Hidup Tanpa Visi, Ibarat Berlayar Tanpa Tujuan

Photo by Johannes Plenio from Pexels

Meskipun diberikan kapal dengan teknologi tercanggih, tanpa tujuan yang jelas semua sia-sia. Yang diuntungkan mungkin hanya si penjual kapal dan bagian pengadaan yang kongkalikong dengan si penjual.

Demikian peran visi bagi kita. Bagi kehidupan individual maupun kehidupan sosial, termasuk di dalam organisasi atau perusahaan.

Jika kemampuan otak mengolah dan mentransfer informasi adalah keunggulan yang membedakan manusia modern (homo sapiens) dengan hewan yang sama-sama menghuni planet bumi, maka visi adalah evolusi lebih lanjut dari kemampuan otak manusia.

Dalam sejarah pergerakan pemuda di Indonesia, saya menganggap bahwa generasi 1908 dan 1928 masihlah yang terhebat (meskipun saya sendiri tetap bangga dengan pencapaian kami di tahun 1998).

Mengapa demikian? Karena dua generasi di awal abad ke-20 tadi mampu berpikir jauh melampaui jamannya, yaitu Indonesia Merdeka yang menjadi kenyataan di tahun 1945. Itulah kekuatan visi.

Ada yang mungkin akan bilang, “yang penting adalah kerja keras dan perjuangan.”

Betul. Tapi tanpa visi, kita bisa saja kerja keras dan berjuang untuk kepentingan yang sempit dan sesaat. Untuk para dinosaurus modern, misalnya.

Merumuskan visi memang tak mudah, karena awalnya sangat abstrak. Berbeda dengan menganalisis atau mengkritik sesuatu yang sedang atau sudah terjadi (semua orang juga bisa), visi butuh imajinasi.

Menghadapi sesuatu yang abstrak dan baru butuh keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Oleh karena itu, perumusan visi memerlukan metode atau pendekatan. Visi yang baik adalah yang mudah dibayangkan dan diterima oleh semua pihak.

Bisa saja memulai visi dari sesuatu yang sangat abstrak. Namun, perlu proses lebih lanjut untuk menurunkannya menjadi sesuatu yang dianggap masuk akal oleh orang-orang lain yang hendak mewujudkannya secara partisipatif.

Dua pendekatan penting yang perlu dipertimbangkan dalam merumuskan visi adalah: (1) pelajaran-pelajaran penting di masa kini dan masa lalu atau lesson-learned, dan: (2) lingkungan strategis yang berubah.

Jika pemerintah ingin membangun sebuah ibukota negara (IKN) baru, misalnya, pelajaran-pelajaran apa yang perlu dijadikan pertimbangannya?

Kota tersebut harus bebas macet, harus memiliki air bersih, harus memiliki kecukupan energi, harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan, harus menciptakan inklusi sosial, harus ramah anak, harus dapat mengelola sampah sebaik-baiknya, dan seterusnya.

Ibukota baru juga harus mempertimbangkan perubahan iklim (climate change) yang mungkin akan berdampak pada kenaikan permukaan air laut di sekitarnya serta pertumbuhan penduduk yang akan menghuni ibukota baru dan sekitarnya.

Hasilnya mungkin adalah rumusan visi yang simpel: Kota modern atau kota pintar atau kota hijau. Bebas saja. Yang penting, karena disusun dalam sebuah proses partisipatif yang mempertimbangkan kedua pendekatan di atas, visi tersebut akan terasa nyata dan dapat dijangkau.

Di perusahaan dan di lingkungan administrasi pemerintahan, kedua pendekatan ini pun dapat diterapkan.

Lesson-learned: Bagaimana seharusnya kualifikasi dan jumlah SDM yang harus dimiliki? Bagaimana semestinya anggaran dikelola? Bagaimana sebaiknya struktur organisasi didesain? Bagaimana sebaiknya kewenangan dan fungsi dari tiap-tiap departemen atau unit?

Lingkungan strategis: Apa hal-hal eksternal atau tren yang harus dijadikan pertimbangan bagi organisasi? Kemajuan teknologi informasi? Kecenderungan generasi millenial yang menyukai experience dan tidak suka bekerja terlalu lama di satu tempat kerja? Dan seterusnya.

Pastilah tak ada visi yang sempurna. Sebab untuk menyempurnakannya, butuh proses bekerja dan belajar berulang-ulang. Namun, itu masih jauh lebih mudah dijalani ketimbang mengarungi lautan kehidupan tanpa tujuan.

Kecuali Anda, saat ini, sedang berlibur dengan yacht dan cuma ingin menikmati keluasan samudera. Hati-hati, mungkin ada dinosaurus yang menunggu terbangun di dasar laut sana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s