, kapan harus menelepon pemadam kebakaran karena api sudah terlalu besar.
Tiga Gagasan yang Ingin Saya Jelajahi
Pertama, peradaban negentropik. Dalam fisika, entropi adalah kecenderungan segala sesuatu untuk terurai: kopi panas mendingin, rumah kosong lapuk, hutan yang dikeringkan mudah terbakar. Kehidupan bergerak ke arah sebaliknya. Ia menyusun keteraturan dari cahaya matahari, air, dan tanah. Itulah negentropi. Pertanyaan saya: bisakah ekonomi dirancang seperti kehidupan, yang memulihkan dan bukan menguras? Pada 2020 saya menulis tentang Wörgl, kota kecil di Austria yang pada 1932 mencetak uang yang nilainya justru menyusut jika ditimbun, sehingga warga memilih membelanjakannya. Eksperimen itu hanya bertahan sekitar setahun, tetapi pertanyaannya masih hidup.
Kedua, ketahanan komunitas. Kampung yang bertahan menghadapi api, asap, dan pandemi umumnya tidak menang karena besar, melainkan karena erat. Cara kerjanya mirip miselium, jaringan halus jamur di bawah lantai hutan yang menyambungkan akar-akar pohon. Orang saling kenal, tahu siapa yang punya mobil bak, siapa yang bisa menjahit masker. Ini kelanjutan “Kecil Itu Indah 2.0”, tulisan saya tentang Schumacher pada Mei 2020. Bedanya, sekarang saya bisa menunjukkan contohnya.
Ketiga, komunitas sebagai penjaga alam. Konservasi sering dibayangkan sebagai pagar: kawasan ditetapkan, manusia dikeluarkan. Di Kalimantan, pagar tidak pernah cukup panjang. Yang menjaga tepi Sebangau pada September lalu bukan pagar, melainkan enam belas warga dengan satu tangki air.
Pertanyaan yang Paling Sulit
Semua itu masih kecil: enam belas orang, satu tangki, dua kelurahan. Pertanyaan yang paling sulit, dan yang ingin saya kejar di blog ini, adalah bagaimana yang kecil bisa menjadi besar.
Sejauh ini saya melihat empat jalur. Yang kecil bisa ditiru, ketika kampung tetangga mencontohnya. Ia bisa disambung, ketika inisiatif-inisiatif kecil membentuk jejaring, misalnya lewat koperasi. Ia bisa diadopsi, ketika pemerintah menjadikannya kebijakan. Ia juga bisa mengilhami, ketika ceritanya mengubah cara orang di tempat lain berpikir.
Pekan api di Bukit Batu juga memperlihatkan batasnya. Ada pekerjaan yang memang hanya bisa dilakukan negara, perusahaan, dan donor besar. Menjaga tepi adalah urusan kampung; merawat bentang alam butuh semua pihak.
Apa yang Akan Ada di Sini
Saya akan menulis tentang kepemimpinan dan organisasi, tentang kebijaksanaan lama yang masih berguna, tentang ekonomi yang memanusiakan, dan tentang catatan dari tepi hutan. Saya akan mencatat yang berhasil, juga yang gagal, karena justru di situ sebuah gagasan diuji. Saya belum tahu persis ke mana semua ini akan sampai. Yang saya tahu, pertanyaannya layak dikejar bersama pembaca.
Kalau Anda punya cerita serupa dari kampung atau kota Anda, saya ingin mendengarnya.
Malam-malam di bulan September itu, selepas magrib, regu relawan berangkat lagi dengan tangki 2.200 liter di bak mobil pinjaman. Mereka tidak sedang membangun peradaban. Mereka hanya menjaga segaris tepi kampungnya. Barangkali dari situlah peradaban dimulai: dari orang-orang yang memutuskan bahwa tepi itu tanggung jawab mereka.